CB, GRESIK – Bismillah, Allohumma akhyini miskhinan Wa amitni miskhinan Wahshyurni fi zumrotil masakhin, Ya Alloh Ya Robb, jadikan dunia rendah dalam pandangan hamba, seperti halnya dunia rendah dalam pandangan kekasih-Mu, aamiin aamiin aamiin Ya Robbal Aalamiin.
Tiada kekayaan yang lebih utama daripada akal. Tiada keadaan lebih menyedihkan daripada kebodohan. Tiada warisan yang lebih baik daripada pendidikan. Dan tiada pembantu yang lebih baik daripada musyawarah. – Ali bin Abi Thalib.
Dunia, adalah kerangka nilai dari sebuah sistem yang menghasilkan matrealistis (Fana), dan bilamana Akhirat ialah sustainable nilai yang akan menghantarkan pada puncak moralitas yaitu akhlakul karimah (Baqo’).
Ber-Pekerti Punto Dewo, Ratu Negri Amarto (Jawa) yang bergelar Ratu paling sabar se-Dunia, jika demi kebahagian bagi orang lain, segalanya bahkan nyawapun ia relakan, bukankah demikian Taqwa yang bermakna hakiki, Tawakkal terhadap grafitasi Dzat Yang Maha Merdeka dan Maha Bebas, (Qidam/Punden).
Ber-Hati Werku Doro, Sang Perkasa penakluk nafsu keangkara murkaan dan penumpas hasut sipengadu domba, berputra Gatot Kaca (Udara) ksatria penguasa ilmu dirgantara/langit, Onto Seno (Air) ksatria penguasa ilmu laut dan Onto Rejo (Tanah) ksatria penguasa ilmu bumi.
Ber-Akal Arjuna, cerdas diperoleh dari fokus pada denyut ubun-ubun (Pangroso) terpadu rasional, lebih mengedepan estetika rasa,
termaghnet semua lawan jenis, imajiner dalam memfaktakan Surga dan Neraka.
Ber-Jiwa Raga Nakulo Sadewo, komitmen bertabiat lahir dan bathin yang tidak lain dimulut lain dihati (Kembar/Kawin).
Pandowo, sebagaimana urian singkat diatas dapat kiranya menjadi bahan instropeksi sekaligus menginspirasi khususnya bagi penulis dan besar harapan juga dapat bermanfaat bagi publik.
Mengingat tidak terlepasnya 2 tokoh figur pamomong Pandowo yakni Eyang Semar dengan Punokawannya, serta Eyang Prabu Krisna titisan Bethara Whisnu.
Pada artikel selanjutnya akan menguraikan sekemampuan penulis tentang hal ihwal dan metode lahirnya Demokrasi (Musyawarah) di jagad raya ini khususnya dibelahan bumi tercinta Nuswantara.
Sesuai titah dari Sang Hyang Wenang, bahwa Eyang Semar akan mengejawantah sebagai pendiri atau pelopor lahirnya demokrasi dalam wadah Pedukuhan (Desa), dan sebagai pengingat pula bahwa Hanya Eyang Semar yang mampu menundukkan Bethari Durga (bi-Adab) dan Bethoro Kolo (Bala’/Bencana).
Tentu menjadi hal yang rasional dan wajar bila pada artikel ini penulis memberi judul Eyang Semar, Kiblat Demokrasi Dan Politik Dunia, Kembalikan Kejayaan Nuswantaraku. bersambung.(Sub)
