CB, MALANG – Sejak biaya inseminasi buatan (IB) digratiskan dua tahun lalu, peternak sapi di Desa Wonoayu Kecamatan Wajak Kabupaten Malang, lebih semangat lagi melakukan IB pada sapi betina mereka. Selain gratis, pedet yang dihasilkan lewat proses IB, kualitasnya lebih bagus. Sehingga harga jualnya lebih mahal ketimbang pedet yang lahir dari hasil perkawinan alam.
Pedet (anak sapi) dari hasil IB yang berusia 6 bulan sampai 8 bulan bisa laku dijual dengan kisaran harga Rp 8,5 juta hingga Rp 14 juta. Seperti Sapi milik Saidi salah satu peternak di Wonoayu mengaku pedet miliknya yang berumur 6 bulan laku dijual dengan harga Rp 14 juta.
Pelecut semangat lainnya yang membuat para peternak Wonoayu lebih bergairah melakukan IB karena sejak tahun kemarin biaya IB digratiskan oleh Pemrov Jatim. Dulu setiap kali melakukan IB, peternak harus mengeluarkan biaya Rp 50 ribu hingga Rp 75 ribu. Biaya sebesar itu cukup memberatkan para peternak. Karena mereka bukanlah peternak besar. Peternak sapi di Wonoayu rata-rata hanya memiliki 1 ekor hingga 3 ekor sapi. Sehingga pembebasan biaya IB sangat membantu mereka. Apalagi setiap tindakan IB belum tentu berhasil membuntingkan sapi betina. Bila gagal pada IB pertama terpaksa harus diulang dan tentunya mengeluarkan biaya lagi.
Sukses IB menaikan populasi sapi baik sapi potong maupun sapi perah, membuat para peternak sapi di Wonoayu dan juga desa-desa lain yang merupakan daerah penghasil sapi di Malang, lebih senang menernak sapi betina daripada sapi jantan. Alasannya karena sapi betina selain bisa dipotong juga bisa dijadikan induk yang nantinya bisa melahirkan pedet.
Wina Kepala Desa Wonoayu mengatakan, saat ini di desanya jumlah sapi betina ada 686 ekor sementara sapi jantan hanya 147 ekor. Dan jumlah sapi yang ada di semua desa di Kecamatan Wajak, total ada 17.687 ekor dengan rincian sapi betina ada 9.217 ekor dan sapi jantan 8.470 ekor
Inseminasi buatan yang kini lebih berperan menggantikan sapi jantan diakui memberi sumbangan besar terhadap meningkatnya pendapatan daerah Kabupaten Malang. Seperti yang diutarakan Rendra Krisna Bupati Malang. Pada tahun 2017 pendapatan daerah yang disumbangkan oleh sapi potong sebesar Rp 510 miliar. Jumlah itu didapat dari penjualan 60 ribu ekor pedet.
Inseminasi buatan sebenarnya sudah mulai ada di Indonesia sejak tahun 1974. Hanya saja penggunaan IB mulai ditingkatkan penggunaannya sepuluh tahun terahir. Terutama dua tahun terahir sejak UPSUS SIWAB diluncurkan tahun 2017.
Sukses IB mendongkrak populasi sapi di Malang dan Jatim secara keseluruhan tidak lain berkat tersedianya semen (sperma beku) yang diproduksi oleh BBIB (Balai Benih Inseminasi Buatan) di Singosari. Sperma beku ini diambil dari sperma sapi jantan unggulan. Pada tahun 2017 jumlah stok sperma beku ini ada 3,9 juta dosis. Bahkan karena stoknya melimpah sperma beku dari BBIB Singosari ini dikirim untuk memenuhi permintaan negara-negara lain seperti Kamboja, Malaysia dan Timor Leste.
Namun dengan semakin luas dan banyaknya kegiatan IB, stok sperma beku akan diprioritaskan untuk kepentingan Nasioal. Kabupaten Malang saja kebutuhan sperma beku akan terus meningkat. Karena memang kegiatan IB terus meningkat seiring semakin banyaknya jumlah sapi betina yang akan di IB.
Iswahyudi Kepala UPT Inseminasi Buatan Dinas Peternakan Jatim, menyebutkan setiap kali tindakan IB membutuhkan dua dosis sperma beku. Jika pada tahun 2017 jumlah sapi di Kabupaten Malang ada 234.482 ekor dan dari jumlah itu sesuai data dari Pemkab Malang ada sekitar 97.654 ekor sapi betina produktif yang di IB, paling sedikit membutuhkan sekitar 250 ribu dosis sperma beku. Dengan perhitungan setiap satu kali IB membutuhkan dua dosis. Serta cadangan untuk tindakan IB yang gagal dan harus diulang.
Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jatim Wemmi Niamawati, mengatakan Pemrov Jatim optimis daerah daerah penghasil sapi potong yang ada di Jatim mampu meningkatkan populasi ternak sapi. Dia menambahkan program UPSUS SIWAB (Program Khusus Sapi Induk Wajib Bunting) banyak memberikan kemudahan para peternak untuk menaikan jumlah sapi peternak. Dia menyebut keberhasilan Provinsi Jatim berhasil menaikan populasi sapi, diantaranya Provinsi Jatim berhasil melakukan optimalisasi semua akseptor (sapi betina yang akan dibuntingkan) maupun calon akseptor baru untuk segera dilakukan IB. Juga melakukan penanganan ternak yang mengalami gangguan reproduksi sehingga bisa menambah potensi ternak baru yang bisa di IB.
Sampai tahun 2017, subangan IB untuk keberhasilan menaikan populasi sapi di Jatim, menurut Wemmi cukup signifikan. Dia memberi data dari 1.226.042 ekor sapi bunting 90 persen diantaranya yaitu sebanyak 1.050.042 lahir. Menurut Wemmi jika jumlah pedet sebanyak itu dijual dengan harga rata-rata 7,5 juta maka pendapatan peternak dari hasil IB untuk seluruh Jawa Timur sebesar 7,6 triliun. Suatu jumlah yang tidak sedikit.
Soal program UPSUS SIWAB, yang kini menjadi program andalan nasional untuk menaikan populasi sapi, Wemmi sedikit mempromosikan gubernurnya yaitu Soekarwo yang akrab dipanggil Pakde Karwo. Menurut Wemmi UPSUS SIWAB, awalnya lahir dari gagasan Pakde Karwo. Ceritanya pada tahun 2016 sewaktu ada kunjungan menteri pertanian di Lamongan saat acara melihat kelahiran pedet Pakde mengusulkan agar ada upaya lebih intiensif lagi untuk menaikan jumlah kelahiran pedet. Gagasan itu kemudian direalisasikan oleh pemerintah pusat dengan mengeluarkan program UPSUS SIWAB tahun 2017.
UPSUS SIWAB memang diharapkan mampu memberi hasil optimal meningkatkan populasi sapi potong di tanah air. Karena memang kebutuhan daging Nasional kita terus meningkat, Tahun 2015 kebutuhan daging Nasional per kapita pertahun sebanyak 2,2 kg. 2016 naik jadi 2,6 kg per kapita dan 2017 naik 2,9 kg per kapita.
Produksi daging kita secara nasional sebesar 531.757 Ton dan 19 persen diantaranya berasal dari Jawa Timur
Sumbangan daging dari Jawa Timur untuk kepentingan nasional terus meningkat, seiring dengan peningkatan populasi sapi potong di Jatim. Data dari Disnak Jatim populasi ternak Jatim khususnya sapi terus meningkat. Pada tahun 2015 ada 4.267.326 ekor, 2016 naik menjadi 4.407.807 ekor dan 2017 naik lagi yaitu 4.573.843 ekor.
Dan pada tahun 2018 ini produksi sapi potong Jatim akan naik lagi. Tentu saja masih mengandalkan suplai dari daerah-daerah penghasil sapi di Jawa Timur seperti Kabupaten Malang.(prayit)
