Digandrungi di Luar Daerah, Ketoprak Sari Budoyo Tulungagung Justru ‘Tergerus’ di Kotanya Sendiri

CB, TULUNGAGUNG – Pada jamannya, kesenian Ketoprak Siswo Budoyo asal Tulungagung ini telah dikenal seantero. Kala itu, ketoprak yang dipimpin oleh Ki Siswondo HS (almarhum) saat pentas selalu dipadati penonton. Hal ini, karena lakon yang digelar selalu memikat dan berhasil menghipnotis penonton.

Namun, saat perubahan jaman yang disebabkan arus modernisasi yang semakin deras masuk di Indonesia, tentu memengaruhi berbagai bidang kehidupan masyarakat.

Tentu pula, perubahan selera masyarakat ini salah satunya adalah terhadap kesenian tradisional yang merupakan wujud budaya daerah Indonesia, dan salah satu yang terimbas dari perubahan ini adalah kesenian ketoprak. Padahal, kesenian ketoprak kala itu merupakan hiburan favorit bagi masyarakat.

Akibatnya, kesenian ketoprak yang dulu merupakan hiburan favorit masyarakat, harus rela gulung tikar. Tak pelak, puluhan tahun sudah kesenian ketoprak ini tak pernah lagi muncul alias mati suri.

Beruntung, pada tahun 2016, kesenian ketoprak mulai kembali bangkit. Hal Ini tak lepas kegigihan Sari HS (keponakan almarhum Ki Siswondo HS, red) yang menginginkan kesenian ketoprak di Kota Marmer ini kembali hidup. Dan, saat itu, alat peraga kala Siswo Budoyo pentas pun ia beli, karena dianggap memiliki sejarah yang tak ternilai.

Tentu, dengan harapan, kesenian ketoprak ini mampu mengulang kembali masa kejayaan. Selain keinginannya menghidupkan kembali kesenian ketoprak ini cukup besar, iapun didatangi pendiri Ketoprak Siswo Budoyo melalui mimpi, yakni diharapkan bisa menghidupkan kembali kesenian ketoprak.

Namun, ironisnya, upaya yang dilakukannya itu tak mendapatkan respon positif dari Pemerintah Kabupaten Tulungagung. Padahal, Ketoprak Sari Budoyo ini sering kali melakukan pentas untuk bisa menghibur warga masyarakat Tulungagung, walaupun dengan biaya sendiri.

Tak hanya di Tulungagung, Ketoprak Sari Budoyo ini juga sering pentas di berbagai wilayah Jawa Timur danJawa Tengah. Bahkan, saat pentas di luar kota, Ketoprak Sari Budoyo ini digandrungi penonton dan sering mendapat apresiasi. Namun, sungguh ironis, Ketoprak Sari Budoyo ini malah justru ‘tergerus’ di kota kelahirannya sendiri. Ironis memang.

“Waktu itu, kami memang berkeinginan bisa kembali menghidupkan kesenian yang menyimpan banyak sejarah,” kata Agus Timur selaku penasehat Ketoprak Sari Budoyo kepada cahayabaru.id, Senin (01/04) malam.

*Berawal Bansos Covid 19 Yang Tak Merata*

Pada Tahun 2020, dunia lagi mengalami musibah yang cukup dahsyat akibat hempasan wabah Covid 19. Saat itu, dari berbagai negara yang terkena virus mematikan itu, berusaha sekeras mungkin untuk melindungi rakyatnya dari ancaman kematian. Tak pelak, berbagai upaya untuk terus bisa menenangkan rakyat pun terus dilakukan.

Tak bisa dipungkiri, akibat Covid 19 itu membuat perekonomian dunia terpuruk, termasuk Indonesia. Saat itu pula, Pemerintah Indonesia gencar melakukan berbagai upaya, diantaranya memberi bantuan sosial bagi masyarakat yang usahanya terdampak Covid 19. Dan, pada saat itu, Ketoprak Sari Budoyo ini pun harus rela tidak pentas karena diberlakukannya pembatasan aktivitas.

Saat itu pula, para pemain Ketoprak Sari Budoyo, khususnya yang ada di Tulungagung ada pendataan untuk mendapatkan bantuan dari Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Timur. Namun, setelah data itu dikumpulkan di Dinas Pariwisata Tulungagung dengan jumlah belasan orang, ternyata hanya 3 orang saja yang mendapatkan bantuan.

Ironisnya lagi, dari tiga orang yang mendapatkan bantuan itu disuruh mengambil sendiri di kantor Dinas Pariwisata Tulungagung yang tanpa memberi kabar pada pimpinan Ketoprak Sari Budoyo. Karuan saja, hal ini menimbulkan berbagai pertanyaan dan protes pemain yang sudah terdata, namun tak mendapatkan bantuan. Akibatnya, para seniman yang tergabung di paguyuban Ketoprak Sari Budoyo inipun mulai meninggalkannya.

“Saat itu saya benar-benar tidak tahu ketika banyak yang tanya soal bansos, karena saat itu mereka yang mendapatkan bantuan disuruh mengambil sendiri di Dinas Pariwisata Tulungagung. Itupun hanya 3 orang yang dapat, dan akhirnya berimbas protes ke saya,” kata Agus Timur yang juga suami pendiri Ketoprak Sari Budoyo.

Tentu pula, imbuhnya, hal ini membuat ketoprak yang sudah 8 tahun didirikannya itu menjadi ‘korban’ kebijakan pemerintah yang dianggap kurang bijak.

“Pertanyaan saya pada saat itu, kenapa disuruh mendata para seniman kalau tidak semua diberi bantuan.. Akibatnya, bantuan yang tidak merata itu justru menjadi bumerang di paguyuban kami,” terang Agus Timur.(Hsu)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *