Cahayabaru.id, Blitar – Dalam rangka memperingati HUT ke-23 Dharma Wanita Persatuan (DWP) Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Wilayah Blitar menyelenggarakan Lomba Nembang Macapat, yang dilaksanakan di gedung SMK Negeri 1 Kota Blirar. Hadir dalam acara, ketua DWP Blitar, Kepala Sekolah SMKN 1 Kota Blitar, Koordinator bidang pendidikan, juri lomba dan peserta lomba..
Menurut Ketua DWP Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Blitar, Anarita Juli Irawati Solikin, melalui koordinator bidang pendidikan, Suhartini Sugiadi mengatakan bahwa acara ini bertujuan untuk melestarikan dan menggali budaya khas yang ada di Blitar.
“Memang selama ini kita belum pernah mengadakan agenda lomba seni budaya macapat untuk ibu – ibu Dharma Wanita. Jadi kita ini ingin membangkitkan dan nguri – uri budaya luhur Jawa tembang macapat yang selama ini tergerus oleh kemajuan zaman di era modern dan kemajuan teknologi,” ujar Suhartini kepada Cahayabaru.id, Sabtu (15/10/2022)
Lebih lanjut, Suhartini menyampaikan bahwa peserta adalah ibu Dharma Wanita dan yang mengikuti lomba berjumlah 25 orang, yaitu dari tingkat SMA, SMK dan SLB. Dalam berpakaian peserta diwajibkan untuk memakai pakaian adat Jawa. Sekaligus mengangkat budaya Jawa yang punya nilai luhur. Untuk apresiasi peserta, hadiah akan diberikan pada saat puncak acara di bulan Desember di SMA Kademangan pada saat HUT DWP.
“Harapan kedepan, budaya macapat ini insa Alloh akan kita jadikan agenda rutin tahunan. Dengan begitu, budaya ini tidak hanya milik beliau – beliau saja, namun kita – kita ini yang orang Jawa juga akan ikut melestarikan,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala sekolah SMK Negeri 1 Kota Blitar menuturkan bahwa budaya macapat ini merupakan kesenian budaya Jawa yang berisi nasehat – nasehat. Khususnya siswa broadcasting agar belajar seni dan budaya Jawa.
“Jadi anak – anak saya yang broadcasting biar mau belajar, arahnya nanti kesana sebab seni budaya macapat itu penuh dengan nasehat. Intinya mengangkat dan nguru – uri budaya Jawa dan harapan kami karena di profil pelajar Pancasila ada yang namanya Kebhinekaan global,” terangnya.
“Ada enam yang tercantum di dalam profil, salah satunya kebhinekaan global. Yaitu bahwa para siswa, guru harus mempunyai jiwa menghargai kebudayaan dimanapun yang mana tidak bertentangan dengan Pancasila. Sehingga anak – anak saya satu sisi biar punya rasa menghargai terhadap budaya dan untuk kemajuan dirinya dimasa yang akan datang,” imbuh Sugiadi.
Perlu diketahui, di Blitar banyak sekali kesenian yang mempunyai potensi yang perlu dilestarikan. Sehingga diharapkan dari berbagai unsur penggiat seni budaya harus terus kontinyu melakukan jajah deso milangkori untuk menelusuri jejak budaya leluhur dan membangkitkan seni budaya tradisional agar tidak semakin terlelap dalam tidur.(Pram)
