GEJAYAN

Beberapa hari terakhir ini perang medsos pecah antara pro dan kontra gerakan mahasiswa. Tagar #GejayanMemanggil menjadi trending topic yang kemudian diikuti oleh turunnya ribuan mahasiswa di berbagai kota di Indonesia.

Jalan Gejayan di Jogja dipilih sebagai meeting point untuk aktifis mahasiswa Jogja yang ingin turun berdemonstrasi. Gejayan adalah lokasi fisik bersejarah 20 tahun lebih yang lalu saat pecah gerakan reformasi 1998. Gejayan juga menjadi “lokasi virtual” di dunia maya yang menandai perang yang tak kalah seru dari perang di dunia nyata.

Gejayan bukan hanya simbol fisik tapi juga sekaligus simbol virtual. Gejayan akan dikenang sebagai meeting point fisik pada gerakan reformasi fisik 1998 sekaligus kali ini bisa menjadi ikon perlawanan virtual 2019 ini.

Segera setelah tagar #GejayanMemanggil viral muncul berbagai tagar tandingan. Perang digital tak terelakkan. Segera muncul tagar #MosiTidakPercaya dan muncul tagar tandingan #SayaBersamaJokowi.

Gerakan mahasiswa kali ini membawa dimensi baru yang sangat beda dengan gerakan reformasi 1998. Ketika itu gerakan dilakukan secara fisik dan komunikasi antar aktivis masih banyak dilakukan secara analog. Efek politiknya memang dahsyat karena berhasil memaksa Suharto menundurkan diri setelah 32 tahun  berkuasa.

Sekarang dimensi gerakan mahasiswa berbeda karena mobilisasi bisa dilakukan secara masif dan serentak melalui komunikasi digital. Proses mobilisasi dilakukan melalui medsos dan kemudian dilanjutkan dengan orkestrasi turun ke jalan secara fisik.

Inilah gejala yang oleh Manuel Castell (2001) disebut sebagai galaksi internet (The Internet Galaxy) dimana eksosistem masyakarat mengembang dari sebelumnya hanya ekosistem fisik menjadi ekosistem virtual. Efek jaringan (network effect) menjadi jauh lebih masif dan efektif karena semakin luasnya ekosistem digital sekarang ini.

Politik juga berubah dari partisipasi fisik menjadi partisipasi virtual. Kalau dulu warganegara menggunakan hak politik secara fisik sehingga lebih mudah terdeteksi. Sekarang para warganet cukup memainkan gajet untuk melakukan gerakan mosi tidak percaya lewat situs internet.

Anak-anak milenial yang semula dikritik karena dianggap sebagai generasi apolitik sekarang menunjukkan tajinya sebagai agent of change, agen perubahan. Dengan mobilisasi virtual yang masif mereka kemudian turun ke jalan melakukan orkestrasi untuk memprotes DPR yang dianggap tidak kompeten, dan pada akhirnya tuntutan mundur diarahkan kepada presiden.

Demokrasi sekarang berada di tangan warganet. Ketika partai politik menjadi tidak efektif karena dianggap sarat dengan kepentingan subjektif maka demokrasi warganet yang dipelopori mahasiswa menjadi alternatif. Partai politik terbukti tidak efektif dalam melakukan mobilisasi dan orkestrasi, maka muncullah aktivis politik warganet yang dipimpin mahasiswa sebagai pemecah kebuntuan.

Pola-pola penggalangan politik sudah sangat berubah. Tapi, reaksi yang diberikan oleh rezim penguasa terlihat masih standar-standar saja. Ketika rasa keadilan masyarakat terkoyak karena serangkaian undang-undang yang mengebiri demokrasi dan pemberantasan korupsi, rezim malah sibuk menuding dan mencari-cari kambing hitam, HTI, Taliban, kelompok radikal..

Beberapa hari kedepan akan menarik untuk dicermati apakah gerakan mobilisasi dan orkestrasi mahasiswa ini semakin masif atau akan kempes di tengah jalan seperti diprediksi beberapa orang yang skeptis. Tetapi, melihat gejala mobilisasi virtual yang makin masif sangat mungkin terjadi gerakan yang makin luas dan besar.

Apakah rezim ini akan menjadi korban revolusi politik digital tahun ini? You bet.

Penulis : Wartawan Senior Dhiman Abror Dan Penasehar Cahaya Baru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *