Cemari Sungai, Limbah Pembuatan Lemper di Wajak Kidul Dikeluhkan Warga

CB, TULUNGAGUNG – Sejumlah warga masyarakat Desa Wajak Kidul Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, memanfaatkan batu yang diproses menjadi lemper atau peralatan rumah tangga. Tak heran, disepanjang pinggir jalan desa tersebut banyak orang yang melakukan aktivitas di setiap harinya.

Tentu, dengan banyaknya warga memiliki usaha tersebut, meraka telah memiliki pekerjaan tetap. Namun, sayangnya, pembuatan alat rumah tangga ini dikeluhkan warga. Pasalnya, dari hasil limbah penggergajian batu yang mencemari aliran sungai di desa itu sangat menyengat.

Tak hanya itu saja, limbah ini juga mencemari sungai, yakni yang meninggalkan sendimen lumpur yang kian hari kian menumpuk. Padahal, air sungai itu juga dipergunakan oleh para petani untuk tanamannya.

Tak pelak, ketika musim hujan tiba banyak rumah di utara sungai dusun yang berada di lereng pegunungan itu terkena luapan banjir hingga beberapa hari.

Lumpur atau blended batu yang dipersoalkan warga adalah hasil dari proses memotong batu dengan menggunakan mesin, saat mata gergaji bertemu batu harus diguyur dengan air secara terus menerus untuk menahan panas. Hasil kikisan batu itulah yang menjadi lumpur.

“Kami memohon kesadaran dari para pengusaha kerajinan batu itu untuk menjaga lingkungan dengan tidak membuang limbahnya langsung ke sungai,” kata S, narasumber media ini.

Sementara itu, dari hasil investasi media ini dilapangan milik seorang pengusaha bernama Siti (warga Desa Sanggrahan, red), tepat berada dibibir sungai.
Mereka, para pekerja, sedang melakukan pemotongan batu dengan menggunakan mesin.

Ketika dikonfirmasi di kediamannya, wanita kelahiran Trenggalek ini mengaku sudah kisaran 20 tahun membuka usaha alat rumah tangga itu. Bahkan, menurutnya, hal ini tak membuat kaget dirinya, karena sering didatangi orang yang menanyakan ijin usahanya itu. Namun itu adalah dinamika dari usahanya yang berkembang pesat.

Meski Ia menyadari membuang limbah ke sungai adalah salah, namun menurutnya hampir semua pengrajin batu di Desa itu juga membuang limbahnya ke sungai.

“Ya monggo dikumpulkan semua kalau memang tidak boleh dan jangan pilih kasih,” kata Siti dengan nada tinggi.

Sementara itu, Kepala Desa Wajak Kidul Esta Palupi mengatakan, keluhan permasalahan sendimen lumpur batu di wilayahnya memang berkepanjangan. Pihaknya, pernah menginisiasi dengan melakukan normalisasi sungai untuk mencegah banjir. Namun karena jumlah lumpur yang dihasilkan sangat besar dalam waktu singkat cepat terjadi pendangkalan.

Tak hanya itu, sebenarnya pihak desa sudah memberikan pengarahan kepada pengrajin pembuat lemper dari batu itu agar usahanya tidak berdampak pada warga sekitar. Bahkan pernah juga ada sosialisasi dari Dinas Lingkungan Hidup terkait penangan limbah. Namun warga masih tetap membuang ke sungai dengan alasan lebih mudah.

Bahkan, menurutnya, para bayan blok di wilayah terdampak juga sudah sering mendapat protes dari warganya terkait pencemaran dan pendangkalan. Namun upaya untuk menindaklanjuti menjadi tugas bersama.

“Cobalah nanti Pemerintah Desa akan mencari jalan keluarnya dan tentu ini untuk kebaikan bersama,” kata Kades.(Hsu)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *