Masuk Program Repatriasi Kemendikbud di Tanjung Mendapat Reaksi Anak TKI Dari Sabah

CB, Kalsel – Masuk Program Repatriasi Kemendikbud di Tanjung, Ini Reaksi Anak TKI Dari Sabah Malaysia Ini

Aser dan Siti siswa repatriasi ditemani Rusanani di halaman depan kelas

Program Repatriasi dari Kemendiknas untuk menyekolahkan anak dari TKI yang ada di Sabah disambut baik oleh SMKN 1 Tanjung.

SMKN 1 Tanjung menerima empat siswa yang sudah mulai bersekolah pada tahun ajaran baru awal Agustus lalu.

Empat orang yang terdiri dari dua orang laki laki dan dua orang perempuan ini diperlakukan sama dengan siswa lain saat proses belajar mengajar.

Namun bedanya mereka mendapat pengawasan dan bimbingan penuh selepas jam sekolah bahkan perhatian dibaeikan selama 24 jam.
Karena pihak sekolah juga mengurus keperluan di luar sekolah seperti keperluan makan dan tempat tidur.

Rusnani,S.pd,MM Wakasek Kurikulum SMKN 1 Tanjung mengatakan keempat siswa memiliki orangtua angkat yang membantu dalam kesehariannya. Sementara itu Ribut Giyono,S.pd,MM yang merupakan pencetus program Indonesia Memanggil  ini menerangkan bahwa biaya hidup, bukan melalui Disdikprov Kalsel akan tetapi langsung dari DIREKTORAT PK/LK KEMENDIKNAS.

Dua siswa laki laki yaitu Aser Misa dan Irwandi tinggal bersama guru olahraga di rumah dinas. Dan dua siswa perempuan Siti Nur Syitah dan Eka Riyani tinggal di kos yang juga milik salahsatu dewan guru.

“Dengan demikian aktifitas siswa diluar sekolah bisa diawadi langsung oleh guru yang sudah seperti orangtua angkat bagi mereka,” ujarnya.
Rusnani mengatakan siswa juga dianjutkan untuk mengikuti ekstrakulikuler yang ada di sekolah untuk menambah pengalaman dan membentuk karakter sosial yang baik untuk siswa.

Program Repatriasi baru kali ini dilaksanakan di SMKN 1 Tanjung, program dari Kemendiknas ini meminta pihak sekolah juga bisa mengatur untuk biaya hidup.

“Dana dari Kemendiknas sebesar Rp 2 juta perbulan tiap anak yang digunakan untuk keperluan pendidikan dan sehari hari, untuk menghemat kami inapkan di rumah dinas dan di kos milik dewan guru, karena jika tidak biaya sewa cukup mahal dan tidak mencukupi untuk keperluan yang lain,” ujarnya.

Empat siswa ini merupakan anak dari TKI yang berada di Sabah Malaysia, sebelum mendapatkan program ini mereka melalui berbagai macam tes. Tidak seluruh anak yang bisa mendapatkan program repatriasi.

Anak anak yang ada di Sabah Malaysia dan tidak mendapatkan program repatriasi sebagian memilih menjadi buruh perkebunan kelapa sawit mengikutinjejak dari orangtua mereka.

Dan sebagian dari mereka memang tidak disertai dengan dokumen resmi sehingga mereka banyak yang dikejar-kejar pihak imigrasi.

Aser Misa salah satu siswa SMKN 1 Tanjung yang menjadi penerima program Repatriasi mengaku sangat bersyukur bisa mendapatkan beasiswa ini.

Karena dengan mendapatkan pendidikan dirinya berbarap bisa membantu orangtuanya yang saat ini di Sabah sebagai petani kebun.

Dirinya ingin membawa orangtuanya ke tanah air. “Saya ingin menjadi TNI dan saat saya sukses akan sawa bawa orangtua saya ke Indonesia,” ujarnya.

Dengan mengikuti program ini Aser mengetahui bahwa selama dua tahun kedepan dirinya tidak bisa bertemu orangtuanya ke Sabah Malaysia. Untuk mengobati rasa rindu dirinya sering melakukan komunikasi melalui jaringan telepon.

“Meski rindu saya tahan karena demi mewujudkan cita cita saya menjadi orang sukses,” ujar siswa yang mengambil jurusan Multimedia ini.

Sama halnya dengan Siti Nur Syitah, untuk dirinya bertekat ubtuk lebih giat belajar saat ibgat keluarganya. Dirinya berharap bisa sukses dan membanggakan keluarga. (Jhon)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *