CB, BLITAR -Muhammad Iqdam Kholid (29), merupakan anak bungsu KH Kholid asal Desa Karanggayam, Kecamatan Srengat, Blitar. Dan, kisaran Desember 2018, pria yang akrab dengan panggilan Gus Iqdam ini telah mendirikan Sabilu Taubah Study Group yang ada di desanya.
Kala itu, hanya kisaran tujuh orang jamaah yang bergabung dalam majelis tersebut. Bahkan, Gus Iqdam memulai majelis ta’lim Sabilu Taubah setelah diminta oleh lingkungannya. Itupun, bermula dari sebuah obrolan di sebuah warung kopi yang kemudian pria yang memiliki istri penghafal Al-Quran itu berkonsultasi pada gurunya. Alhasil, iapun mendapat restu dan kemudian ia memulai pendirian majelis ta’lim.
Namun, pada saat itu pula, pria yang kini lagi moncer ini juga sering diundang untuk memberikan pengajian di Lampung, Sumatera. Iapun berpendapat bahwa penting untuk ada pendampingan bagi kaum muda, terutama mereka yang dianggap sepele dalam hal masa depan yang suram.
Dan, pada awal berdirinya majelis ini, banyak yang meragukannya. Namun, dengan dukungan dari Gus Diyak, Gus Iqdam berhasil mengatasi kendala yang dihadapinya dan menjadi semangatnya. Hal itu yang disampaikan salah seorang tetangga Gus Idam saat berbincang-bincang pada Kamis malam (20/07), sebelum pengajian rutin malam Selasa dan malam Jumat dimulai.
Dari perjuangannya yang gigih dan banyaknya dukungan pada diri Gus Iqdam itu, tepatnya usai lebaran Idul Fitri 2023 (tahun ini, red) namanya meledak dan mendadak viral di media sosial. Tak pelak, berbagai jamaah dari berbagai penjuru Nusantara pun mendatangi Pondok Pesantren Mamba’ul Hikam II di Desa Karanggayam itu.
Mereka, para jamaah, ingin tahu langsung pria yang cara memberikan tausiahnya yang bisa diterima dari berbagai kalangan. Selain tausiahnya yang sejuk dan humoris, iapun sering berbagi rejeki ke jamaahnya saat pengajian berlangsung.
Tak hanya jamaah dari berbagai penjuru Nusantara saja yang terkesima cara tausiah Gus Iqdam, Dr. Ir Slamet Soedarsono MMP Deputi Polhukam 2017-2022 ini pun merasa sejuk saat mendengarkan tausiah Gus Iqdam. Pria yang juga asli kelahiran Blitar inipun bersyukur bisa langsung mengikuti pengajian Gus Iqdam yang bareng belasan jamaah dari berbagai penjuru Nusantara itu.
“Kami menemukan jawaban kenapa sampai viral seperti ini, jama’ahnya datang dari berbagai penjuru Nusantara, bahkan dari wilayah yang tidak berbahasa Jawa,” kata Slamet Soedarsono usai mengikuti pengajian Gus Iqdam kepada Cahaya Baru, Kamis (20/07).
Padahal, lanjut Slamet, sebagian besar kontennya Gus Iqdam itu berbahasa Jawa, namun jamaah yang datang dari luar Jawa itu tetap bisa menangkap dengan senang hati serta mampu memahami. Sehingga, menurutnya, apa yang dilakukan Gus Iqdam itu adalah campur tangan Tuhan.
“Sehingga saudara-saudara kita yang datang dari Jawa Barat, bahkan dari luar Jawa itu bisa paham pesan inti yang disampaikan oleh Gus Iqdam,” ungkapnya.
Menurut Slamet Soedarsono,
Gus Iqdam ini menyediakan dengan bahasa yang sederhana, sehingga semua lapisan umur, semua latar belakang pendidikan serta semua latar belakang budaya itu bisa memahaminya dengan mudah.
“Ajakan-ajakan berbuat baiknya disampaikan secara sederhana, begitu menggugah dengan contoh-contoh kongkrit yang sangat menyemangati,” jelas Slamet.
Masih kata Slamet Soedarsono, usai mendengarkan tausiah Gus Iqdam itu, iapun merasa sejuk dan dirinya pun mendoakan Gus Iqdam diberi kemudahan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
“Semoga Gus Iqdam dianugrahi sehat wal Afiat, panjang usia yang berkah, meluaskan dakwahnya kepada kita semua. Mudah-mudahan jamaah yang menyimak pengajian Gus Iqdam melalui berbagai media termasuk yang streaming, tik tok dan yang hadir langsung mudah-mudahan Alloh SWT anugrahi keberkahan panjang usia, kemudahan segala urusan dan murah rejeki penuh berkah,” kata Slamet dengan mimik serius.(Hsu)
