CB, Surabaya – Minat membaca anak-anak berkembang pesat di Kota Surabaya. Oleh karena itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) dan Bunda Literasi terus mendorong orang tua untuk mengenalkan budaya membaca melalui program Ceria (Cerita Ayah Eri dan Bunda Rini Itu Asyik).
Bunda Literasi Kota Surabaya, Rini Indriyani mengatakan, agar anak-anak mengenal literasi maka harus dimulai dari keluarga. Rini menjelaskan, budaya literasi dari keluarga bisa muncul dengan berbagai cara, salah satunya yakni mendongeng.
“Karena dari basic keluarga itu insya allah dia (anak) kebiasaan ini akan dibawa dalam kehidupannya sehari-hari. Jadi, salah satunya adalah program Ceria ini,” kata Rini, Kamis (27/8/2026).
Tidak hanya itu, Rini menerangkan, jajaran Pemkot dan Bunda Literasi juga meningkatkan minat baca dengan menambah Taman Baca Masyarakat (TBM) di sejumlah lokasi. Mulai dari sekolah-sekolah, pojok baca, bahkan ada yang di Balai RW.
“Kita siapkan segala sesuatu yang memudahkan anak-anak itu dengan lingkungan membaca, sehingga terbiasa. Dekat, tidak jauh dari rumah dan nyaman. Itu harapan kita agar anak-anak di Kota Surabaya punya budaya untuk membaca,” terangnya.
Dari semua upaya itu, Bunda Literasi sekaligus Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kota Surabaya itu menjelaskan, rapor pendidikan 2025 mencapai 83,36 persen satuan pendidikan SD mencapai standar minimum literasi. Untuk mempertahankan capaian ini, pemkot tidak hanya menambah TBM dan buku saja, akan tetapi juga menggandeng perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS), serta sekolah di Kota Surabaya.
Menurut Rini, budaya literasi tidak hanya peran pemerintah saja, akan tetapi juga harus ada peran penting dari orang tua serta keluarga. Sebagai orang tua, harus bisa memilih buku sesuai usia dan minat anak dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti.
Peran orang tua juga penting di zaman serba digital seperti saat ini. Sebagai orang tua harus bisa membatasi penggunaan gawai, agar anak tidak salah memilih konten di media sosial (medsos). Selain itu, ia mengingatkan, jangan sampai gawai justru mengurangi minat literasi terhadap anak. “Gadget boleh digunakan tetapi jangan sampai menggantikan membaca dan interaksi antara orang tua dan anak,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dispusip Kota Surabaya, Yusuf Masruh mengatakan, jumlah TBM saat ini sebanyak 527 titik. Sedangkan koleksi buku yang dimiliki Dispusip mencapai 571.883 eksemplar per Agustus 2025. Selain itu, Dispusip juga memiliki sembilan unit mobil keliling dan satu motor perpustakaan.
Yusuf menjelaskan, rata-rata kunjungan perpustakaan mencapai mencapai 65.026 pengunjung. Meski demikian, ia menyebutkan, Dispusip akan terus meningkatkan jumlah kunjungan perpustakaan ke depannya. “Seiring dengan layanan perpustakaan digital yang kami kembangkan dengan melibatkan akademisi dan instansi terkait,” jelasnya.
Dalam mendorong minat literasi anak, Yusuf menerangkan, Dispusip terus mendorong program Ceria dan dikembangkan melalui roadshow. Di samping itu, juga ada lomba mendongeng kategori ayah, bunda, dan anak. “Kemudian diperkuat dengan pilar penggerak literasi melalui duta baca dan festival literasi,” terangnya.
Dirinya menambahkan, program ini akan diperluas dengan memperkuat peran keluarga dan komunitas. Ditambah lagi menghadirkan kegiatan membaca cepat, membaca nyaring, bercerita, dan berkarya lebih dekat dengan masyarakat. “Jadi program ini tidak berhenti pada kegiatan. Tetapi diarahkan menjadi gerakan dan budaya literasi di Surabaya,” pungkasnya. (bud)
