Terkait Pemberitaan Potret Kemiskinan Mbah Sadinem, Pemdes Ngiliran Buka Suara

CB, Magetan – Potret Kemiskinan Nenek Sadinem yang sebelumnya diberitakan salah satu media membuat Pemerintah Desa (Pemdes) Ngiliran Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan bersuara.

Pasalnya, menurut keterangan dari Kepala Desa dan juga beberapa tokoh masyarakat desa Ngiliran menyatakan bahwa pemberitaan tersebut tidak sesuai dengan kenyataan yang ada di lapangan.

Dikatakan Kepala Desa Ngiliran Karmo kepada media Cahaya Baru, terkait bantuan baik pangan maupun non pangan, Nenek Sadinem ini sudah tidak kekurangan lagi. Namun, dirinya juga tak mengelak bahwa sudah 2 bulan ini Program Keluarga Harapan (PKH) mbah Sadinem ini terpaksa harus dihentikan karena data identitasnya tidak terverifikasi Dinas karena masih menggunakan KTP dan KK yang lama.

” Terkait data itu dari pihak Keluarga sudah mencoba mengurus ke Disdukcapil sampai 3 kali namun tetap gagal, itu yang membuat mereka tak mau mengurus lagi, namun terkait dengan hal itu Pemdes sudah mencoba untuk melakukan koordinasi dengan Dinas terkait dan tadi sudah dikabarkan mau dicairkan. Namun, jika ternyata tidak jadi dicairkan, kami Pemdes tetap mengupayakan untuk mencairkankan bantuan untuk mbah sadinem melalui Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa (DD) guna untuk mengatasi hal tersebut, ” terangnya, pada Senin, (22/06/2021).

Lebih lanjut Karmo juga menjelaskan terkait bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) mbah sadinem ini sudah pernah mendapatkannya melalui program bedah rumah dari TNI. Namun, karena tanah yang ditempati mbah Sadinem ini bukan hak milik, membuat bantuan tersebut tidak maksimal.

” Tadi dari Dinas Perkim juga sudah datang kesini, dan menyarankan terkait bantuan bedah rumah mbah sadinem ini harus diajukan melalui Program CSR karena jika melalui Pemerintah mbah sadinem ini tidak memenuhi persyaratannya termasuk tanah harus milik sendiri, ” jelas Kades.

Selain itu, Kades juga mengungkapkan bahwa terlepas dari bantuan tersebut, masih banyak masyarakat yang bersimpati dan berempati untuk membantu mbah Sadinem terkait bantuan pangan. Selain itu tak jarang juga mereka (warga) yang mendapat respon tak mengenakan ketika membantu mbah sadinem, sehingga rasa empati serta simpati warga terhadap mbah sadinem ini memudar.

” Jadi masih banyak warga yang berempati kepada mbah sadinem ini mas, namun banyak warga yang jengkel dan kehilangan rasa empatinya karena mbah sadinem ini kalau diberi makanan yang tak sesuai selalu dibuang-buang mas, selain itu tak jarang juga yang membantu mbah sadinem ini ketika ada barang yang hilang, suka dituduh mencuri barang milik mbah sadinem ini, ” ungkap Kades.

Hal senada juga dikatakan Parmo selaku Ketua BPD Desa Ngiliran, bahwa masyarakat tak henti-hentinya membantu mbah Sadinem , bahkan setelah pemberitaan tersebut warga sekitarpun kini sudah turut bergotong-royong untuk memperbaiki genteng bocor dan juga melakukan pemlesteran rumah mbah Sadinem.

” Setelah pemberitaan salah satu media tersebut, kami dan Pemdes langsung turun ke lokasi untuk lakukan cek mas, bahkan ketika kami melakukan pengecekan banyak bantuan pangan baik beras bahkan telur itu sudah banyak yang membusuk mas, ” ujarnya.

Namun, Pemdes bersama masyarakat sekitar akan tetap terus memberikan perhatian lebih kepada mbah Sadinem, pasalnya anaknya sendiri juga termasuk dalam Orang Dalam Gangguan Jiwa (ODGJ). Jadi kami bersama warga sekitar mau bagaimanapun harus tetap membantu sebagaimana mestinya.

” Jadi kondisi mbah sadinem ini sudah berumur serta anaknya sendiri yang bisa dikatakan mempunyai keterbelakangan mental, maka rumah yang sebelumnya sudah pernah dibedah dan kini diperbaiki lagi itupun tak ada yang merawat, bahkan setelah pengecekan kemarin 2 kamar yang ada di rumah mbah sadinem malah dijadikan dapur oleh mbah sadinem, jadi dengan kejadian ini kami bersama warga sekitar ya harus turut memberikan perhatian lebih lagi kepada mbah sadinem ” paparnya.

Selain itu, Parmo juga berpesan kepada awakmedia, bahwa dalam pemberitaan alangkah baiknya jika dipastikan dulu dengan kenyataan real yang ada di lapangan.

” Jadi alangkah lebih baik jika para pekerja media juga turut mengkonfirmasi kenyataannya kepada Pemerintah Desa setempat terlebih dahulu sebelum membuat pemberitaan, agar bisa dipastikan kebenaran dalam pemberitaan tersebut, ” pungkasnya.
(Caknan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *