Kepolisian Waspadai Aksi “Lone Wolf” di Perayaan Natal 2017

CB, Jakarta – Pengaman Natal dan Tahun Baru 2018 benar-benar mendapat perhatian khu sus aparat keamanan gabungan.

Salah satunya potensi ancaman terorisme melalui aksi tunggal (lone wolf) yang menyasar tempat ibadah dan pusat keramaian. Kapolri Jenderal Polisi, Tito Karnavian memprediksi ada beberapa potensi gangguan yang menjadi perhatian khusus pada peng amanan kali ini.

Bahkan, dia sangat mewaspadai aksi lone wolf terorisme yang justru sulit diprediksi pergerakannya. ”Lone wolf ada lah yang mereka gerak sendiri dan lebih sulit dideteksi seperti peristiwa Eropa dan Amerika Serikat,” ujar nya.

Tampak hadir pada acara itu, Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjah janto, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo, Menteri PUPR Basuki Hadi muljono, Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Salahuddin Uno, serta beberapa pejabat Polri dan TNI. Oleh sebab itu, mantan Kapolda Papua ini meng ins truksikan kepada seluruh jajaran kepolisian agar memperkuat dan memperketat pengamanan tempatibadah khususnya gereja.

Mengingat objek vital tersebut kerap menjadi target aksi teror. ”Misal tempat ibadah, pengamanan dilakukan dengan melibatkan unsur TNI, Polri, pemda termasuk ormas seperti NU,” ungkapnya. Tito menyebut potensi gangguan berikutnya adalah arus mudik dan balik saat perayaanNatal dan Tahun Baru 2018.

Pasalnya, mudik merupakan tradisi rutin yang dilakukan masyarakat dalam jumlah besar. ”Kedua arus mudik dan balik relatif cukup panjang. Mulai besok (hari ini) mungkin ada arus mudik dan balik. Imbauan saya kemasyarakat karena nanti Gringsing itu sedang perbaikan, maka akan kembali kepantura dan jalur selatan ini juga perlu waspadai,” kata mantan Kapolda Metro Jaya ini.

Potensi gangguan lainnya, kata Tito, adalah perubahan cuaca ekstrem di Indonesia. Salah satunya adalah jalur laut di Selat Sunda yang berpotensi di terjang gelombang besar. ”Salah satu hambatan ada lah cuaca ombak besar Selat Sunda. Tapi mungkin sudah ada Kemenhub meminta bantuan TNI AL kalau terjadi apa-apa kapal bisa dikerahkan,” ucapnya.

Terakhir versi Tito adalah masalah sweeping yang dilakukan sejumlah oknum saat perayaan Natal. Dia menekankan untuk mengedepankan rasa saling menghormati umat beragama satu sama lainnya. ”Sweepeing tidak boleh, ini adalah acara keagamaan yang dilindungi UU. Tolong masyarakat toleran untuk hargai agama lain yang sedang merayakan perayaan,” katanya.

Tito mengungkapkan, sebanyak 250.000 personel terdiri atas unsur Polri, TNI, dan pemerintah daerah (pemda) di siapkan untuk pengamanan Natal dan Tahun Baru 2018. Jumlah 250.000 personel tersebut terdiri atas unsur Polri 100.000 personel, TNI 80.000 personel, dan sisanya 70.000 personel dari unsur pemda.

”Memang ada penambahan personel untuk pengamanan perayaan Natal dan Tahun Baru saat ini di ban ding kan ta hun sebelumnya,” katanya. Menurut Tito, operasi pengamanan Natal dan Tahun Baru yang diberi nama Operasi lilin 2017 dimulai tanggal 22 Desember 2017 hingga 2 Januari 2018. (Febe)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *