CB, TULUNGAGUNG – Musim penghujan tahun ini disebut musim ekstrem, karena hujan diluar prediksi. Untuk itu, masyarakat dihimbau agar tetap hati-hati dan waspada dalam menghadapi musim ekstrem tahun ini.
Dan himbauan ini tak lain upaya mengantisipasi daerah rawan banjir maupun longsor. Namun demikian, bencana terjadi kadang bukan faktor alam saja dan faktor lain adalah human error (kelalaian manusia) yang sering kali dinyatakan sebagai faktor utama penyebab terjadinya suatu kecelakaan atau bencana alam.
Untuk itu, upaya kedepan agar tak terus menerus diterpa bencana, yakni Pemkab Tulungagung sudah melakukan program penghijauan dengan membuat sabuk pengaman, seperti batas kepemilikan pengerjaan dengan tanaman tahunan yang ada di wilayah -wilayah rawan bencana. Dan, khususnya di daerah rawan bencana ketika terjadi penanaman, seperti tanaman musim itu diperbolehkan karena itu adalah kebutuhan pokok.
“Makanya kita melaksanakan program penghijauan dengan membuat sabuk pengaman seperti batas dari kepemilikan pengerjaan dengan tanaman tahunan ini berguna dan bermanfaat bagi masyarakat,” kata Bupati Tulungagung Drs Maryoto Birowo MM kepada Cahaya Baru, Rabu (05/10).
Sehingga, lanjut bupati, jikalau tanaman yang ditanami, yakni pagar itu tetap dijaga. Hal tersebut supaya tidak terjadi erosi karena tertahan dengan sabuk tersebut. “Kalau tanaman yang tengah digunakan (ditanami, red) pagarnya itu pokoknya tetap dipelihara, biar tidak terjadi erosi dan akan tertahan dengan sabuk itu,” jelasnya.
Bupati menambahkan, soal menanam itu juga sebuah keharusan namun demikian sabuk pengaman harus dijaga. “Menanam boleh, karena itu produksi dan itu juga kebutuhan pokok. Namun sabuk pengaman itu juga harus tetap kita jaga,” pinta bupati.
Masih kata mantan Sekda Tulungagung, Pemkab Tulungagung juga sudah memperbaiki infrastruktur jalan, namun hal itu juga harus dijaga dengan baik serta tepi jalan jangan sampai diuruk.
“Infrastruktur juga sudah kita perbaiki. Dan, khususnya infrastruktur tepi jalan itu jangan sampai di tutup lah, dan warga itu perlu kesadaran, apalagi diuruk. Kalau diutlruk, kan menjadi macet dan yang susah kita semua,” ucap Bupati Maryoto.
Dalam hal ini, tambah bupati, ia juga telah melakukan rapat staf. “Saya himbau dalam rapat staf pada seluruh camat untuk menyampaikan kepada seluruh kepala desa untuk ditindaklanjuti ke perangkat kepada seluruh warganya,” kata bupati dengan mimik serius.
Masih menurut bupati, jalan akses untuk kepentingan umum transportasi itu kalau sudah diperbaiki (diaspal, red) harus ada pengeringnya berupa saluran, dan itu jangan sampai ditutup atau dikasih sampah.
“Namanya aspal dan aspal Itu musuhnya air. Nah, kalau aspal sudah terendam air dan dilalui kendaraan yang memiliki beban, itu pasti terjadi adanya penetrasi (perekat aspal, red) kalau tidak panas dan ada beban berat, maka penetrasi itu bakal lepas,” paparnya.
Banyaknya aspal yang rusak, tambah bupati, disebabkan tidak adanya saluran. “Jadi, banyaknya aspal yang rusak di Tulungagung (khususnya di pedesaan, red) karena tidak adanya salurannya. Ini perlu pernyadaran kita bersama, jalan kita perbaiki dan partipasi masyarakat ikut melestarikan,” harapnya.
Untuk mengantisipasi semua ini, yakni bupati juga pinta pada kades-kades, yakni dengan adanya ADD DD yang bisa dipergunakan untuk pembangunan infrastruktur, seperti halnya untuk pembangunan infrastruktur jalan. “Tapi kalau membangun jalan ya harus lengkap dengan pasangan salurannya,” tegas bupati.(Hsu)
