Oleh: Hadi Sucipto
Ketika seorang pemimpin mau memahami lebih dalam makna lagu Gundul-Gundul Pacul, niscaya ia tidak akan bersikap sembrono saat menerima amanah kepemimpinan.
Lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak ini memang terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya mengandung pesan penting bagi siapa pun yang memimpin.
Konon, lagu ini diciptakan oleh Sunan Kalijaga sebagai media dakwah dan nasihat, dan khususnya ditujukan pada muridnya yang kala itu menduduki jabatan penting alias raja.
Meski sederhana, setiap baitnya sarat makna yang mengajak pemimpin untuk bersikap rendah hati, bekerja keras, teguh dalam memikul amanah, serta menjaga kewibawaan.
Sayangnya, nilai-nilai semacam ini kerap dilupakan. Tidak sedikit pemimpin yang menganggapnya sekadar cerita lama atau mitos.
Akibatnya, pendekatan yang digunakan cenderung hanya mengandalkan logika, tanpa menghidupkan hati dan rasa. Padahal, kearifan lokal seperti ini justru menyimpan pelajaran mendalam tentang etika kepemimpinan.
Perlu disadari, Gundul-Gundul Pacul hanyalah satu contoh kecil. Masih banyak warisan para wali dan tokoh terdahulu yang mengandung nilai luhur. Namun, semua itu tidak cukup dipahami secara mentah hanya dengan akal; dibutuhkan kepekaan hati serta bimbingan dari mereka yang benar-benar memahami.
Lirik lagu ini berbunyi:
Gundul-gundul pacul cul gembelengan
Nyunggi-nyunggi wakul kul gembelengan
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar
Di balik kesederhanaannya, terdapat makna simbolik yang dalam.
“Gundul” dapat dimaknai sebagai kepala, yang melambangkan pemimpin. Sementara “pacul” dapat ditafsirkan sebagai perangkat yang melekat pada kepala—mata, telinga, hidung, dan mulut—yang harus dijaga dan digunakan dengan bijak.
Mata melambangkan kemampuan melihat kondisi rakyat secara jujur: apakah mereka hidup sejahtera atau justru menderita.
Telinga menggambarkan kesediaan mendengar aspirasi, keluhan, dan nasihat, serta menindaklanjutinya dengan tindakan nyata.
Hidung menjadi simbol kepekaan terhadap situasi, mampu membedakan mana yang baik dan buruk, lalu bersikap tegas dan berwibawa.
Mulut mencerminkan kewibawaan dalam bertutur, tidak asal bicara, dan tidak arogan.
Jika keempat hal ini tidak terkendali, maka lahirlah sifat “gembelengan” (sombong dan ceroboh). Akibatnya, seperti dalam lirik “wakul ngglimpang segane dadi sak latar”, amanah yang seharusnya membawa kesejahteraan justru berujung pada kerugian bagi rakyat.
Pada akhirnya, lagu ini mengingatkan bahwa kepemimpinan bukan sekadar kekuasaan, melainkan tanggung jawab besar yang harus dijalankan dengan keseimbangan antara akal, hati, dan rasa.
Semoga para pemimpin mau belajar dari kearifan yang diwariskan melalui simbol dan kiasan, karena di sanalah tersimpan ilmu yang tetap relevan sepanjang zaman.
