CB, Gresik – Tradisi pergantian pucuk pimpinan daerah kabupaten Gresik beberapa waktu lalu (awal/2021), tentunya program dan kebijakan oleh Bupati/wakil yang baru terhadap proses penyelenggaraan dan tenaga fungsional pendidikan akan pula turut berubah.
Media Cetak & Online Cahaya Baru, berharap semaksimal mungkin turut pula berkontribusi sesuai peran dan fungsinya sebagai profesional media yang bebas dan bertanggung jawab dengan memberikan input referensi dari berbagai macam aspek dan bidang-bidang, khususnya kepada penyelenggara pendidikan daerah kabupaten Gresik, provinsi Jawa Timur.
Telah menjadi catatan dan masih tersimpan dalam memori ingatan dari personalitas individu awak media, mengingat keikut sertaannya dalam mengawal sekaligus pemerhati pola keberlangsungan penyelenggaraan pendidikan khususnya diwilayah kabupaten Gresik. Kurun waktu yang cukup relevan bermitra, didukung dengan kompatibilitas peran dan fungsi pers media sebagai edukator, bagi awak media menjadi hal yang wajib untuk mengemukakan segala sesuatu yang pernah dialami kepada pimpinan daerah yang baru beserta segenap jajarannya.
Dikemas dalam artikel yang singkat dan sengaja tidak secara transparan oleh awak media dalam mencantumkan nama-nama yang menjadi sumber informasi, besar harapan melalui kelembutan pola pikir pola sikap serta pola tindak dalam karya ini menjadi semakin eratnya jalinan ukhuwah.
Menyambung artikel berita yang sebelumnya (Ada Apa Dengan Lembaga Pendidikan Daerah, Gresik?, diulas bersama sumber tenaga fungsional dan/atau karyawan lembaga pendidikan sekolah daerah kabupaten Gresik dengan tingkat jabatan golongan bawah, secara automatis langsung bersentuhan dengan masyarakat dan berpeluang lebih bertanggung jawab.
Mengapa tidak semuanya karyawan sekolah seperti anda ?, yang sangat mengerti dengan hajat hidup saya menjalankan hidup dilapangan sebagai wartawan ?, ungkap awak media kepada karyawan sekolah tersebut, setelah mengalami kejumudan berfikir saat berkunjung kelembaga pendidikan sebelah.
Dikata akrab, wong belum mengenal nama dan terhitung masih beberapa kali pertemuan, akan tetapi senyuman dingin menyejukkan dan akrab nampak selalu menghiasi wajah sang karyawan sekolah tiap kali berucap, santai saja ya Mas (awak media) dan mohon maaf bila ngobrolnya kurang leluasa karena kebetulan saya pas mengasuh anak, ucapnya.
Bagi awak media, kesempatan dapat ngobrol dari hati kehati bersama karyawan sekolah golongan bawah adalah dengan tujuan memupuk nilai-nilai spiritualitas (Pakerti), sebagai guna dalam memenuhi kebutuhan fitrah rohani manusia yaitu rasa tenteram atas kepuasan menjalani hidup yang beretika atau bermoral (akhlak).
Aklhak atau pakerti manusia, melalui transformasi dengan seiring perkembangannya menjadi sumber lahirnya peradaban, akhlak atau pakerti adalah implementasi dari pengetahuan yang tumbuh menjadi keyakinan, tertanam dan terbentuk oleh lingkungan keluarga semenjak belum sekolah.
Terlalu dalam Mas (awak media), sahut karyawan sekolah, intonasi yang menunjukkan rasa kesal, menjadikan rasa ingin tau dari awak media, berusaha ingin menggali lebih dalam lagi tentang apa yang telah dialaminya. Lama tidak bertemu, sekaligus menjadi moment baik bagi awak media untuk bertukar fikiran mengingat tidak semua karyawan sejawat berkepribadian yang sama atau terbuka.
Menyinggung kesejahteraan dan jaminan hidup dikemudian hari bagi karyawan sekolah golongan bawah, awak media memberikan contoh dengan menyebutkan nominal variasi penghasilan dari karyawan sejawat diberbagai tempat, enak ya, sangat cukup bagi ukuran beaya hidup saya, jawabnya ringan, tidak terlintas kedengkian.
Faktor apa yang menjadikan Njenengan (Anda) seakan kelihatan kesal hati jika melihat saya sebagai wartawan, tanya awak media, bukan kepribadian atau cara berkomunikasinya, tapi wajar bila semua orang yang melihat tampilan dengan rambut gondrong kebanyakan beranggapan kurang bersahabat, jawab karyawan sekolah sambil tertawa lepas.
Melaksanakan tugas pekerjaan sebagai karyawan sekolah dengan sebenar-benarnya sesuai peraturan dan kebijakan pimpinan, tuturnya. Berjiwa pengabdian bagi tenaga fungsional pendidikan menjadi hal yang harus, mengingat lembaga pendidikan sekolah adalah garda terdepan dalam mencetak generasi penerus bangsa.
Tanggung jawab berat tentunya bagi karyawan keamanan sekolah. Perasaan sesama manusia, tidak jarang harus menanggung kecewa dan kesal hati bila kedatangan tamu yang sulit untuk diarahkan dan memaksa untuk bersikap kasar, dan akhir-akhir ini sering terjadi hal demikian yang saya alami, ungkapnya jelas.
Bagi awak media, bertujuan untuk melegahkan serta membuat berbesar hati bagi setiap karyawan sekolah khususnya team keamanan terhadap keberadaan para wartawan dan lembaga kontrol sosial yang lainnya, atau tamu yang tidak kooperatif yang mengecewakan dan membuat kesal hati dengan memaksa untuk bersikap kasar.
Spontanitas respon, berdasarkan prinsip pendidikan Unesco yang menggabungkan antara IQ, SQ, EQ, menjadi dasar dari awak media memberikan gambaran atau cermin apa yang telah kita alami bersama saat ini.
Bila kecewa dan/atau kesal hati yang berujung pada sakitnya hati, menurut awak media terdapat tiga penyebab dan rana.
Pertama, yaitu sakit hati oleh karena kualitas inteligensi (IQ) yang menjadi penyebab cerdasnya rasionalitas/finansial, rananya adalah hati luar (fuad).
Kedua, yaitu sakit hati oleh karena kuantitas spiritualitas (SQ) yang menjadi penyebab cerdasnya moralitas/akhlak, rananya adalah hati tengah (Qolbu).
Ketiga, yaitu sakit hati oleh karena esensi emosional (EQ) yang menjadi penyebab cerdasnya emosional/integritas, rananya adalah nurani (Sudur).
Nilai-nilai agama yang tersebut dalam UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, menjadi referensi dasar dari uraian argumentasi yang sifatnya masih sangat relatif. Tak lupa rendah hati dan dari lubuk hati yang terdalam dari awak media Cetak & Online Cahaya Baru berharap akan koreksi atau teguran dari semua pihak.bersambung.(Sub)
