Jawa Adalah Mercusuar Peradaban Dunia

CB, GRESIK – Kurang sependapat dengan istilah Jawaisasi dari lontaran pernyataan awak media Cahaya Baru kepada pemangku kepentingan Desa Sorowiti kecamatan Panceng kabupaten Gresik, H. Mochamad Sonhaji beberapa waktu lalu (Senin, 21/12/2020).

Usai memimpin rapat desa dipendopo Desa Surowiti, H. Mochamad Sonhaji menemui awak media guna memperbincangkan seputar bagaimana menjalin kemitraan yang sinergis antara pemerintah desa dengan peran media massa sampai saat ini.

Kepribadian internal sebagai insan yang terlahir dari bumi pertiwi Nusantara masih menjadi tema perbincangan, di tambah dengan introspeksi sesuai kapasitas masing-masing dalam rangka terciptanya luhurnya cita guna memenuhi tuntutan era globalisasi budaya.

Bagi awak media dari beberapa penelusuran ilmiah maupun ilmu pengetahuan umum bahwa Desa Surowiti kecamatan Panceng kabupaten Gresik adalah terdapat petilasan, pesarehan bahkan makam tokoh sentral dari Wali Songo dibidang politik yaitu Kanjeng Sunan Kali Jaga (Raden Syahid).

Menyongsong era milineal dengan penetrasi globalisasi budaya internasionalnya yang masih berpijak kepada peradaban barat yaitu peradaban Yunani Kuno dan Mesir Kuno, mengingat tokoh sentral sebagai sumber sains dan ilmu pengetahuan teknologi yang diajarkan pada lembaga pendidikan sekolah saat ini seperti Albert Einstein, Plato, Nel Amstrong dan lainnya.

Sejarah telah mencatat, berpindahnya singgasana dan tahta kerajaan Majapahit ke Kesultanan Demak Bintoro adalah setting kualitatif ruhaniyah dan kekuatan determinasi sosial yang pernah diperagakan oleh Kanjeng Sunan Kali Jaga dikenal sebagai Tahun Bedol Negoro menjadi bukti autentik bidang ilmu spiritual (SQ) yang dimiliki bangsa ini bahwa begitu digdayanya.

Bahwa esensi dari dinamika dan kemajemukan ajaran agama Islam adalah Jawa sebagaimana simbol pengajaran ilmu, atas dihadangnya Kanjeng Sunan Kali Jaga yang akan menunaikan ibadah haji oleh Nabi Khidir AS, ucap H. Mochamad Sonhaji.

Peradaban Jawa hanya sepadan dengan Yunani Kuno dan Mesir Kuno yang oleh pemerintahan kolonial kala itu tidak memperkenankan publikasi atau eksplorasi budaya Jawa untuk tampil kepermukaan sebagai mata pelajaran pendidikan umum, imbuhnya.

Guna mencapai tujuan yang hakiki atas kesimpangsiuran sejarah Islam di tanah Jawa, Kanjeng Sunan Kali Jaga dapat kesempatan bercakap dengan Eyang Semar bahwa kesepakatan atau berdasar mufakat dengan Syech Subakir.

Tetap mempertahankan budaya Jawa (Tata Krama) oleh Eyang Semar ditengah dapat diterimanya penyebaran ajaran Agama Islam oleh kebanyakan penduduk Jawa, Jawa sebagai balance dari perputaran peradaban dunia yang bersumber dari ajaran Agama dan Jawa akan menjadi mercusuar peradaban dunia.bersambung.(Sub)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *