Menu MBG Disorot! SPPG di Tulungagung Dihentikan, Bupati: Yang Langgar SOP Siap Tanggung Risiko

CB, TULUNGAGUNG — Sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Tulungagung dihentikan sementara operasionalnya oleh Badan Gizi Nasional (BGN).

Kebijakan ini diambil karena diduga ada pelanggaran terhadap standar operasional prosedur (SOP) dalam pelaksanaan program makan bergizi.

Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, menegaskan bahwa penghentian tersebut merupakan konsekuensi bagi penyedia layanan yang tidak menjalankan aturan dengan benar.

“Kalau memang SPPG melanggar SOP maka itu sudah menjadi risiko,” ujar Gatut Sunu.

Menurutnya, SPPG yang dihentikan sementara berarti tidak menjalankan ketentuan yang telah ditetapkan oleh BGN. Padahal, program Makan Bergizi Gratis (MBG) harus dilaksanakan sesuai standar agar tujuan peningkatan gizi bagi anak-anak dapat tercapai.

“Sudah seharusnya program MBG dapat dijalankan dengan benar,” terangnya.

Untuk memastikan pelaksanaan program berjalan sesuai aturan, Gatut Sunu juga melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah lokasi penerima manfaat MBG. Sidak dilakukan guna melihat langsung proses pelayanan makanan kepada para siswa.

Ia menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dilakukan atas permintaan Wakil Kepala BGN, Nanik Deyang.

“Saya diminta oleh Bu Nanik Deyang untuk melakukan sidak. Hasil sidak akan segera kami laporkan ke BGN,” jelasnya.

Sidak tersebut akan terus dilakukan secara berkala oleh pemerintah daerah bersama Satgas MBG Tulungagung. Tujuannya agar penyelenggaraan program MBG di daerah tersebut dapat berjalan optimal.

Gatut Sunu menegaskan pihaknya tidak ingin program yang digagas Presiden Prabowo Subianto mendapat citra buruk akibat ulah oknum yang tidak bertanggung jawab.

“Kami tidak ingin program MBG yang dibuat Presiden Prabowo dinilai buruk karena ada oknum yang hanya memikirkan kepentingan pribadi,” paparnya.

Namun, terkait temuan dalam sidak tersebut, Gatut Sunu belum bersedia membeberkan detailnya. Ia menyatakan laporan akan terlebih dahulu disampaikan kepada BGN sebelum dipublikasikan.

“Hasil sidak secepatnya kami laporkan ke BGN agar ke depan tidak ada yang melanggar SOP,” imbuhnya.
Menu MBG di Sekolah Disorot.

Di sisi lain, polemik terkait menu MBG juga mencuat di SDN 1 Tertek, Tulungagung. Pihak sekolah mengaku sudah beberapa kali mengingatkan penyedia makanan untuk memperbaiki kualitas menu yang diberikan kepada siswa.

Kepala SDN 1 Tertek, Elfi Triastikowati, melalui Kepala UPAS Pendidikan Kecamatan Kota Tulungagung, Vivi Dias Retnowati, menyampaikan bahwa sekolah telah berulang kali menegur dapur SPPG Tertek terkait kualitas makanan.

“Pihak kepala sekolah sudah berkali-kali mengingatkan SPPG.

Bahkan sudah disampaikan bahwa jika kondisinya tidak berubah, sekolah akan mengajukan pergantian penyedia makanan jika diizinkan pimpinan,” ujar Vivi, Sabtu (14/3/2026).

Sorotan terhadap menu MBG muncul setelah sebuah video yang diunggah wali murid viral di media sosial pada Kamis (12/3/2026).

Dalam video tersebut terlihat porsi makanan yang dinilai sangat minim, hanya berupa potongan ayam kecil, sepotong tempe bacem, serta satu buah jeruk peras.

Unggahan itu memicu kekecewaan sejumlah orang tua siswa yang menilai menu tersebut jauh dari standar gizi yang seharusnya diterima anak-anak.

“Bagaimana anak-anak bisa mendapatkan gizi yang cukup kalau menunya seperti ini?” tulis pengunggah video tersebut.

Selain porsi yang dianggap kecil, jenis buah yang diberikan juga menjadi sorotan. Jeruk yang disajikan disebut sebagai jeruk peras dengan tingkat keasaman tinggi sehingga dinilai kurang cocok untuk anak-anak.

Vivi menjelaskan bahwa pihak sekolah sebenarnya melakukan pencatatan menu MBG setiap hari. Jika ditemukan menu yang tidak sesuai standar, pihak sekolah memberikan catatan sebagai bahan evaluasi.

Namun demikian, sekolah tidak memiliki kewenangan penuh untuk menolak program pemerintah tersebut.

“Kepala sekolah tentu tidak bisa menolak program pemerintah. Kemungkinan masih memberi kesempatan kepada pihak penyedia untuk memperbaiki kualitas menu,” jelasnya.

Sementara itu, tim media telah berupaya mengonfirmasi pihak SPPG Tertek sebagai penyedia makanan, namun hingga berita ini ditulis belum memberikan tanggapan.
Kasus ini menambah daftar sorotan terhadap pelaksanaan MBG di Tulungagung.

Sebelumnya, publik juga dihebohkan dengan temuan buah naga berbelatung dalam menu MBG di PAUD Desa Karanganom, Kecamatan Kauman, serta laporan lain dari MI Al Huda Sobontoro, Kecamatan Boyolangu.
Rangkaian kejadian tersebut memunculkan desakan dari masyarakat agar pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan program MBG, termasuk pengawasan terhadap dapur penyedia makanan.

Masyarakat berharap program yang bertujuan meningkatkan gizi anak ini benar-benar dijalankan dengan baik sehingga tidak menimbulkan polemik dan tetap memberikan manfaat bagi para siswa.(tim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *