CB, Tulungagung – Kemarin (06/03/25), Bintara Center kembali menerima pengaduan dari masyarakat Tulungagung, khususnya orang tua salah satu siswa perguruan silat yang diduga menjadi korban pemerasan oleh oknum perguruan silat tersebut. Hal ini disampaikan oleh Ketua Bintara Center, R. Ali Sodik, dalam rilisnya.
R. Ali menjelaskan bahwa permasalahan ini bermula dari perampasan kaos perguruan yang dilakukan oleh pelaku (NI), yang kemudian memicu terjadinya bentrok. Akibatnya, NI harus berurusan dengan hukum.
Namun, saat NI ditahan, justru orang tua korban yang berinisial (I) malah menjadi korban pemerasan oknum dari salah satu perguruan silat tersebut hingga merugi puluhan juta rupiah. Ironisnya, ketika anaknya akan dibebaskan dari tahanan, I diminta lagi uang sebesar 60 juta rupiah oleh oknum tersebut dengan alasan untuk menyelesaikan masalah agar tidak menimbulkan masalah lebih lanjut.
Merasa menjadi sasaran pemerasan, I akhirnya melaporkan permasalahan tersebut ke Bintara Center. Padahal, saat itu, I datang dalam keadaan sakit.
“Saat datang ke Bintara Center, I dalam keadaan sakit, dan dia mengadu telah diperas sekitar 50 juta oleh oknum dari salah satu perguruan. Namun, setelah anaknya akan keluar dari tahanan, dia diminta lagi uang sebesar 60 juta. Menurut pengadu, jika uang tersebut tidak segera dibayar pada tanggal 6, anaknya akan dijemput kembali oleh APH. Dan ternyata, itu benar terjadi,” kata R. Ali.
Menanggapi laporan I, Bintara Center berencana segera menemui pihak-pihak terkait. R. Ali juga menyatakan bahwa ada dua hal penting yang akan ia kawal dalam penyelesaian kasus ini.
“Dalam waktu dekat, kami akan meminta kepada Kapolres, Kajari, dan khususnya Bupati Tulungagung untuk segera menuntaskan kasus ini. Karena yang bersangkutan telah menjadi korban pemerasan oleh oknum-oknum yang mengatasnamakan salah satu perguruan silat,” jelas R. Ali.
R. Ali juga menambahkan, bahwa terkait masalah pemerasan ini, pihaknya akan menyelidiki siapa yang terlibat dalam kasus “markus” (makelar kasus) di balik masalah ini. Ia menilai, bahwa masalah ini sebenarnya adalah persoalan kecil, namun justru dijadikan isu yang lebih besar.
“Kami menyayangkan situasi di Tulungagung saat ini, dan Bintara Center akan terus mengawal kasus ini hingga tuntas melalui jalur hukum,” tutup R. Ali.(Tim)
