Oleh: Soenarwoto
DALAM dunia politik tak ada teman dan lawan abadi. Teman bisa jadi lawan, lawan bisa jadi teman. Bergantung “cuan” dan kepentingan. Tak perlu jauh contohnya, Prabowo dan Jokowi. Dulu mereka berdua bak minyak dan air alias tak bisa bersatu. “Bermusuhan”. Tapi kemudian mereka “bersekutu”. Berangkulan dan bekerja bersama.
Ini setelah Prabowo berkali-kali ikut pilpres dan selalu kalah, yang berakibat keuangannya “modol-mowol” (ludes). Apalagi, menurut pengakuan Prabowo sendiri, selain uang terkuras buat pilpres dan kalah, perusahaanya selama 10 tahun tak dapat pinjaman kredit. Dampaknya, hampir seluruh perusahaannya mandeg dan nyaris gulung tikar.
Maka mau nggak mau Prabowo harus merapat kepada Presiden Jokowi. Kurang lebih begini obrolan Prabowo ketika “minta kerjaan” kepada Jokowi. “Wik, ini gue kehabisan uang gara-gara kalah muluk pilpres kemarin. Tolong dong Wik, sekarang gue ikut kerja ame elu Wik,” canda Adian Napitupulu berlogat betawian dalam obrolan politik di stasiun televisi nasional.
Mungkin merasa “kasihan” atau agar Prabowo dan pendukungnya tidak “mengganggu” kinerja pemerintahannya, Presiden Jokowi akhirnya memberi pekerjaan Prabowo. Ia diangkat sebagai Menteri Pertahanan (Menhan) dalam Kabinet Maju periode 2019-2024. Prabowo akhirnya menjadi bawahan atau “jongos” Jokowi.
Begitu sejumlah pendukung Prabowo yang kecewa menyebutnya setelah ia bersekutu dengan Jokowi. Sejak dijadikan Menhan, ia memang sangat tunduk kepada Jokowi. Karakternya berubah 180 derajat dari aslinya. Dulunya bak “macan asia” berubah menjadi “kucing anggora”. Jinak dan penakut bila berurusan dengan Jokowi.
Puncaknya dengan diterimanya Gibran Rakabuming Raka sebagai wakilnya dalam Pilpres 2024, meski diketahui “nabrak” konstitusi. Melalui Paman Usman (ketua MK saat itu) aturan diubah. Batas usia calon presiden dan wakil presiden di bawah 40 tahun dapat mencalonkan diri asalkan pernah atau sedang menjabat melalui pemilihan umum, termasuk kepala daerah (MK 90). Prabowo tak menentang, tapi malah berjoget-joget gemoy. Senang.
Tambah senang ketika Jokowi yang masih menjabat presiden ikut cawe-cawe untuk kemenangan Prabowo-Gibran. Apalagi setelah memenangi Pilpres 2024. Prabowo tambah memuja-mujanya. Tanpa malu-malu di hadapan khalayak riuh, Prabowo menyebut Jokowi sebagai guru politiknya. Dan begitu vulgarnya dengan heroik ia berteriak; Hidup Jokowi!
Gayung bersambut. Demikian Jokowi sangat menyanjung-nyanjung Prabowo. Ia sebut Prabowo adalah presiden yang terkuat dan paling bagus kinerjanya. Dalam rapat tahunam MPR RI beberapa waktu lalu Jokowi pun mengacungi jempol Prabowo.
Dapat acungan jempol dari Jokowi itu Prabowo terlihat tambah “sumringah” dan “gemagah”. Jumawa. Ia tidak tahu bahwa itu hanyalah “glembuk solo”, bermuka manis punya maksut culas. Itulah gaya khas Jokowi selama ini; sein kanan belok kiri, sudah tapi belum. Beri jempol, tapi “dobol”. Loh, kok dobol?
Gimana nggak dobol, belum lama ini mereka bertiga (Prabowo, Jokowi, dan Gibran) dalam acara Agustusan terlihat “harmonis”. Mereka kompak tersenyum bersama. Eh kemudian, Projo “merancang” gerakan Pemilu 2029 dipercepat. Itu bisa diartikan upaya menurunkan Prabowo sebelum waktunya. Banyak pihak kemudian menuding itu tindakan “makar”.
Tapi, Budi Arie cepat menepis dan minta maaf. Ucapan itu diakui tak ada hubungannya dengan Jokowi. Tapi, banyak pihak cepat menepis pula, karena ucapan Budi Arie dilontarkan saat duduk bersama Jokowi. Maka tidak mungkin Budi Arie mengucap itu tanpa ada restu Jokowi. Tapi, wartawan jangan konfirmasi soal ini sebab Jokowi pasti akan menjawab, “Ya nggak tahu, kok tanya saya..”
Penulis adalah wartawan senior tinggal di Tulungagung.
