CB, Tulungagung – Sebagai upaya mendukung program pemerintah pusat dan daerah dalam penanggulangan stunting, Pemerintah Desa (Pemdes) Banjarejo, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung, menggelar acara Rembuk Stunting pada Senin (13/01). Kegiatan ini membahas pencegahan dan penanganan stunting untuk tahun anggaran 2026.
Rembuk Stunting yang berlangsung di gedung perpustakaan desa setempat dihadiri oleh Camat Rejotangan, Kasi Kesejahteraan Masyarakat Kecamatan Rejotangan, Kepala Puskesmas Banjarejo, Pendamping Kecamatan, kader posyandu, forum anak desa, Babinsa, Babinkantibmas, serta penggerak ibu PKK Banjarejo.
Dalam acara tersebut, Camat Rejotangan, Didi Jarot Widodo Nursamsu A.P., menyampaikan bahwa rembuk stunting ini tidak hanya menjadi ajang mendengarkan, tetapi juga sebagai wadah bagi para kader posyandu dan ibu-ibu untuk memberikan usulan. Hal ini diharapkan dapat mendukung penurunan angka balita stunting di masa depan.
“Para kader posyandu dan ibu-ibu yang hadir tidak hanya mendengarkan, tetapi juga dapat memberikan usulan-usulan. Harapan kita bersama adalah mengurangi angka stunting di desa ini,” ujar Didi Jarot.
Senada dengan itu, Anang Najib Pamungkas, Kasi Kesejahteraan Masyarakat Kecamatan Rejotangan, menekankan bahwa stunting adalah program nasional yang harus dilaksanakan oleh pemerintah desa. Alokasi dana desa diharapkan dapat dimanfaatkan untuk penanggulangan stunting.
“Program rembuk stunting ini bertujuan untuk memberikan perhatian serius kepada perempuan, anak, dan disabilitas,” ungkap Najib.
Kepala Puskesmas Banjarejo, St. Keb. Tumini, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa saat ini terdapat dua anak balita yang mengalami stunting di Desa Banjarejo dari total 280 balita. Ia berharap angka stunting di desa tersebut semakin menurun.
“Alhamdulillah, untuk dua anak kembar balita stunting, kami telah menerima laporan bahwa berat badan dan tinggi badan mereka mengalami kenaikan,” tambah Tumini.
Kepala Desa Banjarejo, Zainuddin Jawahir, juga menyampaikan bahwa rembuk stunting dan Muspadi memberikan ruang bagi perempuan, anak, dan disabilitas untuk mendapatkan penanganan yang lebih serius. Zainuddin berharap usulan yang disampaikan dalam rembuk ini dapat diwujudkan pada tahun 2026, dan desa Banjarejo dapat mencapai angka zero persen balita stunting di masa depan.
“Semoga semua usulan yang disampaikan hari ini bisa direalisasikan, dan harapan kita ke depan adalah desa Banjarejo bebas dari balita stunting,” pungkas Zainuddin. (rul)
