CB, TULUNGAGUNG – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menahan Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, bersama ajudannya, Dwi Yoga Ambal, pada Sabtu malam (11/4/2026). Penahanan dilakukan setelah keduanya ditetapkan sebagai tersangka dalam operasi tangkap tangan (OTT).
Dalam operasi tersebut, KPK mengamankan 18 orang, dengan 13 di antaranya dibawa ke Jakarta untuk menjalani pemeriksaan lanjutan. Penyidik juga menyita sejumlah barang bukti, antara lain uang tunai sebesar Rp335,4 juta, dokumen, barang bukti elektronik, serta beberapa barang pribadi.
Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu, dalam konferensi pers menyampaikan bahwa Gatut Sunu dan Dwi Yoga Ambal diduga melakukan tindak pidana korupsi melalui modus “surat sakti”, yakni praktik penyanderaan pejabat guna memuluskan pengurusan fee sejumlah proyek.
Dan, atas perbuatannya, kedua tersangka kini ditahan di Rumah Tahanan (Rutan) KPK untuk masa penahanan awal selama 20 hari.
Sementara itu, di tengah mencuatnya kasus ini, nama Suci mendadak ramai diperbincangkan publik setelah videonya viral di media sosial. Dalam video tersebut, ia menyampaikan komentar tajam terkait dugaan korupsi yang menjerat Bupati Tulungagung.
Suci diketahui merupakan Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Desa Suwaluh, Tulungagung, yang saat ini bekerja di Taiwan. Meski berada di luar negeri, ia tetap aktif mengikuti perkembangan isu di daerah asalnya dan kerap menyuarakan pendapat secara terbuka.
Dan, perhatian publik memuncak saat Suci mengkritik kepemimpinan daerah yang kini tersandung kasus OTT. Ia mengaku telah lama menyuarakan kekhawatiran tersebut.
“Dulu saya sudah bilang, jangan kaget kalau suatu saat ada kejadian. Kritikan saya bukan asal-asalan,” ujar Suci dalam siaran langsung di akun media sosialnya, Sabtu (11/4/2026).
Tak pelak, pernyataan itu langsung menuai beragam respons dari warganet. Sebagian menilai kritik Suci sebagai bentuk kepedulian yang selama ini terabaikan. Gaya penyampaiannya yang lugas dan spontan dinilai menjadi kekuatan yang membuat pesannya cepat tersebar.
Namun, tak sedikit pula yang menilai cara penyampaiannya terlalu frontal. Perdebatan pun tak terhindarkan, sekaligus membuat sosok Suci semakin dikenal luas.
Terlepas dari pro dan kontra, kemunculan Suci menjadi bukti bahwa suara perantau tetap mampu memicu diskusi publik di daerah asalnya.
Di tengah sorotan terhadap kasus OTT yang melibatkan pejabat daerah, kehadiran Suci menjadi pengingat bahwa kritik sekecil apa pun dapat menjadi peringatan dini—yang jika diabaikan, bisa berujung pada kenyataan yang lebih besar.(tim)
