CB, Surabaya — Semangat masyarakat Surabaya dalam menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dinilai tidak mengalami penurunan, meski kondisi ekonomi dan situasi kebangsaan saat ini menghadapi berbagai tantangan. Kemeriahan peringatan kemerdekaan justru tetap terasa hingga tingkat kampung, RT, dan RW.
Wakil Ketua DPRD Surabaya Arif Fathoni mengatakan, antusiasme masyarakat dalam menyambut momentum proklamasi kemerdekaan masih terjaga dari tahun ke tahun. Berbagai kegiatan digelar warga, mulai dari perlombaan hingga kegiatan kreatif yang menjadi ruang kebersamaan.
“Antusiasme masyarakat dalam merayakan hari jadi proklamasi kemerdekaan tidak berubah dari tahun ke tahun. Denyut nadi kehidupan dan kebahagiaan masyarakat tertuang dalam setiap Sabtu dan Minggu melalui lomba-lomba di masing-masing RT dan RW,” kata Toni (panggilan akrab Arif Fathoni), Selasab(11/8/2026).
Menurut dia, kondisi kebangsaan yang dinilai sebagian pihak semakin berat tidak serta-merta mengurangi semangat warga Surabaya. Sebagai kota yang memiliki sejarah panjang perjuangan kemerdekaan, Surabaya masih menunjukkan gegap gempita menyambut peringatan 17 Agustus.
“Jadi, meskipun sebagian pengamat menganggap kondisi kebangsaan hari ini susah, itu tidak mengurangi antusiasme masyarakat Surabaya dalam memperingati hari Proklamasi Kemerdekaan yang ke-81 tahun,” ujarnya.
Toni juga menyoroti kegiatan lomba fotografi jurnalistik yang digelar kelompok kerja di lingkungan DPRD Surabaya. Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar hiburan, tetapi dapat menjadi sarana menyampaikan kritik dan merekam berbagai persoalan masyarakat melalui karya visual.
“Melalui lomba foto yang berisi kritikan dan narasi yang berkembang di tengah masyarakat, kemudian dituangkan dalam bentuk sebingkai foto. Saya pikir ini kegiatan yang produktif untuk perbaikan kehidupan kebangsaan di masa-masa yang akan datang,” katanya.
Di tengah kemeriahan tersebut, Toni menilai masyarakat perlu memahami bahwa tantangan bangsa ke depan tidak semakin ringan. Ketidakpastian geopolitik global menjadi salah satu faktor yang harus diantisipasi dengan memperkuat persatuan dan kesatuan.
“Persatuan dan kesatuan harus terus menjadi pilar relasi antar warga negara di Indonesia sehingga Indonesia bisa melalui masa-masa sulit di masa yang akan datang,” tegasnya.
Terkait imbauan Wali Kota Surabaya mengenai iuran kegiatan 17 Agustus, Toni berkilah hal itu merupakan bentuk kepedulian terhadap kondisi ekonomi warga yang berbeda-beda. Menurutnya, tidak boleh ada paksaan mengenai besaran iuran.
“Kalau masyarakat mampu, mestinya berkontribusi lebih banyak. Sementara masyarakat yang tidak mampu bisa berkontribusi dengan tenaga dan pikirannya untuk menyukseskan kegiatan peringatan hari kemerdekaan di masing-masing kampung,” jelasnya.
Bagi Toni, peringatan 17 Agustus bukan semata-mata tentang perlombaan dan kemeriahan. Momentum tersebut harus menjadi ruang refleksi atas pengorbanan para pendiri bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan dengan harta dan nyawa.
“Tugas kita sebagai generasi penerus adalah menjaga persatuan dan kesatuan sehingga negara ini tetap tegak berdiri dalam menghadapi tantangan kebangsaan di masa-masa yang akan datang,” katanya.
Ia menambahkan, makna kemerdekaan juga terletak pada kemampuan generasi saat ini merawat keberagaman.
“Perjuangan kemerdekaan di masa lalu susahnya luar biasa. Tugas kita sebagai generasi penerus adalah bagaimana merawat keberagaman sebagai pilar utama persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia,” pungkasnya.(Lg)
