CB, Lamongan – Menyongsong puncak kejayaannya sebuah bangsa, Negara Kesatuan Republik Indonesia dibangun bukan atas dasar prinsip-prinsip hukumnya yang dihasilkan dari kualitas demokrasinya, sila ke-4 dan sila ke-5 Pancasila.
Bangsa spiritualis, tertuang pada sila pertama Pancasila, bahwa segenap tumpah darah Indonesia berhasil mengimplementasikan nilia-nilai religiuitas menjadi dasar spirit pekik para pahlawan kemerdekaan dalam menumpas para penjajah dari persada bumi Nuswantara Indonesia Raya Tercinta.
Mengulas sedikit serta mengelementerkan tentang berbagai fenomena yang dialami oleh bangsa ini dalam beberapa dekade terakhir, serta eksistensinya para penyelenggara pemerintah dalam mengisi kemerdekaan melalui peran dan fungsinya.
Menginjak tahun ketiga, para penyelenggara pemerintah, baik penyelenggara pemerintah dari tingkat pusat hingga ketingkat rumah tangga dihadapkan pada persoalan penanggulangan musibah wabah virus Covid-19 atau Corona.
Berbagai macam kebutuhan yang menyangkut hajat hidup bagi segenap bangsa dan seluruh rakyat Indonesia, dalam melindungi keselamatannya dari wabah virus tersebut, maka tidak hanya menyita dan menguras beaya penyelenggaraan Negara, namun juga tenaga, fikiran dan seluruh kemampuan Negara tercurahkan.
Mengukur kadar Patriotisme bagi segenap anak-anak bangsa (ibu pertiwi) mengingat Negara laksana orang tua sedang mengalami musibah, menjadi hikma yang dapat dipetik dari musibah pandemi ini.
Bagi penulis, Jiwa Patriotisme hanya akan lahir jika disiplin religiuitas senantiasa diterapkan pada setiap individu manusia. Patriotisme menuntut akan cinta terhadap diri pribadi, kesadaran dasar sebagai mahkluk dan kesempurnaan sebagai insan.
Berkembang pada cinta pada ruang lingkup keluarga, lingkungan, komunitas sosial kemanusiaan hingga cinta terhadap Nusa dan Bangsa terlebih cinta terhadap Negara.
Segala fasilitas guna memenuhi kebutuhan seluruh rakyat Indonesia dalam mendapatkan perlindungan kesehatan dari Negara, tidak hanya imunitas tubuh berupa vaksin namun berbagai fasilitas dalam berinteraksi sosial juga telah terpenuhi seperti Masker, Sabun Cuci Tangan dan Hand Sanitizer.
Berdasar dari pengamatan awak media, fenomena menarik dari hal-hal yang terurai diatas yaitu kelengkapan semua fasilitas dalam melindungi kesehatan terhadap wabah virus, hanya nampak pada ruang-ruang atau fasilitas pelayanan publik.
Aneh, apakah dapat diinterpetasikan jika keselamatan para penyelenggara pemerintah lebih diprioritaskan ?, jika Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berpaham politik demokrasi Pancasila, dan value tertinggi yaitu Akhlakul Karima bagi penulis dalam memperjuangkannya.
Jiwa Patriotisme, melalui kesadaran sebagai mahkluk yang ber-Ketuhanan, bukankah Pemimpin yang Adil itu ialah yang rela berkorban demi rakyatnya ?, maka dengan demikian dapat menjadi cermin dalam menyimpulkan bahwa krisis Patriotisme juga telah melanda.
bersambung.(SUB)
