Warga Batangsaren Tepis Desanya Tak Kondusif, Ketua Adat: Saya Berharap Kepada Semua Pihak Agar Tidak Mencari Permasalahan Kesalahan Seseorang 

CB TULUNGAGUNG- Masyarakat di Indonesia terdiri dari bermacam suku, budaya dan agama berbeda disatukan oleh semboyan negara, yakni “Bhineka Tunggal Ika”.
Dengan pola hidup rukun seseorang atau kelompok akan menjalin hubungan yang harmonis, sehingga terciptalah lingkungan yang damai dan tenteram.

Pola hidup rukun tentu tidak akan datang dengan sendirinya dan tentu pula tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dan, pola hidup rukun ini sendiri sebenarnya telah lama dibangun oleh warga Desa Batangsaren, Kecamatan Kauman, Kabupaten Tulungagung.

Namun, sejak adanya
dugaan korupsi yang menimpa kadesnya itu, ada kabar bila Desa Batangsaren tidak kondusif. Namun, kabar tersebut langsung ditepis oleh warga Batangsaren alias Desa Batangsaren hingga kini masih terbangun pola hidup rukun serta tetap kondusif.

Apalagi, menurut warga, kasus yang menimpa Kades Batangsaren itu diduga sarat politis alias beberapa tuduhan yang dilemparkan tak sesuai kenyataan, seperti halnya tuduhan tidak adanya pembangunan atau fiktif di Desa Batangsaren tersebut. Namun, dari hasil survei atau pengecekan pihak terkait, kisaran 60 titik pembangunan telah kelar dengan baik.

“Karena saya di LPM, saya pastikan semua bangunan di Desa Batangsaren ada. Selama tahun 2014 hingga 2019, ada sekitar 60 titik yang berhasil dibangun,” kata Dwi Wandito dengan mimik tegas, Kamis (20/10).

Adanya informasi yang tidak benar itu, lanjut Dwi Wandito, dirinya telah dipanggil Kejaksaan serta 20 lebih warga lainnya untuk dimintai keterangan. Namun, semua itu, dirinya maupun warga lainnya memenuhi panggilan dan semua itu tidak ada masalah.

“Kami semua kooperatif, dan ketika ada saksi yang dipanggil tidak hadir mungkin karena takut, itupun saya datangi dan saya antar dan mendorong saksi tersebut untuk datang berbicara apa adanya. Jangan ada yang ditutup tutupi, jangan karena membela kades atau siapa,” paparnya.

Sementara itu Ketua Lembaga Adat Desa (LAD), Didik Harianto berharap semua bisa menahan diri agar semua bisa kondusif, jika ada permasalahan yang menyangkut desa, iapun berharap adanya musyawarah desa.

“Kondisi Desa Batangsaren ayem tentrem dan kondusif, saya berharap kepada semua pihak agar tidak mencari permasalahan kesalahan seseorang, karena kalau terus dicari cari kapan selesainya,” kata Didik

Namun dimikian, lanjut pria yang juga anggota tentara ini, kalau ada persoalan di desa seharusnya itu urusan yang berwenang. “Jadi kalau ada yang tidak sepakat dengan kebijakan kepala desa bisa diserahkan dengan pihak yang berwenang,”ujarnya

Didik menambahkan, kalau dirinya tidak tahu menahu terkait masalah yang ada di desanya. Namun demikian, Didik mengakui kalau desanya itu ada satu, dua dan tiga orang yang kemungkinan menimbulkan situasi kurang bagus di desanya. Akan tetapi, iapun akan tetap berusaha menyatukan, yakni upaya menciptakan suasana kondusif di wilayahnya.

“Kami kurang tahu persis, hanya saya minta kepada pak kades maupun pihak-pihak yang tidak berkenan dengan kebijakan pak kades, ya kalau kurang puas, monggo diserahkan pada pihak yang berwenang atau sesuai hukum yang berlaku dan saya akan tetap berusaha menyatukan supaya wilayah ini kondusif,” paparnya.(Hsu/rul)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *