CB TULUNGAGUNG-Pasca puluhan warga Desa Gilang terserang virus chikungunya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tulungagung melalui Dinas Kesehatan Tulungagung terus melakukan langkah-langkah dalam memutus mata rantai chikungunya maupun demam berdarah.
Dan, langkah-langkah yang dilakukan oleh Dinkes Tulungagung diantaranya adalah melakukan penyemprotan fogging serta menabur bubuk larvasida di desa terserang virus chikungunya.
Namun demikian, pada musim penghujan seperti sekarang ini bakal banyak tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti maupun chikungunya. Hal itu yang disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Tulungagung dr Kasil Rochmat melalui Kabid P2P Didik Eka.
“Kita sadari bersama, bahwa pada musim hujan pertengahan atau awal, tentunya akan banyak tempat perindukan nyamuk sebagi fektor Aedes aegypti dan sebagai fektor demam berdarah dan chikungunya, maka dinas kesehatan mengambil langkah-langkah seluruh puskesmas melakukan ledang ke seluruh desa di masing-masing wilayah kerjanya sekaligus membagi larvasida ke masyarakat secara cuma-cuma,” kata Didik Eka kepada Cahaya Baru.
Untuk itu, lanjut Didik, yakni setelah ledang masyarakat secara mandiri dan sadar melakukan pencegahan melalui PSM maupun 3 M plus untuk tidak terserang demam berdarah maupun chikungunya.
“Karena pencegahan demam berdarah dan chikungunya itu adalah PSM bukan fogging,” jelas pria yang akrab dengan wartawan ini.
Disisi lain kewaspadaan bukan hanya desa di sekitar kasus chikungunya, akan tetapi tapi seluruhnya desa/kelurahan yang jumlah keseluruhan 271 ini potensial bisa terserang demam berdarah atau chikungunya,
“Tergantung, di desa tersebut adakah fektor. Jadi, ibaratnya ada seribu orang sakit demam berdarah di suatu desa pun, kalau tidak ada satu nyamuk sebagai penular, Insyaalloh tidak akan menularkan kepada orang lain.
Didik Eka juga mengatakan, dalam hal tersebut antisipasinya adalah ledang dan larvasidasi ke desa-desa se-Kabupaten Tulungagung. Mengingat telur Aedes aegypti akan bertahan tanpa air selama enam bulan dan pada saatnya kena air bakal menetas.
“Tetasannya karena induk sudah punya virus itu akan mengandung virus juga. Jadi, totalitas dalam memberikan maupun melaksanakan memberikan PSM dengan total, sehingga tidak ada nyamuk hidup di siklus berikutnya,” paparnya.
Iaun berharap, bagi masyarakat pada musim penghujan bakal menambah tempat-tempat perindukan fektor penyakit, khususnya nyamuk Aedes aegypti. Karena, menurutnya, Tulungagung merupakan daerah endemis alias setiap tahun bakal ada nyamuk Aedes aegypti maupun chikungunya. Maka harus melakukan PSM dirumahnya masing-masing.
“Jadi saat panas tinggi mendadak, maka curigalah dengan dengan demam berdarah dan chikungunya. Tanpa ragu-ragu ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. Karena apa, hari ke empat hari kelima kalau tidak segera tertangani maka akibarya akan berakibat fatal,” jelas Didik.(Hsu)
