CB, TULUNGAGUNG-Aksi demo yang dilakukan ratusan siswa SMKN 1 Boyolangu, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, masih menjadi bahan perbincangan oleh kalangan masyarakat. Pasalnya, ‘tarikan’ yang diperuntukkan pembangunan parkir serta renovasi ruang sekolah itu ditengarai tak kunjung tersedia di sekolah. Selain itu, tarikan itu sendiri dianggap telah menambahi beban bagi orang tua siswa.
Padahal, dua hari sebelum ratusan siswa SMKN 1 Boyolangu ini melakukan aksi demo di halaman sekolah, orang tua siswa ini telah melakukan aksi protes ke pihak sekolah dengan merasa keberatan adanya sumbangan itu, akan tetapi tak ada respon dari pihak sekolah.
Aksi protes yang dilakukan orang tua siswa itu mengingat kondisi perekonomian mereka belum stabil dampak Covid-19 dan ditambah lagi serangan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang mengakibatkan banyaknya sapi yang meninggal.
Menanggapi aksi demo para siswa itu, Sindhu, Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdin) Provinsi Jawa Timur, di Tulungagung akhirnya memanggil Kasek (Arik Eko Lestari, red), Komite dan Wakasek SMK 1 Boyolangu ke kantor Kacabdin setempat.
“Ya, intinya kami sudah memanggil Kasek dan Komite serta Wakasek SMK 1 Boyolangu soal aksi demo siswa itu ke kantor Kacabdin,” ujar Kacabdin Sindu Tulungagung saat dikonfirmasi Cahaya Baru via WhatsApp, Rabu (07/09).
Namun demikian, pria kelahiran Surabaya ini menambahkan bahwa sumber pendanaan sekolah ada tiga, yakni BPOPP dan BOS yang perhitungannya berdasarkan biaya per siswa. BPOPP dan BOS ini hanya untuk cukup untuk operasional saja.
“Jadi, kalau butuh tambahan sarana prasarana, peningkatan sarana prasarana bahkan tambahan dan sesuai Permendikbud, maka sumber dananya dari komite sekolah yang merupakan perwakilan orang tua yang menghimpun dana secara sukarela,” kata Sindhu yang meneruskan statement Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Wahid Wahyudi.(rul)
