Bangsa Yang Baik Hati, Corona Teratasi Dan Dajjal, Yakkjut Makkjut Pun Tak Berdaya

CB, Gresik – Bismillah, Malikinnas (QS : Anas, Ayat : 2) terdapat banyak versi atau beda dalam menafsirkan segala sesuatu terlebih ayat-ayat suci, dan hasil dari pada setiap tafsir dalam teorinya hanya mendekati kebenaran, Ya Robb jauhkan kami/penulis dari merasa mampu/bisa.

Mahkluk senyawa, mahkluk yang tercipta olah karya dari manusia, penulis mencontohkan dengan adanya sebuah restauran yang menyajikan makanan dari mahkluk senyawa, yaitu hasil dari ayam yang sudah dipotong/sembelih dan dalam keadaan bersih ditaruh dalam toples yang tertutup rapat selama hingga menjadi banyak binatang (bahasa jawa Set) lalu saling memakan sampai Set-Tunggal.

Bila dalam penanggulangan medis Virus Covid-19 yang melalui protokoler kesehatan dengan mencuci tangan, menjaga jarak dan larangan aktivitas berkerumun dapat menjadi nilai hipotesis spiritualitasnya ialah sebagai berikut :

Mencuci tangan, dengan air bersih/suci dan yang mensucikan, selain kebersihan dan kesucian tangan fisik, tangan sebagai lambang kekuasaan/kemampuan juga akan terarah pada hal-hal yang baik tentunya. Agar supaya tidak termasuk orang-orang yang ingkar terhadap sumber jasmani manusia yaitu bumi, serta lebih dalam mendudukkan keberadaan bumi yang tidak hanya sebagai wadah.

Maka, sudah semestinya penghormatan kepada bumi pertiwi ialah senantiasa memberikan yang terbaik, apapun, tidak dari bekas pembersihan dan/atau pensucian.

Menjaga jarak, mengingatkan bahwa dalam hal berteman, baik berteman antar individu, masyarakat, berbangsa dan maupun bernegara, hanya teman yang berlandaskan saling cinta dan mencintai dalam dan dijalan kebenaran saja yang akan saling menyelamatkan.

Sekaligus sebagai penangkal dari sifat Yakkjut dan Makkjut.

Aktivitas berkerumun, dalam situasi berkerumun telah menjadi tradisi ghibah/menggunjing/gosip, hal mana yang tidak hanya terjadi antar individu, kelompok masyarakat namun juga sudah berlaku hingga tingkat antar bangsa dan maupun antar negara yang mengakibatkan pro kontra dalam bersikap, sebagai bukti dunia belum juga dapat mengatasi pandemi Virus Covid-19 hingga kini.

Ghibah/menggunjing/gosip, sedahsyat apapun nilai ibadah akan hancur luluh lantak dengan mudahnya.

Jika menjadi gambaran makna, bahwa mahluk senyawa Set-Tunggal yang berasal dari sesuatu yang mati dan busuk. Akan bilakah kebenarannya jika pula Virus Covid-19 berasal dari prilaku manusia yang juga demikian, mati hati dan busuk jiwanya ?, terlanjur jauh dan dengan sengaja menyimpang dari kebenaran esensial dan/atau kaidah-kaidah Agama.

Secanggih apapun ilmu teknologi saat ini, hanya mampu mencapai atau menembus planet lain, ingat modernisasi adalah salah satu trik atau metode para penjajah. Bergelimang riba, menawarkan keindahan-keindahan dunia dengan kemasan keabadian semu, sebagaimana diantara sifat-sifat Dajjal, ialah model penjajah milenial yang harus kita sadari.

Namun, teknologi ilmu dari Insan Kamil yang telah mencapai puncak Sidrotil Muntaha dan mampu menjadi rahmat bagi semesta alam. Bagi penulis, melalui kesadaran rasa kemanusiaan, transendent keabadian dan rasio yang mensucikan, Hakkkul Yakin, Dajjalpun akan takberdaya.

Malikinnas, menurut alih bahasa/maknanya adalah Raja Manusia, penulis berpendapat bahwa bermakna relevan terhadap kesamaan sifat dan maupun karakter virus Covid-19 yang mengurangi jumlah populasi manusia dengan karakter makhluk senyawa Set-Tunggal, mengarah kepada kekuasaan tunggal ummat manusia dimuka bumi ini.

Untuk menguatkan argumentasi diatas, penulis berteori simulasi 7 Abad yang menghapuskan perbudakan atau rendahnya nilai-nilai kemanusiaan dimuka bumi, dimulai semenjak Abad ke-7 pada zaman Kenabian Muhammad Saw, Abad ke-14 pada zaman Kewalian Kanjeng Sunan Kali Jaga dan saat ini atau Abad ke-21.

Kembali inti masalah, jika virus Covid-19 yang menjadi titik akhir penyerangannya adalah tenggorokan (lak-lak’an), segenap kerendahan hati dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada publik ataupun Petinggi-Petinggi penyelenggara pemerintah, mohon izin penulis menuturkan dengan banyak keterbatasan.

Mengutip pernyataan dari Ali bin Abi Thalib, ”Bahwa jika terlintas pada dada atau hatimu yaitu rasa sakit yang tidak mengerti asal muasalnya, maka segera tundukkan kepalamu menghadap ketenggorokan (lak-lak’an) agar rasa itu segera berlalu”, bagi penulis rasa sakit yang terlintas tersebut adalah vibrasi dari Dajjal.bersambung.(Sub)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *