CB, Gresik – Terhormat, sebuah gelar sosial kemasyarakatan yang pasti melekat pada keseluruhan Pejabat Tinggi Desa (Petinggi) atau masa kekinian disebut sebagai Kepala Desa (Kades), menjadi pernyataan esensial dari mantan ketua Assosiasi Kepala Desa (AKD) Kecamatan Kedamean, Gresik.
Ikatan emosional yang mendalam antara awak media Cetak & Online Cahaya Baru dengan H. Dwi Kora sebagai Kades Tanjung kecamatan Kedamean selama periode yang kesekian menjabat, ditemui diruang kerjanya (akhir/5/2021) atau masih dalam suasana lebaran idul fitri 1442 Hijriah.
Dikemas dalam perbincangan ringan seputar apa yang telah dialami sesuai peran dan fungsi masing-masing, baik peran dan fungsi individu maupun kelembagaan sebagai tujuan referensi pengalaman dan nilai kebersamaan yang menjunjung tinggi kemuliaan tujuan hidup.
Menjadi untaian kata awal dari awak media kepada H. Dwi Kora Kades Tanjung dan mantan Ketua AKD kecamatan Kedamean, dengan menghaturkan permohonan ma’af atas khilaf, salah dan dosa yang pernah terlalui sepanjang waktu sebagaimana hubungan yang telah terjalin sebagai mitra kerja, juga sebagai warga penduduk desa yang berada diwilayah kecamatan Kedamean kabupaten Gresik.
Pengaruh sentral tokoh masyarakat desa sebagai Kades Tanjung, dan mantan Ketua AKD kecamatan Kedamean sebelumnya, diusianya yang beranjak lanjut dan telah menambah perananannya sebagai seorang kakek, H. Dwi Kora, terlintas wajah yang sangat matang dalam meniti kehidupan, tampak dewasa saat memimpin, menjadi hal yang menarik untuk dikaji dan diulas guna dijadikan konsumsi publik.
Berusaha mengejawantahkan peran dan fungsi profesional pers media ditengah proses penyelenggaraan hidup dalam iklim demokrasi yang menuntut keikut sertaan semua elemen masyarakat guna lebih produktif dan konstruktif dalam segala bidang sendi kehidupan.
Mengingat lama perkenalan awak media dengan beliaunya H. Dwi Kora dan terbilang sudah saling memahami, menjadi estetik apabila perbincanganan mengarah kepada hal yang lebih sensitif personality, etos kerja dan faktual transparan yang berekspektasi profesionalitas guna membantu mencerdaskan serta bersolusi.
Edukator adalah satu diantara beberapa fungsi pers media, sekaligus menjadi dasar dan landasan saat mempertanyakan tentang hal apapun kepada siapapun yang menyandang sebagai publik figur.
Seberapa jauh Njenengan (Anda) mengenal Domokrasi ?, tanya awak media mengawali percakapan, diantara bermacam sumber referensinya adalah kata Demokrasi berasal dari kata ‘Rembuk’ (musyawarah). Kurang seberapa memahami akan hal yang tersebut, tutur H. Dwi Kora menjawab.
H. Dwi Kora, diperiode yang kesekian saat menjabat sebagai Kades Tanjung kecamatan Kedamean, adalah melalui tradisi demokrasi yang berlaku pada umumnya, selain kepercayaan penduduk desa kepada Beliaunya, juga didukung dengan tradisi keluarga besar yang banyak menjadi tokoh masyarakat wilayah.
Apakah Njenengan juga mempunyai hutang ?, tanya awak media, mengingat adanya perubahan bangunan rumah Kades H. Dwi Kora dan wajah baru kantor Desa Tanjung yang memiliki pagar.
Apakah anda yang akan melunasinya ?, jawab Beliau balik bertanya, sembari tersungging senyuman. Kesemua bangunan yang anda lihat (rumah) adalah dari empati teman, dan menjadi ikrar saya untuk bangunan pagar kantor desa itu dan telah menjadi konsen saya saat ini dalam penyelesaiannya, menjelang dua tahun setelah pelantikan, ungkap H. Dwi Kora.
Latar belakang orang tua yang pernah menjabat sebagai Kades, adalah menjadi semangat kerja keras saya semenjak diusia muda atau masih bujangan dulu, tutur H. Dwi Kora yang telah dikaruniai dua putri dan satu cucu saat ini, beristri seorang pengajar dilembaga pendidikan negeri, Gresik.
Pengalaman hidup dari H. Dwi Kora sebagai Kades, mantan ketua AKD kecamatan, juga sebagai tokoh masyarakat desa, pada karya jurnalistik ini kiranya dapat menjadi pitutur (nasihat), petuah dan/atau konsumsi publik tentunya, guna memenuhi tuntutan figur tauladan dalam segala bidang kehidupan.
Kala itu, hanya pekerjaan bertani yang ada bagi mayoritas penduduk desa, ide usaha mencari kertas bekas dengan menutup rapat wajah dengan pelindung kepala, pernah saya lakukan, ucap H. Dwi Kora. Rumah saya pernah menjadi pusat pengiriman kertas bekas, terpaksa bermodal dari uang pinjaman berbunga sebagai niat mengembangkan usaha, mempunyai beberapa karyawan, penuh rasa kawatir tidak dapat mengembalikan uang pinjaman, dengan jaminan tersitahnya aset, juga pernah saya alami, imbuhnya.
Semangat, Ulet dan Sabar menjadi hikmah tauladan berkepribadian dari sekelumit cerita seorang yang berkeluarga besar sebagai tokoh masyarakat desa diwilayah kecamatan Kedamean ialah H. Dwi Kora.
Sawang sinawang, adalah peribahasa tepat yang berhikmah sosial bagi mereka yang masih melihat enaknya hidup orang lain, bagi Kades H. Dwi Kora mantan ketua AKD kecamatan Kedamean ialah hanya derajat kedudukan sebagai orang ‘Terhormat’ yang kerap disandang bagi para kepala desa, saya kira cuma demikian enaknya menjadi seorang Kepala Desa, tuturnya.
Diantara prinsip etos kerja kepemimpinan dalam proses penyelenggaraan pemerintahan, bagi Kades H. Dwi Kora adalah sebuah ukuran keberhasilan bagi seorang Kades ialah dapat meyakinkan para penduduk desa guna mentaati program maupun setiap kebijakan dari pemerintah, tegasnya mengakhiri perbincangan.(Sub)
