Langgar Kayu Butuh Perhatian Pemerintah Kota Surabaya

CB, SURABAYA – Anggota Komisi A DPRD Kota Surabaya Budi Leksono saat melakukan kunjungan ketempat ibadah yang dikenal dengan sebutan Langgar Kayu berdiri sejak tahun1893, namun belum sama sekali tersentuh oleh Pemerintah Kota Surabaya, hal ini membuat Budi Leksono untuk melakukan sidak di Peneleh Surabaya.

“Dari beberapa masukan warga yang saya terima, langgar kayu ini agar mendapat perhatian dari pemkot surabaya,” ujarnya, disela sela meninjau langgar bersejarah

Meski demikian, Pihaknya mengatakan, memang dibutuhkan beberapa kajian dalam hal bentuk cagar budaya, dan setidaknya bentuk opini, kalaupun ini kategori masuk dalam cagar budaya.

“Ini adalah tugas kita semua dalam hal melestarikan,” ujar Budi Leksono.

Menurut politisi PDIP ini, di daerah sini banyak sekali peninggalan – peninggalan, seperti kampung Soekarno, ada Mbah Panja dan makam-makam lainnya yang mungkin punya butuh kajian kajian

“Ini sebagai bentuk, bahwa di daerah ini banyak sekali cagar budaya yang memang butuh perhatian dari pemkot,” jelasnya.

Ditempat sama, Lurah Peneleh Surabaya Khusnul Amin sudah menyampaikan pada saat rapat pertemuan dengan Pemkot Surabaya, bahwa di daerah peneleh banyak sekali peninggalan-peninggalan yang belum terungkap.

 

 

“Seperti masa kecilnya Ir Soekarno, Usuf Amrinoto, Abdul Gani dan masa kecil Bung Tomo,” ujarnya.

Pihaknya mengatakan, dari hasil pertemuan tersebut, tim dari cagar budaya meluncur kesini menyaksikan, bahkan Prof Goun Silas yang mengatakan berupaya daerah peneleh masuk dalam kawasan cagar budaya.

“Daerah sini, peninggalannya lengkap, beda dengan daerah lain hanya bangunan rumah lawas,” katanya.

Pihaknya berharap agar daerah peneleh dijadikan kawasan wisata cagar budaya atau tempat bersejarah namun selanjutnya hanya tinggal menugggu hasil kunjungan dari tim cagar budaya.

“Semoga hasil kunjungan tim dari cagar budaya ini bisa menyampaikan ke pemkot sehingga daerah ini bisa masuk menjadi kawasan wisata cagar budaya,” Ujarnya.

Langgar kayu berdiri sejak tahun 1893 M di perkampungan jalan Lawang Seketeng Gang VI, RW XV,  Kelurahan Peneleh, Surabaya ini dinilai warga memiliki sejarah, namun belum mendapat perhatian dari Pemkot Surabaya.

Langgar Alawiyah atau Hidayah yang dikenal masyarakat setempat disebut Langgar Dhuwur atau langgar kayu merupakan tempat ibadah umat muslim.

“Langgar kayu ini berdiri sejak tahun 1893 bulan 1 Masehi sesuai tulisan prasasti yang ada diatas langgar ini,” Ujar Mahmud Wakil RW XV lawang Seketeng Kelurahan Peneleh Surabaya, kamis, (11/10/2018).

Ia mengatakan, di dalam langgar banyak ditemukan bukti benda peninggalan bersejarah seperti Al Qur”an bertulisan tangan bersampul kulit berlogo tulisan VOC di setiap lembar kertasnya.

“Selain itu, ada juga benda peninggalan lain seperti lumpang batu pada saat menggali langgar ini,” Katanya.

Bentuk bangunan langgar ini seluruhnya masih utuh (orsinil) terbuat dari kayu kuno, terbukti dengan adanya tempat imam masih berbentuk menggantung dan bersisik bangunannya.“Di ruang lantai bawah juga ada benda peninggalan berlogo seperti partai NU yang masih utuh nempel di dinding kayu langgar ini,”Ujarnya.

Langgar  kayu masih aktif berfungsi sebagai tempat ibadah umat muslim bahkan di bulan suci ramadhan banya warga sekitar sini melaksanakan ibadah di langgar ini.

“Sampai sekarang langgar kayu ini masih aktif berfungsi digunakan untuk ibadah sholat dan mengaji baca Al Qur”an,” Ujarnya.

Dengan adanya langgar kayu memiliki sejarah ini, semoga bisa mendapat perhatian dari Pemkot Surabaya atau Dinas terkait lainnya, selama ini biaya perawatan dibiayai oleh penghuni yang ada disini.

“Kalau ada perhatian silahkan nggak papa, asal jangan merubah bentuk bangunan maupun namanya, kalau langgar ya langgar kalau mushola ya mushola,” Katanya.(bolang).

 

Be Sociable, Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *