BEN Carnival 2026 Hadir dengan Nuansa Malam, 40 Budaya Nusantara Tampil Memukau di Kota Blitar

Blitar | Cahayabaru.id — Malam di Kota Blitar seolah berubah menjadi panggung raksasa. Gemerlap cahaya berpadu dengan warna-warni busana adat, denting musik tradisional, dan gerak tari yang menyusuri jalur parade. Ribuan pasang mata tertuju pada satu perhelatan: Blitar Ethnic National (BEN) Carnival, Sabtu (22/8/2026), yang untuk pertama kalinya hadir dalam balutan konsep night carnival.

Memasuki tahun kelima penyelenggaraan, BEN Carnival menghadirkan 40 peserta dari lembaga pendidikan, organisasi perangkat daerah (OPD), serta berbagai instansi di lingkungan Kota Blitar. Mereka membawa representasi budaya dari 38 provinsi, mulai dari tarian, busana adat, ikon daerah hingga kreasi etnik yang menggambarkan keberagaman Indonesia dalam satu parade.

Gelaran yang dimulai sekitar pukul 19.40 WIB itu dibuka Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin. Setelah sambutan, pertunjukan barongan kucingan khas Kota Blitar menjadi pembuka yang menandai dimulainya parade. Dari titik tersebut, suasana kota berubah menjadi perayaan budaya yang menyedot perhatian masyarakat.

Syauqul Muhibbin mengatakan, konsep malam dipilih sebagai inovasi untuk memberikan pengalaman baru kepada masyarakat sekaligus memperkuat daya tarik visual BEN Carnival. “Ini merupakan pagelaran tahun kelima untuk BEN Carnival. Tahun ini kami coba tampilkan malam hari, dengan menonjolkan penampilan dengan konsep night carnival,” kata Ibbin kepada wartawan.

Menurutnya, 40 peserta yang tampil bukan sekadar membawa kemeriahan parade, tetapi menjadi representasi kecil dari luasnya kekayaan budaya Nusantara. “Pagelaran Blitar Ethnic Carnival ini memang sengaja menyuguhkan adat dan budaya Nusantara. Sebenarnya kita mempunyai ribuan budaya Nusantara, tetapi kami tampilkan 40 perwakilan dari 38 provinsi,” jelasnya.

Konsep baru juga terlihat dari penataan area penonton. Pagar besi yang sebelumnya menjadi pembatas antara peserta dan masyarakat ditiadakan dan diganti sekat kayu yang lebih rendah. Penataan tersebut membuat penonton memiliki ruang pandang lebih terbuka untuk menikmati setiap penampilan peserta.

“Layout tahun ini sedikit berbeda, karena tidak lagi menggunakan pagar besi. Jadi penampilan peserta dapat dilihat dengan baik oleh penonton, hanya dibatasi dengan sekat kayu yang pendek,” lanjut Ibbin.

Lebih dari sekadar tontonan, BEN Carnival diarahkan menjadi ruang edukasi budaya sekaligus instrumen untuk memperkuat identitas Kota Blitar sebagai kota budaya. Pemerintah Kota Blitar ingin kekayaan tradisi yang ditampilkan tidak berhenti sebagai atraksi tahunan, tetapi berkembang menjadi bagian dari daya tarik wisata daerah.

“Harapannya Kota Blitar akan identitasnya lebih kuat sebagai kota budaya, sekaligus sebagai kota yang patut dikunjungi karena banyak hiburan yang terkait dengan kebudayaan dan keberagaman,” tandasnya.

Ketika malam semakin larut, jejak parade perlahan menghilang dari jalanan, tetapi warna-warni BEN Carnival seakan belum benar-benar pergi. Di bawah cahaya malam Kota Blitar, tarian, busana, musik, dan simbol-simbol daerah telah mempertemukan begitu banyak identitas dalam satu ruang. Malam itu, Blitar bukan hanya menjadi tuan rumah sebuah karnaval, melainkan menjelma menjadi panggung kecil Indonesia—tempat perbedaan tidak dipertentangkan, tetapi dirayakan sebagai kekayaan bersama. (Pram)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *