Pengelola Lama Tetap Ikuti Prosedur Pemerintah dan Perkebunan

Suji Susanto:Teman-Teman Semua Itu Berani Mematok Karena Ada Yang Menyuruh

CB, TULUNGAGUNG – Pematokan ‘sepihak’ lahan HGU yang dilakukan puluhan warga Desa Nyawangan, Kecamatan Sendang Kabupaten Tulungagung, menyisakan rasa kekecewaan mendalam bagi pengelola yang lama. Akan tetapi, warga pengelola lahan ini dan yang sudah mengantongi izin dari pemegang HGU tetap akan ikuti prosedur yang ada.

“Menurut pemikiran saya, selama pihak perkebunan masih mengizinkan untuk menggarap lahan itu, tetap akan saya garap. Dan, saya tetap akan mengikuti aturan-aturan yang ada, mengikuti prosedur dari pemerintah maupun dari pihak perkebunan,” jelas Supandi (51), saat ditemui cahayabaru.id usai lahannya yang ikut kepatok oleh puluhan warga itu.

Kalau yang menutup itu dari pihak perkebunan, lanjut Supandi, dirinya dan rekan-rekan penggarap lainnya tidak akan mempersoalkan. Namun demikian, kalau yang menutup itu dari oknum-oknum tertentu, iapun tetap akan menggarap lahan yang sudah lama dikelolanya itu.

“Kalau yang menutup itu dari pemilik perkebunan, saya tidak apa-apa. Maksud saya, tidak ada pemikiran saya mengelola lagi. Kecuali dari oknum-oknum tertentu yang tidak membawa keterangan dari pihak perkebunan, ya mungkin saya juga tetap menginginkan lahan itu jadi garapan saya,” ujar Supandi seraya mengatakan masalah ini segera terudari.

Hal sama juga disampaikan Sutoyo (50), bahwa kejadian pematokan lahan yang dikelolanya itu menyisakan rasa kecewa baginya. Namun demikian, dia maupun rekan-rekan lainnya tetap akan menjaga persaudaraan antar warga. Sebab, menurutnya, apa yang dilakukan puluhan warga itu ‘dikarenakan’ rasa keinginannya yang tinggi dengan tanpa berpikir dengan jernih.

“Sama saja pak, apa yang dikatakan pak Supandi itu. Yang terpenting bagi saya adalah saling menjaga kurunan warga dan kalau keinginan mereka tetap seperti itu biarkan berjalan, tapi saya juga tetap akan bertahan,” kata Sutoyo yang diamini rekan-rekannya seraya mengatakan semoga pihak perkebunan segera melakukan tindakan.

Sementara itu, Suji Susanto, mandor perkebunan PT Indoco yang juga koordinator aksi pematokan lahan HGU itu bukan berarti tidak memiliki alasan. Sebab, menurutnya, karyawan perkebunan yang sudah cukup lama itu malah tidak memiliki lahan pertanian, namun justru disewakan PT Indoco kepada pihak lain. Untuk itu, dirinya sangat berharap pada PT Indoco untuk lebih ngutamakan kesejahteraan karyawannya.

“Masalah lahan Indoco yang tidak dimanfaatkan Indoco dan yang disewakan PT Indoco itu diminta masyarakat buat lahan pertanian. Soalnya, orang sini dan bagian karyawan kok malah tidak memiliki lahan perkebunan dan malah justru disewakan orang lain. Jadi, karyawan itu malah tidak dikasih lahan dan mungkin orang sini dianggap tidak punya uang,” jelas Suji Susanto saat dihubungi cahaybaru.id di kediamannya, kemarin.

Dan, lanjut pria yang akrap dipanggil Suji Kemin ini, sejak tahun 1971 ia sudah bekerja di PT Indoco, akan tetapi dirinya menganggap tidak ada kesejahteraan yang meningkat dan bahkan hanya jalan ditempat. Ketidakpeduliannya PT Indoco pada dirinya serta rekan lainnya itu, akhirnya memiliki niatan menguasai lahan HGU tersebut.

“Saya ini sejak tahun 1971 hingga sekarang menjadi karyawan di PT Indoco, tidak ada kesejahteraan yang meningkatkan dan masalah upah itupun hanya jalan ditempat saja,” kata Suji sembari mempersilahkan cahayabaru.id agar minum kopi yang sudah dihidangkan istrinya itu.

Disinggung soal pematokan yang dilakukannya bersama puluhan warga lainnya itu, Suji mengaku bahwa semua itu ia lakukan ada pihak yang menyuruh. Bahkan, menurutnya, penyuruh tersebut siap menanggung segala sesuatunya apabila ada sesuatu yang menimpa pada puluhan pematok lahan HGU tersebut. “Jadi begini, teman-teman semua berani mematok lahan itu ada yang menyuruh dan beliaunya akan mendukung sepenuhnya pada sesuatu yang terjadi,” ujar Suji seraya mengatakan kalau yang menyuruh itu bernama ‘Puguh’.

Dihubungi secara terpisah, Mugiono, Kepala Wilayah Ngantup, yakni apa yang disampaikan Suji Susanto itu menurutnya tidak benar. Sebab, dari 11 mandor perkebunan tersebut juga sudah diberi lahan oleh PT Indoco. Bahkan, lahan yang dikelola para mandor itu juga tidak dipungut biaya.

“Tidak benar itu pak. Padahal, para mandor perkebunan itu sudah diberi lahan untuk dikelola sendiri dengan tanpa dipungut uang sewa,” kata Mugiono sembari mengatakan kalau para mandor itu per bulannya juga mendapat gaji sebesar Rp 1,5 juta dari PT Indoco.(rul)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *