Oleh: Soenarwoto
“KOPI itu senjata rahasia saya. Dengan minum kopi, saya jadi pinter,” kata Presiden Prabowo Subianto dalam sambutannya pada Harlah ke-28 PKB di Jakarta belum lama ini. Dengan minum kopi, sambung presiden, badannya jadi sehat dan kuat. Dalam sehari ia bisa berpindah-pindah tempat menghadiri acara kenegaraan.
“Tapi kali ini, asisten saya sepertinya tidak bener. Tidak bener ini, masak cangkir kopi saya diisi teh. Saya jadi minder ini berpidato di depan para kiai,” seloroh Presiden Prabowo dengan tersenyum. Candaan itu keruan bikin seluruh hadirin termasuk para kiai langsung tertawa ngakak. Gerrr…, seger.
Presiden kita sekarang memang jago melawak, walau kadang kerap “galak” dan sedikit “koplak”. Begitu kata para pengritik menilainya. Soal “koplak” ini dengarlah dalam pidato di kesempatan yang lain. Dengan terang-terangan Presiden Prabowo menuding LSM, aktivis, dan wartawan itu “Londo Ireng”.
Londo itu maksutnya Belanda, Ireng artinya hitam. “Londo Ireng” itu konotasinya negatif. Buruk. Londo Ireng itu sebutan bagi “anthek-anthek asing” atau “bolo kurowo” penjajah. Pengkianat bangsa.
Dulu, saat para pejuang sedang gigih merebut Kemerdekaan RI dari kekuasaan penjajah Belanda (Londo), ada segelintir orang pribumi jadi pengkianat. Demi kepentingan pribadinya, “Londo Ireng” itu ikut Belanda memerangi pejuang kita. Kiranya itulah kini kalangan LSM, aktivis, dan wartawan tidak terima disebut sebagai “Londo Ireng”.
Lalu, mereka pun melakukan aksi demo di mana-mana, melawan tudingan tersebut. Ada sekelompok wartawan di Jogjakarta melakukan demo dengan membawa poster besar bertuliskan: “Londo Ireng, Ndasmu..”. Kemudian ada berita yang menyerang balik, bahwa presiden-lah yang kakeknya dulu jadi “Londo Ireng”. Pengkianat.
Saya tak ingin mengulas atau menelisik kebenaran berita itu lebih detail. Tapi, saya cuma ingin meracik kata “kopi” dan “ireng”, sedikit kata “Londo” yang dilontarkan Presiden Prabowo. Ini agar tulisan terasa lebih hangat dan nikmat, untuk dibaca saat menyambut HUT ke-82 RI, atau ketika kini suasana politik sedang tidak baik-baik saja. Gaduh.
Soal kopi, memang sejarahnya dulu ditanam di jaman Belanda. Semua daerah di Indonesia, khususnya di daerah pegunungan dengan tingkat sinar matahari yang terik, petani kita dipaksa tanam pohon kopi (robusta)–untuk hasil panenannya dibawa pulang ke negerinya; Belanda. Kopi itu oleh penjajah Belanda didatangkan dari Afrika.
Maka nggak usah heran jika kopi itu warnanya hitam, sesuai dengan warna kulit orang Afrika. Maaf ini penulis tak bermaksud rasialis. Meski hitam, kopi memiliki “daya khasiat” yang luar biasa bagi tubuh manusia. Karena itu minum kopi disuka banyak orang, kaum muda hingga tua. Tapi, itu kopi yang murni alias asli bijinya. Tanpa campuran “karak” ( nasi basi dikeringkan), kajang hijau atau kedelai, dan jagung.
Untuk kopi campuran itu namanya “kopi nggereng” alias “angger ireng” (asal hitam). Pembuat “kopi nggereng” itulah yang layak disebut sebagai “Londo Ireng” alias pengkianat (koruptor). Mereka wajib
ditangkap dan diadili. Karena mereka telah dengan sengaja mengkianati pembeli dan merugikan rakyat. Mencampur serbuk biji kopi dengan “karak”, kacang hijau atau kedelai, dan biji jagung.
Menurut ilmu kedokteran, dampak minum “kopi nggereng” itu kurang sehat dan membahayakan bagi tubuh. Sebab, dalam waktu lama, serbuk campuranya menjadi apek dan menjamur. Teruntuk yang mulia Presiden Prabowo, mohon dengan sangat, minumlah “kopi ireng” bukan “kopi nggereng”.
Itu agar di usia tua bisa tetap sehat, pinter, dan tidak koplak. Maaf, penulis sekarang juga dalam keadaan koplak, gegara sampean menuding wartawan itu “londo ireng”. Pengkianat. I am sorry Mr Presiden, this is just a joke. 😀😀
Penulis wartawan senior tinggal di Tulungagung.
