CB TULUNGAGUNG-Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung, meminta pada masyarakat yang mengalami gejala berkeringat pada malam hari, batuk tak kunjung reda, kelelahan, kehilangan nafsu makan serta berat badan makin menurun diharap segera memeriksakan diri ke Faskes terdekat.
Pasalnya, penyakit yang disebabkan bakteri Mycobacterium Tuberkulosis yang menyebabkan penyakit TBC, hingga saat ini masih menjadi masalah kesehatan. Dan, pada tahun 2022, di Kabupaten Tulungagung temuan suspect capai 101 persen dari target yang ditentukan SPM (Stadart Pelayanan Minimal).
Untuk itu, masyarakat diharap tak perlu malu atau takut saat mengetahui hal tersebut. Disisi lain, semakin cepat terdeteksi, tentu pula memiliki peluang besar untuk bisa disembuhkan serta tidak menular pada orang lain maupun keluarga.
Dalam hal ini, Kepala Dinkes Tulungagung Kasil Rohmat melalui Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Didik Eka menyampaikan, banyaknya temuan ini justru menjadi hal positif paska pandemi Covid-19. Mengingat, saat pandemi Covid-19 skirining atau tracing bagi orang yang di curigai sebagai penderita TBC di Kabupaten Tulungagung sempat terkendala.
“Ini malah menjadi hal yang positif. Artinya, semakin banyak temuan, maka menandakan kader TB benar-benar aktif untuk melakukan pantauan dan mendapat temuan di lapangan,” kata Didik Eka.
Salah satu tugas dari kader TB ini, lanjut Didik, melalukan tracing bagi orang yang punya kontak dengan penderita positif TBC. Ia juga menjelaskan, yakni eperti Covid-19, 20 orang yang kontak langsung pada seorang penderita positif TBC akan di tracing dengan diambil dahaknya dan diperiksa bagian lain untuk memastikan bakteri ini telah menular maupun tidak.
Mengingat, imbuhnya, pada 2022 Dinkes Tulungagung telah mendapatkan pasien TBC kisaran 1416 atau 52 persen dari target yang di tentukan, yakni 2720. Sedangkan temuan dari 52 persen ini telah ditangani dengan wajib minum obat rutin selama enam bulan.
“Kita mengobati 1416 orang, atau persentase nya 52 persen,” imbuhnya. Temuan yang besar ini, tambahnya, justru akan dapat mengontrol lebih baik sebaran penyakit TBC di Kabupaten Tulungagung. “Bayangkan, kalau kontak erat dengan pasien TBC yang positif telah tertular tidak segera ditemukan, maka akan semakin menularkan pada orang lain,” ungkapnya.
Pasalnya, penyakit yang menyerang paru-paru ini gejalanya juga banyak terjadi pada penyakit lain. Ironisnya, masyarakat masih menganggap penyakit TBC sebagai hal yang memalukan dan pasien tidak mau di katakan terserang penyakit ini.
“Misalnya, kalau dia datang ke dokter dikatakan TBC lalu datang lagi ke dokter lain dan disebut terkena sakit radang paru, maka ia akan lebih senang ke dokter terakhir yang tidak memvonisnya kena TBC. Masyarakat kita perlu edukasi dan diberikan pemahaman yang baik,” jelasnya.
Didik juga menjelaskan, bagi penderita yang dinyatakan positif TBC ini memerlukan pengobatan rutin 6 bulan. Bila ini tak dilakukan, maka ditakutkan akan terjadi TBC resistensi obat. Bahkan, saat ini, kisaran 15 pasien TBC resistensi obat. “Bila sudah demikian, tentu pula penanganannya pun semakin sulit dan pemerintah membutuhkan biaya per Pasian mencapai 100 juta rupiah,” ungkapnya.
Setiap pasien TBC akan diberikan obat secara gratis yang standarisasi WHO dan kalau tidak mau minum obat dari pemerintah ini, maka pasien dipastikan bakal mengeluarkan biaya minimal 500.000 tiap bulan selama 6 bulan.
“Perbulan sekitar 500 ribu rupiah, kali enam maka sekitar 3 juta rupiah jika tidak mau minum obat dari pemerintah yang gratis,” tandasnya.
Biasanya, imbuhnya, pasien TBC yang tidak terkontrol oleh dinas kesehatan, hanya akan meminum obat hingga kondisinya merasa enak dan sehat. “Kalau minum obat, satu bulan sudah merasa membaik dan berat badan tubuh mulai naik. Ia merasa telah sehat, meski sebenarnya bakteri masih bersarang dalam tubuhnya. Ini kalau kambuh, akan bahaya karena bisa masuk dalam resistensi obat tadi,” terangnya.
Masih kata Didik, saat ini Dinkes Tulungagung telah bekerjasama dengan seluruh dokter praktek untuk saling memberikan informasi jika ada orang yang diduga terkena TBC datang ke kliniknya.
“Semua dokter yang buka praktek sudah paham dan saling membantu, jika ada pasien dengan gejala TBC akan diberikan pemahaman agar selanjutnya diberikan obat oleh Faskes atau Puskesmas. Mereka rela kehilangan profit untuk membantu masyarakat kita agar tidak menularkan bakteri ini ke orang lain,” jelas Didik Eka.(Hsu)
