MEPVAGAMA : Aktualisasi diri dalam mengembangkan keilmuan dan diskursus penilaian

CB, Surabaya – Profesi Penilai adalah sebuah profesi yang lekat dengan banyak disiplin ilmu, seorang penilai dituntut untuk mengembangkan dirinya dengan mempelajari hal lain yang diluar dari pendidikannya selama S1 maupun S2. Sangat lazim bagi seorang penilai yang lulusan teknik sipil mau tidak mau harus mengetahui tentang makroekonomi seperti inflasi, pertumbuhan ekonomi, ekuilibrium dalam permintaan dan penawaran dan lain sebagainya. belum lagi jika seorang penilai yang bergelar sarjana teknik mendapatkan penugasan untuk melakukan penilaian perkebunan atau pertambangan. Sang penilai diharuskan memahami varietas tanaman hingga kualitas lahan dan berapa kapasitas produksinya jika yang dinilainya adalah perkebunan. Lain halnya dengan penilaian pertambangan, mengetahui proyeksi penerimaaan kotor/harga per ton bahan tambang yang akan datang serta biaya produksi per ton bahan tambang adalah sekelumit hal yang harus dipahami.

Meskipun bagi seorang penilai yang berlatar belakang sarjana ekonomi tidak diharuskan untuk memahami bagaimana cara menghitung momen, perletakan, pembebanan atau penggunaan material ketika dirinya menilai suatu high rise building namun tetap saja menghitung luasan, mengenali material yang digunakan hingga menentukan perkiraan volume masing-masing elemen bangunan haruslah dapat dikuasai.

MAPPI (Masyarakat Profesi Penilai Indonesia) sebuah asosiasi yang menaungi para penilai di Indonesia, rutin menyediakan pendidikan berjenjang, baik wajib maupun pendidikan lanjutan yang lebih spesifik dalam membahas suatu kasus dalam penilaian terkadang masih terkendala dalam “menyatukan” kompetensi para anggotanya yang berasal dari latar belakang berbeda-beda. Tidak hanya sarjana dari fakultas teknik dan ekonomi saja, banyak anggotanya yang aktif dalam proses penilaian baik sebagai asisten penilai, penilai lapangan, hingga penilai publik berasal dari seorang sarjana hukum, psikologi bahkan ada juga yang merupakan sarjana hukum islam.

Magister Ekonomika Pembangunan Universitas Gajah Mada yang memiliki Mata Kuliah Konsentrasi Manajemen Aset dan Penilaian Properti telah meluluskan banyak alumnus yang kini berprofesi sebagai seorang penilai dan tersebar di banyak KJPP (Kantor Jasa Penilai Publik). Para alumnus tersebut yang rata-rata tersebar di KJPP-KJPP yang ada di Jakarta sering berkumpul dan berdiskusi, yang awalnya topik bahasan berawal dari sharing keilmuan untuk persiapan ujian sertifikasi penilai publik yang diselenggarakan oleh MAPPI akhirnya berkembang menjadi sebuah gagasan untuk mendirikan sebuah kelompok yang dinamakan MEPVAGAMA (Magister Ekonomi Pembangunan Valuers Club Universitas Gajah Mada). Berawal dari ide dan inisiasi dari beberapa orang kini anggotanya tercatat mencapai lebih dari 80 orang, yang mana hingga berita ini dibuat jumlah tersebut masih memungkinkan untuk bertambah karena proses pendataan alumnus maupun calon alumnus masih berjalan

Sabtu, 30 November 2019 bertempat di Grand Sahid Jaya akhirnya MEPVAGAMA melakukan deklarasi sekaligus pengesahan yang dihadiri oleh kalangan akademisi UGM hingga professional yang bergelut di bidang penilaian maupun pengurus pusat dari MAPPI. Tercatat acara tersebut dihadiri oleh Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Eko Suwardi, M.Sc.,Ph.D, Sekretaris Program Studi Bidang Umum, SDM dan Keuangan Magister Ekonomika Pembangunan Wakhid Slamet Ciptono, MBA., Ph.D., Ir. Muhammad Amin, M.Sc, MAPPI (Cert.) dari kalangan professional yang juga pimpinan rekan dari KJPP Amin, Nirwan, Alfiantori, Ir. Budi Prasodjo, M.Ec.Dev. MAPPI (Cert.) Wakil Ketua umum 2 MAPPI dan beberapa penilai senior lainnya yang merupakan alumnus maupun yang menjadi dosen luar biasa di program studi tersebut.

Dalam sambutannya, Ketua MEPVAGAMA, Dedi Susanto M.Ec.Dev. MAPPI (Cert.) menyampaikan, bahwa berdirinya MEPVAGAMA ini adalah untuk berperan aktif dalam mengembangkan keilmuan dan diskursus penilaian, Oleh sebab itu dibutuhkan penguatan sinergi antara kampus sebagai ruang akademik, dan para alumni sebagai agen yang mengaktualisasikan ilmu penilaian (praktisi profesional). Hal ini menjadi penting mengingat lebarnya gap (jarak) antara perkembangan keilmuan penilaian dengan praktik penilaian di Indonesia. Tidak dapat dipungkiri, Indonesia saat ini masih dalam tahap memberikan pemahaman yang sesuai dengan ilmu penilaian, sedangkan di negara lain sudah mengembangkan ilmu penilaian. Oleh sebab itu kehadiran MEPVAGAMA dapat menjadi jembatan antara perkembangan ilmu penilaian dan implementasi ilmu penilaian pada praktik profesional penilaian.

Pasca berakhirnya acara pengesahan, Dedi Susanto yang diwawancarai secara langsung mengatakan “kedepan MEPVAGAMA tidak akan berbicara seputar alumnus tapi juga para penilai non alumnus yang dipersilahkan untuk ikut bergabung dalam forum-forum diskusi, utamanya mereka-mereka yang memiliki keahlian khusus dalam bidang penilaian”. Pimpinan rekan KJPP Susanto Salman dan Rekan ini berharap akan adanya sinergitas yang baik dan dapat membantu perkembangan para penilai yang bernaung di MAPPI.

Dikesempatan yang sama, Ir. Budi Prasodjo, M.Ec.Dev. MAPPI (Cert.) menyampaikan bahwa kekhawatiran akan adanya gap/jarak antara para penilai yang memulai perjalanan profesinya dari lapangan maupun dari ruang kelas seperti alumnus MEPVAGAMA praktis tidak perlu terlalu dikhawatirkan, karena semangat soliditas membangun kompetensi profesi ini dapat dilakukan oleh pihak manapun. Memang menurutnya, tingkat kelulusan ujian sertifikasi profesi yang dilakukan oleh MAPPI cenderung prosentase kelulusannya lebih besar dari mereka-mereka yang berasal dari lulusan MEP UGM, hal ini wajar ujarnya, karena para alumnus MEP UGM terbiasa menggunakan literasi untuk membedah setiap persoalan dalam penilaian. Namun dibalik itu semua, bukan berarti para alumnus MEP UGM tidak memiliki celah kosong yang harus segera diisi, yaitu jam terbang di lapangan yang tentu besar kemungkinan masih tertinggal dari para penilai non MEP UGM. “Pada prinsipnya semua memiliki kelemahan dan kekurangan, jika suatu saat alumnus MEP UGM menemukan sebuah solusi dari sebuah literasi, bukan tidak mungkin solusi yang sama baiknya juga dapat ditemukan oleh mereka yang selama ini sudah sering terjun di lapangan”. Imbuhnya.

Selain itu, MEPVAGAMA juga bisa menjadi pelengkap bagi pendidikan-pendidikan wajib maupun pendidikan yang bersifat lanjutan yang diselenggarakan oleh MAPPI, kekhawatiran seputar bahwa para peserta pendidikan nantinya hanya mengikuti program sebatas untuk pemenuhan kewajiban administrasi maupun mencari sertifikat keahlian dirasa adalah sesuatu yang tidak relevan menurut Budi, karena justru kehadiran MEPVAGAMA bisa menjadi partner yang baik bagi MAPPI dalam hal riset, pemenuhan kebutuhan data maupun sumber literasi yang selama ini belum tersedia dengan baik. Senada dengan Budi Prasodjo,salah seorang alumnus yang juga pengurus MEPVAGAMA, Harizul Akbar menyampaikan “mungkin diawal kami masih membuka ruang diskusi terbatas untuk para anggota, namun kedepan ruang diskusi ini juga pasti terbuka lebar bagi non alumnus karena dengan begitu proses pemikiran dalam memecahkan sebuah persoalan akan berlangsung lebih dinamis dan tidak cenderung pragmatis”. (AA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *