Arumi Bachsin Terus Berkomitmen Perangi Sampah

CB, TRENGGALEK – Ketua TP PKK Prov. Jatim, Arumi Bachsin terus menyampaikan komitmennya untuk senantiasa memberantas sampah di Jawa Timur. Komitmen tersebut disampaikan karena dirinya tidak menampik kalau jumlahnya cukup besar, baik sampah plastik maupun sampah rumah tangga.

“Melihat itu PKK berkomitmen harus menjadi yang terdepan dalam memerangi sampah melalui edukasi dan implementasi di setiap kegiatan kemasyarakatan,” ujar Arumi Bachsin saat menghadiri Rapat Koordinasi, Konsultasi dan Silaturahmi Ketua TP PKK Prov. Jatim Koordinator TP PKK Bakorwil I Madiun dengan Ketua dan Pengurus TP PKK Kabupaten/Kota se Wilayah Bakorwil I Madiun bertemakan “Sosialisasi Program Khusus Stunting dan Penanganan Sampah atau Limbah Plastik di kabupaten/kota” di Pendopo Kab. Trenggalek, Selasa (9/4).

Ia mengatakan, sampah plastik selalu menjadi persoalan dan penyumbang sampah terbesar yang berasal dari sampah rumah tangga. Guna mengatasi persoalan tersebut, pihaknya meminta agar PKK yang ada di kecamatan hingga desa dapat menjadi motor dan panutan agar mampu memilah sampah sebelum ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

“Saya minta kepada Ketua PKK di kecamatan dan desa khususnya di Trenggalek bisa menjadi panutan agar mulai membiasakan memilah dan memanfaatkan sampah-sampah plastik dan rumah tangga,” terangnya.

Arumi sapaan akrabnya itu, mengapresiasi peran PKK Kab. Trenggalek yang sudah melakukan gerakan tidak menggunakan botol plastik di setiap kegiatan formal maupun informal.

Menurutnya, sampah plastik telah menjadi masalah dan menyebabkan kerusakan lingkungan paling parah. Disadari atau tidak, bahaya sampah plastik telah menyebabkan pemanasan global sehingga mengancam segala ekosistem di Bumi. Untuk itu, PKK bersama masyarakat harus mulai mengurangi penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari meskipun berat.

Masih menurut Arumi, Ibu Gubernur Jatim, di awal kepemimpinannya juga telah berkomitmen untuk menanggulangi dan ikut memerangi penggunaan sampah plastik maupun popok bayi. Bahkan, langkah tersebut diimplementasikan dengan bersih-bersih kali brantas yang ternyata banyak ekosistem ikan dan biota sungai yang tercemar akibat bahaya pampers bayi atau plastik.

“Kalau tidak segera kita jaga, bisa-bisa ikan yang kita konsumsi sehari hari mengandung banyak sampah sehingga anak dan generasi muda kita rentan sakit dan tidak sehat,” ujarnya.

Terkait Stunting, Dikatakan, bahwa masalah tersebut banyak terjadi akibat pola hidup yang kurang sehat, sehingga berdampak terhadap generasi anak. Permasalahan stunting tidak hanya melibatkan anak-anak, namun butuh peran serta atau kesadaran kepada perempuan untuk melakukan hidup sehat sebelum menikah dan memiliki anak.

Permasalahan stunting, menurutnya, adalah suatu kondisi kurang gizi yang kronis. Untuk itu, Arumi meminta kepada kabupaten/kota dapat memahami dan mencegah stunting yang dimulai dari pendataan, penyuluhan atau sosialisasi kepada masyarakat sehingga ada keterpaduan antara PKK dengan komponen pelayanan kesehatan.

“Stunting jika tidak segera di intervensi akan berdampak buruk bagi masa depan anak dan bangsa. Permasalahan ini menjadi tanggung jawab bersama yakni pemerintah provinsi, kabupaten/kota dan PKK,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua TP PKK Kab. Trenggalek Novita Hardini M. Nur Arifin mengatakan, bahwa di Kab. Trenggalek mulai Maret setiap kegiatan resmi maupun tidak resmi berkomitmen tidak menggunakan sajian air mineral berbahan plastik.

Bahkan, di setiap kegiatan yang dilakukan PKK Trenggalek agar menyediakan tumbler sebagai tempat minum dan selalu disediakan galon untuk air isi ulang.

“Kita harus sadar bahwa bumi saat ini banyak dipenuhi oleh sampah. Kondisi tersebut yang mengancam generasi muda kita. Ini harus tertanam dan jadi budaya baru. Dan menggugah kesadaran setiap masyarakat bahwa menjaga kelestarian bumi agar tetap terjaga dengan baik,” tegasnya.

Soal pernikahan dini, dirinya menilai dapat menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya permasalahan sosial. Maka, Pemkab Trenggalek melakukan pendampingan terhadap pernikahan dini dibawah umur.

“Pernikahan dini inilah yang bisa menjadi pintu masuk dari setiap permasalahan sosial  bagi terjadinya kemiskinan,” tutupnya. (YIT).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *