CB, Gresik – Wakil Bupati Gresik Aminatun Habibah yang akrab dipanggil (Bu Min), melakukan peninjauan pelaksanaan uji coba Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Huda I Jalan raya Kepatihan No. 75, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, Jawa Timur Kamis (22/4/2021).
Turut mendampingi dalam peninjauan tersebut Kasi Kementerian Agama Kecamatan Menganti Akhmad Yahya, S. Ag. M. Pd. I, PTM tersebut dihadiri 56 siswa,
Untuk lembaga pendidikan di bawah naungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gresik, uji coba pembelajaran tatap muka dilakukan pada 2 lembaga yaitu MI Khoirul Anam dan MI Nurul Huda I
Kegiatan ini diawali dengan peninjauan secara langsung proses pembelajaran tatap muka dengan menerapkan protokol kesehatan di masing-masing ruang kelas oleh Wakil Bupati dan rombongan. Dalam kesempatan tersebut, Wakil Bupati Gresik Bu Min juga berdialog sambil memberikan semangat kepada para peserta didik. Tidak hanya itu, Wakil Bupati juga berkeliling melihat sarana prasarana yang tersedia di MI Nurul Huda I mulai dari sanitasi, tempat cuci tangan hingga toilet. Peninjauan pelaksanaan uji coba pembelajaran tatap muka ini diakhiri.
“Alhamdulillah, hari ini saya sudah meninjau pelaksanaan uji coba pembelajaran tatap muka di MI Nurul Huda I. Secara keseluruhan semua sudah berjalan dengan baik,” katanya. Dari hasil peninjauan yang dilakukan Wakil Bupati menyatakan bahwa madrasah sangat semangat menyambut uji coba pembelajaran tatap muka. Siswa yang mendapatkan giliran masuk semua menyampaikan bahwa mereka semangat dan merindukan sekolah.
“Karena memang 50 persen siswa yang diizinkan untuk masuk dan menjadi tugas sekolah untuk mengatur mana yang harus masuk dan mana yang untuk sementara melakukan pembelajaran online di rumah, begitu seterusnya,” jelasnya.
Wakil Bupati mengharapkan uji coba pembelajaran tatap muka ini menjadi sarana pembelajaran sekaligus pembiasaan pada kenormalan baru di lembaga sekolah. Tidak hanya untuk kepala sekolah, guru dan murid patuh pada protokol kesehatan, tetapi lembaga sekolah bisa menjadi role model dan agen of change di lingkungan masyarakat yang lebih luas.
“Bagaimana menyikapi, cara bersikap dan bertindak diera pandemi Covid-19. Tentu tidak hanya sekedar protokol kesehatan, tetapi juga pola hidup bersih dan keterbukaan antar pribadi dengan pribadi serta bagaimana latar belakang murid. Harus ada keterbukaan informasi, misalnya apakah murid ini dari luar kota, menjenguk orang sakit dan lain sebagainya. Sehingga tidak kemudian kita berkutat pada narasi pertentangan di tengah-tengah masyarakat terkait penanganan Covid-19,” pungkasnya. (Guh/Team)
