CB, Surabaya – Antisipasi penanganan omicron di Surabaya, perlu dilakukan secara humanis oleh para penegak perda terhadap pelaku usaha yang akhir akhir ini ekonominya lesu.
Arif Fathoni angota komisi A DPRD Kota Surabaya mengatakan, penanganan covid pada tahun pertama 2020 sampai 2021 ia berharap tidak ada represifitas aparat penegak perda ke warung warung kopi yang ada di surabaya, karena kita tidak menerapkan undang undang karantina, artinya selama pemerintah tidak bisa memberi makan warganya, Arif Fathoni berharap warung kopi di beri keleluasaan untuk terus mencari nafkah. (23/02/2022).
“Tugas kita hanya memastikan bahwa tempat tempat usaha tersebut protokol kesehatanya terjaga, artinya kalau ada kerumunan ya di ingatkan,” katanya.
Sosialisasi yang model begitu menurut Thoni sapaan akrab Arif Fathoni relatif lebih bagus, dibandingkan kita menerapkan represifitas bagaimana yang terjadi pada tahun 2020 sampai 2021
Ia menyampaikan ini dari paparan Dinas Kesehatan, sampai hari ini warga Surabaya yang meningal karena varian omicron nol kasus,sementara warga yang terpapar itu 93% mengalami kesembuhan, artinya virus omicron yang diprediksi puncak gelombang ke tiga ini, itu tidak semenakutkan varian delta kemarin yang telah banyak saudara saudara kita yang gugur mendahului kita semua, mangkanya hari ini kita saksikan dua minggu terakhir ekonomi surabaya lesu kembali, karena pemberitaan yang sedemikian masif tentang bahaya omicron, penerapan PPKM level 3 dan sebagainya.
Agar upaya upaya penanganan covid ini seiring dengan pemulian ekonomi maka kebijakan gas, rem itu perlu diterapkan, artinya ada beberapa tempat yang berpotensi menimbulkan penularan itu perlu diawasi secara seksama, untuk tempat tempat usaha yang berkaitan aktifitas perekonomian riil ya harus ada kelenturan kelenturan, relaksasi relaksasi.Tugas kita agar protokol kesehatan itu tetap terjaga.
Ia juga melihat kepanikan kepanikan manakala ada mobil Swab Hunter.”saya pernah ngopi di daerah UPN Surabaya ada mobil swab hunter itu, warga yang sedang ngopi itu pada lari semua, seolah olah itu sesuatu yang menakutkan, nah, ini piskologi masa seperti ini, kan harus di antisipasi.
Thoni berharap metode sosialisasinya bersifat humanis, kalau mau patroli silakan karena itu kewajiban, tapi patroli itu tujuanya memastikan, bukan aktifitas mata pencaharian itu harus tutup, tetapi lebih mengedukasi protokol kesehatan.” ya dingatkan, kalau tidak pakai masker ya berikan masker,” ujarnya.(lang)
