Tiga Pembangunan Infrastrutur Dana Desa di Desa Manding Diduga Ada Markup

CB, TULUNGAGUNG – Dana Desa (DD) yang telah lama digelontorkan oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi, red), ternyata masih rawan penyelewangan. Tak pelak, sejumlah oknum Kepala Desa (Kades) yang tersandung hukum akibat ulahnya ‘memainkan’ dana desa tersebut pun masih saja terjadi.

Padahal, dana desa tersebut tujuannya tidak lain adalah upaya mengangkat pembangunan di desa, yakni guna kelancaran pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar. Disisi lain, dana desa ini sendiri merupakan ide dari Presiden Jokowi dan tentunya dana itu diberikan untuk pembangunan desa, dan dikerjakan pula oleh masyarakat desa dan menggunakan sebanyak mungkin material yang ada di desa.

Selain itu, Presiden Jokowi juga telah memanti-wanti agar tidak bermain-main dengan dana desa tersebut. Namun, ironisnya, himbauan itu terkesan diabaikan oleh sejumlah oknum pengelola dana desa. Hal ini, diduga juga terjadi di Desa Manding-Kecamatan Pucanglaban, Kabupaten Tulungagung.

Tiga pembangunan infrastruktur dari dana desa Tahun 2019 dan ditempat yang sama, yakni Pembangunan Sarana dan Prasaran Punden Umbul dengan biaya Rp.50.000.000 dengan volume 9×7 meter, Pembangunan Jembatan dengan biaya Rp.105.000.000 dengan volume 3×3 meter dan Pembangunan Talut Jalan dengan biaya Rp.60.225.700 ini sarat adanyan
penggelembungan alias ‘dimarkup’.

Tiga pembangunan infrastruktur yang berlokasi di RT 06 RW 02 Desa Manding ini telah disorot oleh tokoh masyarakat dan warga. Mereka, menganggap pembangunan itu diduga ada akal-akalan oknum alias untuk mencari keuntungan pribadi.

Pembangunan jembatan misalnya, hanya ada sebuah cakar ayam dan tanpa adanya pengikat atau orang desa menyebutnya soko alias penyangga. Sehingga, hal ini ditakutkan pembangunan jembatan tersebut mudah retak dan jembatan pun rawan ambles.

Disisi lain, pembangunan jembatan itu diduga tak akan bisa bertahan lama. ”Sampeyan kan tahu sendiri, jembatan itu belum lama jadi sudah pada retak,”kata GM kepada Cahaya Baru.

Soal Punden Umbul, lanjut GM, pembagunannya memakan waktu kisaran tiga pekan dan hanya dikerjakan enam orang, terdiri dari tiga tukang dan tiga kuli. Dan, menurutnya, pembangunan Punden Umbul itu pun hanya menghabiskan kisaran 35 semen saja. ”Kalau dihitung kesemuanya, pembangunan Punden Umbul itu tidak sampai Rp.50 juta,”jelasnya seraya mengatakan kalau gaji tukang senilai Rp.100ribu dan untuk kulinya Rp.75ribu/hari.(rul)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *