Soal Sumbangan di SMAN 1 Ngunut, Plt Kasek: Akan Dikelola Dengan Benar dan Transparan

CB, TULUNGAGUNG – Jer Basuki Mawa Beya, pastinya sudah tidak asing  bagi masyarakat Jawa Timur, karena pepatah ini merupakan semboyan Provinsi Jawa Timur. Sedangkan budaya Jawa, yakni semua pepatah mempunyai makna yang bisa kita pelajari dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Karena, pepatah sendiri diambil dari ajaran luhur, tentu pula sedikit banyak akan mengajarkan nilai-nilai kebaikan. Sama halnya dengan pepatah Jer Basuki Mawa Beya, dalam maksud yang terkandung, setiap keberhasilan memerlukan sebuah pengorbanan. Sehingga, seperti sumbangan di sekolah seakan menjadi bagian tak terpisahkan dari kegiatan belajar mengajar.

Dan, soal sumbangan yang baru-baru ini terjadi di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Ngunut, Kecamatan Ngunut Kabupaten Tulungagung, yakni sejumlah orang tua siswa mengeluh adanya sumbangan yang dibebankan pada anaknya itu.

“Bukannya kita tidak mau menyumbang, cuma cara memintanya yang tidak kita terima, apalagi menyebut nominalnya,” ujar LA (45) wali siswa kepada awak media, Rabu (12/10).

Kebijakan yang disampaikan wakil Gubernur Jawa Timur melalui video yang beredar, lanjut LA, isinya sudah jelas. Akan tetapi, di SMAN 1 Ngunut ini masih saja terjadi kegiatan menarik sumbangan yang tidak sepenuhnya bersifat sukarela.

“Sebenarnya itu sudah lama berjalan. Ketika Wagub (Jatim) gencar sosialisasi untuk mengajak menolak pungli, terus himbauan ke seluruh instansi pendidikan negeri untuk berhenti pungli, di SMAN 1 Ngunut tetap berjalan,” jelasnya.

Ironisnya, imbuhnya, sebelum menentukan nomilan sumbangan, yakni para siswa disebut LG ditanyai berapa pendapatan orang tuanya. Sehingga, semua itu Mirip sensus, dan hal ini untuk membedakan nominal sumbangan. Dan, menurutnya, semestinya sumbangan menyebut nominal.

LA juga mengatakan, hal yang paling aneh terkait tarikan sebesar Rp.250 ribu untuk yearbook yang disebut LG sarat dengan motif pungli.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Sekolah SMAN 1 Ngunut Agung Ismiharto mengatakan, soal sumbangan yang dimaksud bersifat sukarela, yakni pihaknya hanya menyampaikan dan itu sudah selesai dibahas di komite.

“Itu sudah selesai dibahas di komite, kita hanya menyampaikan bahwa saat ini ada bangunan berupa tempat parkir siswa yang sudah seharusnya di renovasi karena sudah berusia 25 tahun,” jelas Agung saat dikonfirmasi para awak media di ruangannya, Rabu (12/10).

Sehingga, lanjut Agung, sebelum diputuskan komite mengajak musyawarah seluruh orang tua siswa untuk menentukan langkah apa yang harus diambil.

“Maka kemudian di putuskan partisipasi dalam bentuk sumbangan sukarela,” paparnya.

Agung juga menegaskan, terkait nominal yang ditentukan itu, kalau pihaknya tidak bisa serta merta mencampuri urusan musyawarah dan kesepakatan komite dengan orang tua siswa.

“Saya kira tidak ada di tentukan berapa nominal wajibnya, musyawarah itu sepenuhnya dilakukan komite dan orang tua siswa,” imbuhnya.

Masih kata Agung, jika kemudian terbit kwitansi dengan kop dan loggo sekolah dengan besaran nilai sumbangan, iapun menjelaskan bahwa prosedur itu dilakukan untuk menjamin tranparansi.

“Semua jadi tau bahwa uang sumbangan masuk ke rekening komite dengan kerjasama bank Jatim. Kwitansi ini sebagai bukti bayar dan permintaan dari orang tua, agar jika siswa telah memberikan sumbangan maka bisa ditunjukkan buktinya dan supaya anaknya tertib administras,” tuturnya.

Sebagai pelaksana tugas kepala sekolah, tambah Agung, dirinya bakal terus melakukan evaluasi setiap kebijakan yang berkaitan dengan lembaga pendidikan yang ia pimpin ini.

Soal sumbangan itu tak ditampiknya, karena pihak SMA Negeri 1 Ngunut punya kewajiban memberi insentif pada puluhan tenaga pengajar GTT dan PTT. “Ada honorer yang harus ditanggung pihak sekolah. Jadi, sumbangan yang kita terima, akan dikelola dengan benar dan transparan,” tandasnya.

Namun demikian, dalam pelaksanaan penarikan sumbangan ini, menurutnya belum semua orang tua siswa memberikan ke komite. “Belum semua menyumbang, kita memang tidak memaksakan. Itu sumbangan sukarela,” jelas mantan Wakasek SMAN 1 Kedungwaru ini.(rul)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *