Pemprov Jatim Galakkan Satu Kampung Tangguh Satu Mahasiswa Bersama PTN/PTS

CB, SURABAYA – Pemprov Jawa Timur tengah menggalakkan program Satu Kampung Tangguh Satu Mahasiswa. Program ini merupakan inisiasi antara Pemprov Jatim dengan jajaran Forkopimda Jatim, Pangdam V Brawijaya dan Kapolda Jatim sebagai tindak lanjut arahan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy saat mengunjungi Gedung Negara Grahadi Surabaya, Minggu (5/7) lalu.

Program Satu Kampung Tangguh Satu Mahasiswa ini sebagai tindak lanjut kerjasama pentahelix dengan PTN/PTS yang sebelumnya pernah disampaikan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa sebagai upaya menekan angka penyebaran Covid-19 di Jawa Timur.

“Konsepnya adalah Satu Kampung Tangguh Satu Mahasiswa. Tapi sebenarnya bisa saja Satu Kampung Tangguh lebih dari Satu Mahasiswa,” ungkap Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak seusai mengadakan pertemuan dengan jajaran Rektor Universitas Surabaya (Ubaya) di Gedung Perpustakan Ubaya Surabaya, Jum’at (10/7) pagi.

Mengawali inisiasi bersama, Wagub Emil Dardak menggandeng Ubaya dalam rangka menggali berbagai inovasi partisipasi dari perguruan tinggi.

Dirinya menyebutkan bahwa dalam waktu dekat, Pemprov Jatim akan mensinergikan 50 mahasiswa kedokteran Ubaya yang sudah melakukan KKN di lingkungan tempat tinggal masing-masing. Langkah ini diambil bertujuan untuk lebih mengintegrasi program yang sudah berjalan di Kampus Ubaya sendiri.

Lebih jauh, dirinya menjelaskan, program ini bertujuan untuk meningkatkan peran mahasiswa dalam menekan angka penyebaran Virus Corona atau Covid-19 di Jawa Timur. Hal ini didasarkan pada fakta dimana personil atau aparat keamanan di daerah tidak bisa menjangkau seluruh wilayah Kampung Tangguh atau RW yang ada.

“Maka jika satu Kampung Tangguh tidak ada support dari mahasiswa atau bahkan Pramuka, akan memberatkan,” imbuhnya.

Namun Wagub Emil menegaskan, pihaknya belum akan memulai dengan suatu launching secara masif. Langkah yang dilakukan lebih kepada mengintegrasikan penajaman program-program yang telah berjalan di berbagai perguruan tinggi.

“Kita rancang sesederhana mungkin. Ini yang penting adalah empati dan pedulinya. Syukur-syukur ada elemen ilmu yang bisa linear,” pungkasnya. (Yit)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *