CB, Surabaya – Pasca reformasi 1998, para aktivis di jatim tak pernah berhenti bergerak membela rakyat . Meski terjadi perbedaan metode dan pola pergerakan, komunikasi tetap terjalin erat. Ditengah kondisi yang semakin terang dan terbuka, mereka merasakan kebutuhan konsolidasi bersama. Untuk itu pada Minggu sore11/2 bertempat di Monkasel, Prodem (Pro Demokrasi) Jatim, dideklarasikan.
Deklarasi para aktivis pro demokrasi tahun 80, 90 an itu cukup meriah yg dihadiri perwakilan Jakarta dan Prodem yang ada di wilayah-wilayah di Jawa Timur. Dalam sambutannya ketua Prodem Jatim Masduki mngatakan, bahwa prodem merupkan wadah orang-orang atau lembaga yang jiwanya mewarisi para pendiri bangsa. ” ingat prodem bukan partai politik, prodem lahir karena keadaan yg tidak demokratis ,”kata Masduki. Sementara Bambang Purnomo, sekjen majelis prodem Jakarta, mengatakan, bahwa prodem harus bangkit dan merapatkan barisan. ” prodem ini kan jiwanya melawan pemerintahan yang tidak demokrasi, jadi setelah sekian lama sejak tumbangnya orde baru , demokrasi yang dirasakan masyarakat hingga kini masih jauh dari harapan para aktivis prodem,” ungkap bmbang, dalam pidato sambutanya. Dikatakan bambang, bahwa prodem harus cepat bergerak untuk menentang ketidakadilan yang selama ini dirasakan masyarakat. “kita harus bangkit membela ketidak adilan, sehingga harapan masyarakat terpenuhi.” ungkapnya. Sementara , Fitra Jaya Purnama, aktivis Prodem, dalam sambutannya, menyikapi, ketidakadilan yang belum dipenuhi di masyarakat indonesia
” kita harus melawan dan bangkit untuk memenuhi panggilan masyarakat indonesia, yang selama ini belum dipenuhi pemerintah. Demokrasi yang kita tegakkan dulu salama menumbangkan pemerintah orde baru, masih belum bisa dirasakan, Prodem harus bangkit dan melawan,” kata fitrah, penuh antusias . Kepengurusan ProDEM Jatim 2018, diisi oleh Masduki selaku Ketua , Wasis selaku sekretaris dan Gunadi Aswantoro sebagai bendahara . (Ful)
