Hendro: Mereka Biar Lebih Semangat Lagi
CB,TULUNGAGUNG – Sembilan bulan berlalu, Tulungagung menghadapi ujian berat wabah Covid-19. Pendemi yang dirasakan di Indonesia dan berkisar 216 negara di dunia itu telah melumpuhkan berbagai sektor strategis. Tak terkecuali sektor perekonomian Tulungagung yang juga menghadapi tekanan resesi. Namun, Tulungagung, di bawah kepemimpinan Bupati Maryoto Birowo terus melakukan berbagai inovasi untuk mendorong percepatan ekonomi di “Kota Marmer” ini bisa pulih kembali.
Tak itu saja, upaya memutus mata rantai penyeberan Covid-19, yakni operasi Yustisi dengan tiga pilar pun gencar dilakukannya. Tak ayal, Kabupaten Tulungagung akhirnya menui
predikat terbaik se-Jatim terkait penanganan wabah yang menggemparkan dunia itu. Kini, Bupati Tulungagung, Drs Maryoto Birowo terus melakukan berbagai upaya agar perekonomian di Tulungagung segera hidup kembali seperti tahun-tahun lalu.
Melaluli Dinas Perindustrian dan Perdangan Pemkab Tulungagung, berbagai bantuan pun telah digelontorkan serta kegiatan pelatihan mapun pembinaan juga terus digalakan. Seperti yang dilakukan oleh pihak Disperindag Tulungagung, Senin
(7/12), memberi pembinaan kepada 15 orang pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) di Rumah Makan Bima. Rencananya, pembinaan belasan pelaku IKM ini berjalan dua hari. Selain memberi pembinaan, Disperidag juga telah memberi bantuan 15 unit mesin seset kulit kepada 15 peserta tersebut.
Sementara itu, kegiatan pelatihan kepada belasan IKM produk kulit itu, yakni dalam rangka upaya pemberdayaan kepada para pelaku usaha kecil, khususnya pelaku produk kulit. ”Jumlah peserta ini Sebanyak 15 orang mas dan ini menyesuaikan anggaran kita,”kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Dra Imrotatul Mufidah MSi melalui Kabid Industri, Hedro Suseno kepada Cahaya Baru, kemarin.
Dari pembinaan ini, lanjut Hedro, dirinya berharap ada pengembangan produk, khususnya yang di Kabupaten. “Mudah-mudahan nanti para pelaku usaha kecil yang memproduksi kulit bisa mendapatkan keterampilan untuk pengembangan produk yang lain. Misalnya nanti (kemarin, red) juga kita ajarin cara membuat dompet, tas dan sepatu serta produk-produk lainnya,”jelas Hendro.
Masih kata Hendro, kalau produk kulit tentunya harus melalui proses serta membutuhkan penyamaan. Karena, menurutnya,
dengan melalui proses itu harga jual pun bisa bernilai tinggi. “Sebenarnya akan lebih bernilai tinggi kalau untuk produk-produk asesoris dan pakaian dan yang lainnya melalui proses serta penyamaan,”kata Hendro.
Sambut datangnya Jalan Lintas Selatan (JLS), tambah Hendro, dirinya menginkan di Kabupaten Tulungagung mempunyai sentra seperti di wilayah Kabupaten Pacitan dan Kabupaten Magetan itu. “Kita juga ingin punya sentra apalagi nanti menjelang JLS itu selesai, wilayah selatan menjadi tujuan utama para wisatawan, ”jelasnya.
Selain itu, imbuhnya, yakni persiapan untuk menyambut adanya bandara Kabupaten Kediri, pastinya wisatawan bakalan lewat Tulungagung.
Mengingat, di Kediri tidak memiliki wisata pantai, maka besar kemungkinan mereka wisatawan bakalan lebih betah di Tulungagung, karena kaya akan wisata lautnya.
“Tulungagung kan
masih belum banyak kerajinan kulit, dan mereka juga masih belum tertata dengan baik. Jadi, harapan kita
setidaknya mereka punya perspeksi yang sama untuk menyongsong selesainya JLS dan bandara di Kediri itu. Apalagi, mereka juga banyak yang belum memiliki izin,”jelasnya.(Aha)
