CB, GRESIK – Usai penyelenggaraan pesta demokrasi tingkat daerah serentak di seluruh wilayah Indonesia, kabupaten Gresik yang juga tercatat sebagai penyelenggara pemilihan umum kepala daerah periode Tahun 2021-2026.
Belum diumumkannya secara resmi hasil dari proses pemilihan umum kepala daerah kabupaten Gresik, luapan air sungai kali Lamong mengakibatkan genangan air dimana-mana, lazimnya genangan air tersebut dinamakan dengan banjir.
Banjir legenda kembali melanda dibeberapa wilayah kecamatan bagian Barat-Selatan kabupaten Gresik dan tidak hanya mengakibatkan kerugian materiel, tersendatnya roda perekonomian, namun juga telah memakan korban jiwa.
Sewindu sudah penulis menginjakkan kaki dibumi yang berslogan Berhias Iman, ia adalah wilayah kabupaten Gresik provinsi Jawa Timur Negeri tercinta Indonesia Raya.
Luapan air sungai kali Lamong ini pulalah yang menjadi awal peran penulis sebagai jurnalis, dari berbagai sumber informasi yang didapat baik dari pemerintah maupun dari penduduk desa yang berada disekitar lokasi banjir, bahwa setiap banjir yang menjadi musibah bersama ini terdapat perbedaan dengan berdasarkan waktu yaitu satu tahun sekali, tiga tahun sekali, empat tahun sekali.
Luapan anak sungai kali Lamong yang berhulu diwilayah kabupaten Mojokerto dan bermuara diwilayah kabupaten Gresik dengan melintasi wilayah kota Surabaya ini banyak yang menyebutnya dengan istilah Banjir Legenda oleh sebab banjir ini sudah terjadi semenjak masih adanya kerajaan Majapahit dan kerajaan Giri Kedaton.
Mengingat beberapa wilayah daerah yang terlintasi oleh aliran sungai kali Lamong, musibah banjir ini menjadi tanggung jawab persoalan oleh beberapa pihak pemerintah daerah kabupaten, provinsi bahkan pemerintah Nasional juga dilibatkan.
Nilai-nilai anggaran dana dalam penanggulangan musibah banjir legenda ini yang bersumber dari pemerintah daerah, provinsi maupun pusat sudah pernah diketahui oleh publik semenjak lalu, hasil mufakat dari pertemuan-pertemuan para pihak yang terkait termasuk diantaranya adalah para kepala desa perwakilan wilayah terdampak.
Besaran beaya anggaran dana untuk penanggulangan musibah banjir legenda ini mencapai miliaran rupiah bahkan mencapai triliunan, namun masih dibenak ingatan penulis bahwa adanya gagasan dari seorang pejabat tinggi desa yang berkaliber pejabat eselon provinsi.
Negara atau pemerintah sebagaimana tanggung jawab dasarnya adalah menjaga kekayaan, nyawa dan harga diri dari pada rakyatnya. Bagi rakyat tentunya atas peristiwa musibah banjir legenda ini telah memberi bekas luka yang sangat prihatin mengingat hilangnya nyawa.
Sekaligus menjadi kritik bagi para penyelenggara Negara beserta pemerintahannya bahwa pembangunan fisik Insfratruktur kedepan supaya lebih memprioritaskan pembangunan demi keselamatan jiwa rakyatnya.
Melalui teodolit guna menentukan panjangnya sungai guna membagi menjadi berapa titik yang harus disediakan yaitu Rumah Pompa, Dam Gerak dan Sudetan. Pada teorinya, selain tidak memakan anggaran biaya yang begitu mahal, fungsi dari ketiga item tersebut dapat digunakan pada keadaan yang diperlukan.
Rumah Pompa yang dibangun diatas atau disekitar tanggul berfungsi untuk pemompa air disaat Sungai Lamong sedang pasang dan dialirkan ke sungai-sungai kecil disela-sela lahan pertanian.
Dam Gerak didirikan ditengah sungai Lamong berfungsi untuk penutup dan pembuka aliran air, juga dapat mengatur kebutuhan air disaat musim kemarau.
Sudetan yang berasal dari dibedahnya tanggul Sungai Lamong berfungsi untuk mengalirkan air Sungai Lamong ke sungai-sungai kecil disekitar lahan pertanian dan juga berfungsi apabila pemompa air kuwalahan.
Terdapat banyak hikmah dari fenomena alam tersebut diantaranya adalah bagi penduduk desa yang berada disekitaran Sungai Lamong atau khususnya penduduk yang berada didataran rendah untuk mendapatkan dengan mudah ikan-ikan yang terdapat didalam sungai dan dapat dilakukan dengan berbagai cara.
Bagi penulis hanya dapat menyampaikan penjelasan yang pernah didapat dari penelusuran musibah banjir legenda ini, dan sepenuhnya dikembalikan kepada pihak-pihak profesional atau yang lebih berkompeten dengan gagasan tersebut.
Terlepas dari ambisius pribadi atau kelompok didalam berkontribusi membangun bangsa, musibah banjir legenda atau luapan Sungai Anak Kali Lamong seperti ulasan teori diatas dapat juga diambil hikmah bahwa sejarah harmonis pernah dialami oleh nenek moyang kita yaitu antara Kerajaan Majapahit (Rojone Welas) dan Kerajaan Giri Kedaton (Ratune Asih).(Sub)
