CB, Tulungagung –Isu terkait klaim makam dan pencurian warisan budaya Indonesia oleh negara asing semakin mencuat. Banyak makam dan situs budaya yang diklaim oleh pihak luar, meskipun informasi yang akurat tentang hal ini masih terbatas.
Karena kejadian serupa telah berulang kali terjadi, tidak menutup kemungkinan bahwa hal ini akan terus berlanjut di masa depan. Oleh karena itu, seluruh pemangku kepentingan harus mulai berpikir untuk menangani masalah ini dengan pendekatan yang tuntas, bukan hanya secara parsial.
Upaya ini diharapkan dapat mendorong bangsa Indonesia untuk menyelesaikan persoalan tersebut dengan cara yang sistematis dan komprehensif, bukan dengan reaksi spontan yang tanpa arah yang jelas.
Untuk melestarikan dan menjaga warisan budaya Nusantara, Kasepuhan Mardikan Majan di Tulungagung menggelar Ruwatan Agung Perjuangan Wali Songo. Acara ini juga bertujuan untuk membuka kembali perjuangan Wali Songo, khususnya di wilayah Mataraman.
“Tujuan utama acara ini adalah untuk mempertahankan sejarah Nusantara, menjaga peran kyai-kyai kampung, serta melestarikan situs-situs sejarah yang ada di wilayah Mataraman,” ujar Raden Ali Sodik saat memberikan sambutan di sela-sela acara, Minggu (10/11).
Acara tersebut juga dihadiri oleh Ketua PWIS Pusat, Dr. K.H. Mohammad Abas B. AI Husani Ba, dan sekaligus menjadi momen pelantikan pengurus daerah Perjuangan Wali Songo Indonesia Laskar Sabillillah, khususnya untuk wilayah Mataraman.
“Pelantikan pengurus daerah Perjuangan Wali Songo Indonesia Laskar Sabillillah kali ini mencakup Kabupaten Tulungagung, Kediri, Nganjuk, Blitar, dan Trenggalek,” jelas Gus Ali.
(tim)
