Takar Kemampuan Bacabup, DEMA UIN Satu Tulungagung Gelar Talk Show Pembangunan Berkelanjutan

CB, TULUNGAGUNG – Empat bakal calon bupati hadiri talk show pembangunan berkelanjutan yang digelar Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) UIN Satu Tulungagung, Rabu (10/07), di Aula Gedung Arif Mustakim lantai 6.

Talk show dengan tema “Optimalisasi Potensi Tulungagung di Masa Depan” sebenarnya mengundang 6 bakal calon bupati, namun hanya empat yang hadir dalam acara tersebut. Mereka empat orang yang menyempatkan waktunya adalah Maryoto Birowo, Budi Setiyahadi, Ahmad Baharudin, Bambang AS. Sedangkan dua tokoh yang tak bisa hadir dalam acara talk show yakni, dr Kasil dan Santoso.

Acara diawali oleh sambutan Ketua Dema UIN Satu Tulungagung, Rio Arhanza Putra dan dibuka oleh Wakil Rektor 3 UIN Satu Tulungagung, Prof Dr Samsu Niam. Ia mengatakan, acara itu sebagai ajang silaturahmi dan menggali potensi potensi yang ada di Tulungagung.

“Mahasiswa bisa langsung bertanya atau berdialog dengan calon calon bupati Tulungagung yang hadir, menakar kemampuan mereka dengan tetap memenuhi kaedah dan aturan berdiskusi Dema UIN Satu Tulungagung,” katanya.

Forum akademik itu dimulai oleh moderator Kelvin Dwi Krisdatama tentang penjabaran potensi tambang mineral dan sumber daya alam lainnya di Tulungagung selatan. Dimana perlu campur tangan Pemerintah Kabupaten untuk menanganinya agar bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat.

“Tambang memang potensi yang luar biasa, dan untuk itu perlu pemikiran bersama mulai perizinan dan sebagainya agar tertata dengan baik. Masih banyaknya tambang ilegal perlu dorongan pemerintah daerah untuk membantunya. Terlebih Tulungagung menjadi salah satu penyangga pangan wilayah Jawa Timur, sehingga pertumbuhan suatu daerah perlu konektifitas bersama,” kataMaryoto Bhirowo ketika mendapat giliran awal menyampaikan pandangannya tentang isu tambang.

Lebih lanjut moderator memberikan isu Tulungagung sebagai penyuplai TKI, namun masih begitu banyak warga yang ekonominya masih kekurangan. Harusnya pemerintah daerah mulai memikirkan cara agar masyarakat Tulungagung bisa mandiri dan mengurangi status sebagai salah satu penyuplai TKI terbesar di Jawa Timur.

Mendapat kesempatan kedua, Ahmad Baharudin mengatakan tugas kita adalah merawat isi dunia, hidup indah dan mudah itu karena ilmu pengetahuan dan ilmu agama. Pada dasarnya masalah TKI memang harus ada campur tangan Pemerintah Daerah dan kesadaran kita bersama.

“Isu itu bisa diselesaikan dengan meningkatkan kreatifitas dan peningkatan UMKM sehingga lapangan kerja bertambah dan masyarakat semakin mandiri,” katanya.

Isu berikutnya adalah SDM di wilayah selatan, yakni tentang kerukunan dan tingkat tawuran di wilayah itu yang terus berulang dari tahun ke tahun. Moderator meminta Budi Setiyahadi untuk menjawab isu tersebut.

“Sebagai aktifis, pengusaha, lawyer dan sebagainya, Kami berharap masyarakat Tulungagung menjadikan budaya sebagai panglima. Di wilyah selatan para perguruan bisa diajak bekerja sama dengan Kepolisian dan TNI untuk bela negara. Itu sebagai salah satu cara agar ego kelompok diarahkan menjadi ego daerah sehingga mereka bersatu untuk kemajuan daerah,” ujarnya.

Isu untuk narasumber Bambang AS. adalah tentang isu pendidikan, dimana komersialisai pendidikan saat ini cukup mengkhawatirkan. Sekolah favorit menjadi buruan orang tua siswa beramai ramai menyekolahkan anaknya di sekolah favorit.

Bambang AS menyebut hal itu karena rule yang ada saat ini tidak disepakati dan ditegakkan bersama. Padahal aturan sudah ada namun tidak dijalankan.

“Isu titipan memang luar biasa terjadi, yang bisa menyelesaikan adalah kita bersama dan pemerintah daerah. Jangan sampai penyelenggara negara malah ikut ikutan titip,” jelas Bambang AS penuh semangat.

Talk show berlanjut dengan pertanyaan yang langsung melibatkan aktifitis dan mahasiswa. Yang kemudian juga dijawab langsung oleh nara sumber secara bergiliran. Berbagai isu lokal diungkap di talkshow itu untuk pembangunan berkelanjutan dan optimalisasi potensi Tulungagung di masa depan.(Hsu)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *