Cafe dan Karaoke Menjamur di Tulungagung Bupati Terpilih ‘Harus Mampu’ Persempit Tempat Maksiat

CB, TULUNGAGUNG – Tempat hiburan cafe karaoke  di Kabupaten Tulungagung,  disorot sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat.  Pasalnya,  keberadaan tempat hiburan yang indentik dengan hal ‘maksiat’ makin hari semakin tumbuh subur saja.  Bila hal ini dibiarkan, tidak menutup kemungkinan lima atau sepuluh tahun kedepan Tulungagung  ‘bakal’  jadi sarang prostitusi

Jumlah tempat hiburan café dan karaoke di Kota Marmer ini pun  cukup fantastik,  yakni kisaran seribu lebih.  Tempat hiburan café dan karaoke ini tak di kota saja tapi sudah marak di pelosok-pelosok desa. Dan,  saat beraktifitas,  sejumlah café karaoke pun menyediakan purel (pemadu lagu, red)  guna memikat  pengunjung.  Tak itu saja,  pengunjung dengan bebas mengonsumsi ‘banyu londo’ walau di  pintu masuk terpampang  tulisan tidak boleh membawa miras. Ironis memang.

Keberadaan café karaoke di Tulungagung diperkirakan terbanyak,  khususnya di wilayah Jawa Timur.  Tak heran,  mereka para purel dari berbagai kota di Jatim,  Jateng, Jabar bahkan dari luar jawa pun hijrah ke Tulungagung demi mengais rupiah. Semakin banyaknya wanita penghibur ke Tulungagung,  sudah barang pasti dampak negatif tertanam pada generasi muda serta lingkungan.  Sebab,  berpakaian mereka tak layak dikalayak umum,  khususnya dipertontonkan pada anak di bawah umur.

Sudah jelas,  para pemandu lagu yang hijrah ke Tulungagung ini,   mayoritas ‘wanita wanita’ siap melayani nafsu para hidung belang.  Bahkan,  mereka para wanita pemandu lagu tersebut disinyalir   ‘penyebar’ Human  Immunodeficiency Virus (HIV).  Hal ini terbukti data dari Dinas Kesahatan (Dinkes) Kabupaten Tulungagung,  yakni kisaran seribu lebih orang terkena virus  mematikan tersebut.  Bahkan,  tidak menutup kemungkinan ada  ribuan orang yang tak terdeteksi soal virus yang berujung kematian itu.

Melihat kejadian ini,  sudah selayaknya pemerintah memperhatikan serta ada tindakan serius pada  kasus yang tidak bisa disepelekan ini.  Sebab,  bila terus dibiarkan maka bisa dimungkinkan Kota Tulungagung menyandang  ‘Kota AIDS’. Padahal,  upaya Provinsi Jawa Timur membersihkan  tempat prostitusi,  yakni Gubernur Jatim Soekarwo (Pakde Karwo) pun telah lama menutup semua lokalisasi yang ada di seluruh Jatim.

‘’Kan sudah jelas, pemeritah provinsi telah melakukan kebijakkan soal penutupan lokalisasi.  Tapi kenapa lokalisasi di Tulungagung masih saja buka. Padahal,  setahu saya  di daerah daerah lain sudah tutup semua,’’kata Maksum (54),  warga Desa Kedungwaru, Kecamatan Kedungwaru Kabupaten Tulungagung ini kepada Cahaya Baru.

Bahkan,  lanjut pria yang juga seorang paranormal ini, keberadaan café karaoke di Tulungagung semakin marak tanpa ada pembatasan.  Yang lebih memprihatinkan,  tempat  hiburan  café karaoke telah lama merambah di pelosok-pelosok desa.  Sudah jelas hal ini bakal  merusak moral generasi penerus bangsa,  khususnya di Tulungagung. ‘’Kalau sudah begini,  mau dibawa kemana Tulungagung,’’jelasnya.

Masih kata Maksum,  terbukti keberadaan hiburan café karaoke  adalah bagian perusak moral,  namun tetap tumbuh subur bahkan menjamur.  Padahal,  tahun lalu  tempat Café Karaoke Yess yang berlokasi  Kutoanyar telah digerebek pihak polda,  karena terendus menyelenggarakan tarian telanjang tanpa sehelai benang.  Bahkan,  baru-baru ini  ada video panas yang tersebar di medsos (medsos, red) di sebuah Café Karaoke Venus yang berbuntut penutupan.

‘’Pemerintah Kabupaten Tulungagung harus peka terkait kasus demi kasus yang sering terjadi di sejumlah  Café dan Karaoke. Tapi kenapa,  Café dan Karaoke Yess yang telah terbukti melakukan tindakan melanggar hukun dan yang sudah ditutup bisa buka kembalagi dengan nama baru.  Ini sungguh ironis sekali,’’papar Maksum sembari menggeleng-nggelenkan kepala.

Untuk itu,  tambah pria yang memiliki banyak pasien dari luar kota ini,  bupati-wakil bupati terpilih nantinya harus mampu melakukan evaluasi kembali serta mampu mempersempit tempat hiburan yang berbahu maksiat  Hal ini,  dan tak lain,   upaya menjaga kembali nama Tulungagung semakin lebih baik dan bersih dari ‘sarang’ maksiat. ‘’Siapa saja bupati terpilih,  harus serius mempersempit tempat-tempat hiburan berbau maksit,’’harap Maksum. (had)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *