Perkuat Kemaritiman, Pemprov Jatim Kembangkan Pelayaran Pesisir Selatan

CB, SURABAYA – Pemerintah Provinsi Jawa Timur akan mengembangkan pelayaran di pesisir selatan Jatim. Salah satunya dengan membangun konektivitas tol laut dengan mendirikan pelabuhan perintis di wilayah Trenggalek, Pacitan, Tulungagung, Blitar, Malang, hingga Banyuwangi. Pembangunan teraebut diharapkan semakin memperkuat poros kemaritiman Jatim.

Ini menjadi langkah awal guna mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia, kata Wakil Gubernur Jatim, Emil Elestianto Dardak saat menghadiri Seminar Nasional Kemaritiman bertema “Pengembangan Sains dan Teknologi Kemaritiman untuk Pembangunan Berkelanjtuan” di Gedung Pusat Riset ITS Surabaya, Sabtu (23/2) siang.

Wagub Emil mengatakan, pengembangan pelayaran pesisir selatan tersebut akan mendatangkan berbagai manfaat positif. Salah satunya adalah untuk menarik para investor membangun akses transportasi laut agar mudah dijangkau, sehingga harga barang, biaya produksi dan distribusi jauh lebih efisien.

Dampaknya, perekonomian di pesisir selatan akan berkembang signifikan.

Kita harus jadi penggerak untuk mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim, hal itu hanya bisa dilakukan jika kita sudah memperkuat kawasan pesisir selatan, tegasnya sembari menambahkan, selain pelabuhan, juga diperlukan pembangunan bandara guna membuka peluang Trade, Tourism and Investment (TTI) bagi daerah pesisir selatan.

Ditambahkannya, saat menjadi Bupati Trenggalek, dirinya telah menjalin sinergi lintas daerah dengan sejumlah kepala daerah lainnya di D.I Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.

Sinergitas tersebut dilakukan untuk menyamakan persepsi dan memperkuat kerjasama perdagangan antar wilayah di selatan Jawa atau domestic south-south connectivity.

Hasilnya, lanjut Wagub Emil, pada Mei 2018 lalu telah diawali pengiriman 1.000 ton semen melalui kapal perintis dari Pelabuhan Cilacap ke Pelabuhan Banyuwangi. Kemudian, diakhir 2018, kapasitas pengirimannya meningkat 3 kali lipat, yakni lebih dari 3.000 ton dari rute yang sama.
Ini merupakan sejarah baru antara selatan dengan selatan, bahwa kita bisa melakukan trade, inilah orientasi pembangunan kemaritiman kita. pungkasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Rektor ITS, Joni Hermana mengatakan, seminar ini diharapkan menghasilkan masukan dan mengingatkan kembali, tentang pentingnya sektor maritim sebagai soko guru perekonomian bangsa. Sebab, potensi maritim Indonesia mencapai lebih dari USD 1,35 triliun, atau sekitar delapan kali pendapatan belanja negara.

Jadi sangat besar sekali, dan ini harus kita optimalkan secara benar. Apalagi, sejarah bangsa ini adalah bangsa maritim, katanya sembari menambahkan, sejarah tersebut menyebutkan bahwa armada kerajaan Sriwijaya dan Majapahit merupakan kekuatan laut terbesar di dunia pada masanya.

Sementara itu, Rektor ITB, Kadarsah Suryadi menambahkan, terdapat tiga potensi kemaritiman yang dapat dimanfaatkan bangsa Indonesia, yakni makanan (food), energy (energy), dan air (water). Berbicara makanan, tentu di laut kita memiliki banyak ikan, kemudian terkait energi, terdapat sumber daya alam penghasil energi, seperti gas dan minyak yang bisa diekspolrasi dari laut.

Terakhir adalah air, dimana kita bisa menjadikan air sebagai bahan bakar baru bernama fuel cell, yang merupakan bahan bakar hidrogen, ujarnya seraya mengimbuhkan, kedepan, negara yang maju dan kaya bukan lagi negara yang kaya minyak atau gas, tetapi kaya akan air, dan Indonesia adalah negara yang sangat kaya akan potensi airnya.

Ikut hadir dalam acara tersebut, Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto, para praktisi kemaritiman, para civitas akademika ITS, dan para peserta seminar dari BUMN, perusahaan yang bergerak di kemaritiman, dan para mahasiswa dari berbagai universitas di Surabay (yit)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *