Saudi itu “Dajjal” yang Nyata

Oleh: Soenarwoto

“Komunitas Yahudi ternyata cukup banyak di Iran. Mereka itu secara temurun telah jadi warga Iran. Dan, Iran di bawah kepemimpinan Ali Khamenei memperlakukan mereka dengan baik, dilindungi, dan dihormati,” ucap Aris Sudanang, sahabat lawas jurnalis saat ngopi bareng di “Caffe Kopinkmie” Tulungagung.

Sikap itu, sambungnya, ditunjukkan Ali Khamenei dengan mengunjungi mereka ketika menyambut Hari Raya umat Yahudi. Ali Khamenei bahkan dengan senang hati makan jamuan yang disuguhkan umat Yahudi. Ali Khamenei sangat menjaga toleransi beragama di negaranya. “Keren sekali ternyata Ali Khamenei itu Cak Wot. Ini yang selama ini tak diketahui oleh masyarakat dunia,” tambah Aris yang kini sebagai Direktur Radar Tulungagung.

Mendengar itu saya gembira. Biar ngopi malam itu tambah hangat dan melebar obrolannya, saya pun menambahi, bahwa Syiah itu tidak seperti anggapan kita; tertutup dan kaku dalam beragama. “Bukan hanya komunitas Yahudi saja, Ali Khamenei juga memperlakukan serupa kepada umat Kristiani dan Zoroaster yang tinggal di Iran,” jelas saya.

Republik Islam Iran memang tercatat mayoritas penduduknya memeluk Syiah (95 persen). Selebihnya adalah Islam Sunni, Kristiani, dan Zoroaster. Dan semua pemeluk agama itu diberlakukan sama sebagai warga negara Iran oleh Ali Khamenei. “Meski begitu Ali Khamenei dimusuhi oleh AS (Kristiani) dan Israel (Yahudi). Ia bahkan dibunuh dalam serangan pada 28 Februari itu,” tambah saya.

“Lha iya toh cak, Iran di bawah pemimpin Ali Khamenei yang keren gitu kok dimusuhi Amerika dan Israel. Bahkan dibunuh,” sergah Aris. Ini pasti ada sesuatu di balik itu. Sudah bukan rahasia lagi, Trump ingin menguasai minyak Iran, dan Israel ingin menghemoni sebagai negara super power di Teluk. Ia ingin mewujudkan ambisi besarnya sebagai Israel Raya. Seluruh negara di Teluk takluk di bawah kendalinya.

Diketahui, sejak tahun 1979 dengan tumbangnya rezim monarki, Mohammad Reza Pahlawi oleh Ayatullah Khomaini, Iran dimusuhi oleh Amerika dan Israel dengan tudingan macam-macam; mengembangkan nuklir dan Syiah. Lalu, Iran diembargo (dilarang berdagang dengan negara lain) hingga kini oleh AS.

Bahkan negara-negara di teluk –yang notabene sesama Islam– pun ikut memusihi. Utamanya Saudi Arabia, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, dan Bahrain–yang negaranya bersistem monarki (kerajaan). Syahdan, hingga berpuluh tahun Iran dikucilkan dan miskin. Dari bocoran intelejen diketahui, Saudi Arabia-lah yang paling utama jadi “kaki-tangan” AS dalam usaha memusuhi Iran.

Terbukti, Saudi selama ini dengan getol mengembangkan oponi dan mencetak berbagai produk buku yang berisikan madzab Syiah itu “wajib” dimusuhi. Dipisahkan dengan muslim dunia dan “wajib” diperangi. Sebab, Syiah bukan termasuk bagian dari Islam. Syiah itu “sesat”.

Jadi, sesungguhnya, Saudi itu Dajjal yang nyata. Saudi bukan hanya berusaha memisahkan jalinan sesama muslim, tapi juga memisahkan umat muslim terhadap Rasulnya, Nabi Muhammad SAW. Lihatlah, saat jemaah haji dan umrah hendak ke makam Rasulullah saat berziarah, pasti dilarang mendekat oleh askar Saudi. Bentuk cinta umat terhadap Rasul itu malah dikata “bid’ah”.

“Bahkan sekedar memegang pagar pembatas makam Rasul saja, askar Saudi langsung membentak jemaah dengan berkata “haram..haram”. Itu artinya, Saudi jelas-jelas ingin memisahkan umat muslim dengan Rasulnya. Dasar Wahabi bahlul,” ungkap saya.

“Bener itu Cak. Saat kita umrah dulu itu, saya merasakan sendiri saat hendak berdoa di depan Makam Rasul. Saya diusir, bahkan badan saya didorong dengan kuat dan kasar oleh askar Saudi,  sampai saya sempoyongan mau jatuh.  Bener sampean Cak, Saudi itu sesungguhnya Dajjal yang nyata,” pungkasnya. (**)

Penulis adalah wartawan senior

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *