Pelajar SMA Hang Tuah 5 Dibekali Kesehatan Mental Menjelang Masuk Perguruan Tinggi

CB, Sidoarjo — Pentingnya menjaga kesehatan mental bagi remaja, terutama menjelang masa transisi ke perguruan tinggi, menjadi fokus dalam kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan oleh dosen dan mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur (UPNVJT). Kegiatan yang digelar di SMA Hang Tuah 5 Sidoarjo pada Jumat (9/5/2025) ini mengusung tema “Ready, Set, Thrive! Menjaga Kesehatan Mental di Dunia Perkuliahan.”

Acara ini diinisiasi oleh dosen pendamping Mohammad Syarrafah bersama sejumlah mahasiswa Ilmu Komunikasi UPNVJT yang turut bertindak sebagai fasilitator dalam sesi interaktif itu. Kegiatan ini menghadirkan psikolog muda, Jessica Amelia, M.Psi., yang menyampaikan materi mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental, tantangan yang umum dihadapi saat memasuki dunia kuliah, serta strategi praktis untuk membangun resiliensi.

Pada kesempatan itu, Dosen Pendamping Kegiatan, Mohammad Syarrafah, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian kampus terhadap kesiapan mental siswa SMA dalam menghadapi dunia perkuliahan yang penuh dinamika dan tekanan. Biasanya, mahasiswa baru sering kali menghadapi culture shock ketika memasuki lingkungan kampus yang jauh berbeda dengan SMA.

“Mereka datang dengan ekspektasi tinggi, namun tidak semuanya siap secara emosional. Kegiatan ini adalah upaya konkret kami agar siswa mengenali potensi stres sejak dini, serta memahami bahwa menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan meraih prestasi akademik,” kata Syarrafah.

Ia menambahkan bahwa kesehatan mental bukanlah isu yang tabu untuk dibicarakan. Menurutnya, edukasi semacam ini justru menjadi salah satu cara untuk membentuk karakter tangguh dan peduli terhadap sesama. “Melalui kegiatan ini, kami juga ingin menanamkan bahwa membuka diri terhadap bantuan adalah bentuk kekuatan, bukan kelemahan,” ujarnya.

Pihak SMA Hang Tuah 5 Sidoarjo menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Bahrul Alam, S.Pd., mengungkapkan bahwa siswa kelas XII sangat membutuhkan pembekalan psikologis dalam menghadapi masa depan. Karenanya, ia sangat mengapresiasi kegiatan ini karena sangat relevan dan menyentuh kebutuhan siswa.

“Mereka tidak hanya butuh pengetahuan akademik untuk lolos ke perguruan tinggi, tetapi juga kesiapan mental untuk bertahan dan berkembang di lingkungan baru,” ujarnya.

Bahrul juga menilai bahwa pendekatan yang dilakukan dalam kegiatan ini berhasil menciptakan suasana nyaman dan akrab bagi para siswa. Dengan kehadiran mahasiswa sebagai fasilitator, serta materi yang disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami, siswa lebih terbuka dan merasa bahwa pengalaman mereka divalidasi. “Ini sangat penting untuk membentuk kepercayaan diri mereka,” lanjutnya.

Materi utama disampaikan oleh Jessica Amelia, psikolog yang kerap menangani kasus remaja dan mahasiswa. Dalam pemaparannya, Jessica menjelaskan bahwa perasaan cemas, takut gagal, atau merasa tidak cukup baik merupakan hal yang wajar dialami oleh remaja yang tengah memasuki fase kehidupan baru. Namun, hal tersebut tidak boleh diabaikan begitu saja.

“Sering kali, tekanan datang dari dalam diri sendiri, terutama karena membandingkan diri dengan orang lain. Di sinilah pentingnya membangun kesadaran akan batas diri dan belajar menerima diri,” jelas Jessica.

Ia juga mengajak siswa untuk tidak malu mencari bantuan profesional ketika menghadapi masalah emosional. “Curhat ke psikolog bukan berarti kamu lemah. Justru itu menunjukkan kamu peduli pada kesehatan dirimu sendiri. Sama seperti luka fisik, luka psikologis juga butuh perawatan. Dan resiliensi itu bukan bakat, tapi kemampuan yang bisa dilatih,” ungkapnya dalam sesi tanya jawab yang berlangsung hangat.

Saat itu mahasiswa Ilmu Komunikasi UPNVJT tidak hanya membantu teknis acara, tetapi juga berbagi pengalaman pribadi mereka selama menjalani masa-masa awal di perguruan tinggi. Hal ini membuat suasana lebih hidup dan membuat para siswa merasa lebih dekat secara emosional.

Salah satu mahasiswa yang turut menjadi fasilitator, Naila Thahira, menyampaikan bahwa kegiatan ini juga menjadi ruang belajar bagi para mahasiswa.

“Kami belajar untuk berbagi, mendengarkan, dan memahami bahwa setiap orang punya perjuangannya masing-masing. Rasanya luar biasa bisa menjadi bagian dari proses tumbuh mereka,” ujarnya.

Acara ditutup dengan sesi refleksi, di mana siswa diajak untuk mengungkapkan perasaan dan harapan mereka. Sebagian besar siswa mengaku merasa lebih tenang, lebih siap, dan lebih memahami bahwa menjaga kesehatan mental adalah bagian dari kesiapan hidup di masa depan. Kegiatan ini juga ditandai dengan pemberian cinderamata, dokumentasi bersama, dan pembagian booklet digital berisi tips menjaga kesehatan mental. (Penulis: Mohammad Syarrafah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *