CB, Sumenep – Merupakan kebanggaan tersendiri menjadi kelaziman masyarakat Sumenep setiap tahun setelah melaksanakan puasa Bulan Ramadhan serentak umat Islam mekaksanakan hari raya idul fitri. Kemudian sehari sesudahnya umat Islam disunnahkan melaksakan puasa dibulan syawal selama 1minggu. Diakhir puasanya selama seminggu umat Islam di Kabupaten Sumenep sudah menjadi tradisi turun temurun merayakan hari kupatan yang ngetop disebut tellasan topak. Dalam artian masyarakat Sumenep dihari itu membuat ketupat untuk dijadikan hidangan bagi para tamu atau para tetangga yang dikemas menjadi soto ayam, ketupat degan nasi dan lain lain. Disisi lain ada yang mendatangi tempat tempat wisata. Ada ke Pantai Slopeng, Lombang, dan lain sebagainya.
Dalam mengapresiasikan kepada masyarakat Sumenep agar tradisi ini dilestarikan, maka Pemkab Sumenep menggelar lomba membuat orong atau pembungkus ketupat pada hari Sabtu, (23/06) di pantai Lombang Kecamatan Batangbatang, Hadir saat itu Bupati Sumenep DR.KH. A.Busyro Karim M.si didampingi Ibu Nurfitriana Busyro karim, juga Wabub Achmad Fauzi, forpinda, organisasi perangkat daerah (OPD), para Camat, Kepala sekolah dan Dewan guru.
Dalam sambutannya Bupati Sumenep ketika membuka acara festival membuat orong ketupat mengatakan, “Budaya ketupat harus dilestarikan karena merupakan suatu peniggalan nenek moyang, apalagi jaman sekarang sudah banyak anak muda yang tidak tahu membuat orong ketupat.” pungkasnya.
Dalam kegiatan festival tersebut ada 2 opsi yang dilombakan, yaitu : lomba menu ketupat dan lomba membuat orong ketupat. Tampaknya diikuti oleh para 0PD kabupaten Sumenep, Lembaga pendidikan tingkat SMA dikabupaten Sumenep dan masyarakat Sumenep.
Kemudian ditegaskan oleh Bupati Sumenep bahwa penggiat pertama kupatan adalah Sunan Kali jogo, dimana kupatan memiliki beberapa makna yaitu, ngaku lepat dan laku papat.
Ngaku lepat adalah mengakui semua kesalahan dan meminta maaf juga saling memaafkan, sedangkan laku papat adalah empat tindakan yakni lebaran, lubaran, leburan, laburan.
Acara festival ini tiap tahun akan diadakan agar budaya ini menjadi peninggalan nenek moyang menjadi lestari. Dan tidak tergusur dengan budaya modernisasi. Selain itu dengan diadakan festival semacam ini objek wisata yang ada di Sumenep dapat ditingkatkan, sementara dengan tahun kunjungan Sumenep 2018 visit wisata akan meningkatkan dan melestarikan khasanah budaya serta menarik peningkatan minat para wisatawan lokal mau pun Mancanegara untu berkunjung ke tempat tempat wisata yang ada di Sumenep ini, begitulah tutur Bupati Busyro. Pastinya peningkatan wisatawan yang berkunjung di tempat-tempat objek wisata di kabupaten Sumenep juga akan berdampak pada perekonomiam masyarakat Sumenep.(nay)
