CB, KEDIRI – Wakil Gubernur Jawa Timur, Drs. H. Saifullah Yusuf menghadiri Haul Almarhum KH. Munif Djazuli ke 7 dan Almarhumah Nyai Hj. Ummi Baroroh di PP. Queen Al Falah Kediri, Sabtu (10/11) malam.
Kehadirannya di acara Haul tersebut disambut ribuan santri. Saat menyampaikan sambutan, Wagub Jatim yang biasa disapa Gus Ipul itu menyampaikan kepada majelis haul yang hadir, bahwa meskipun KH. Munif Djazuli telah wafat sejak tujuh tahun yang lalu, tetapi keberadaannya masih ada dan masih diingat.
Hal tersebut dapat terjadi karena dalam kehidupannya selalu memberikan nasihat-nasihat dan mengajarkan ilmu-ilmu kehidupan sesuai dengan akidah Agama Islam. Sehingga keberadaannya selalu dirindukan.
“Itulah kelebihan para ulama, kiai dan para guru, walaupun telah tiada tetapi masih tetap dirindukan,” ungkapnya.
Bahkan, dari tahun ke tahun, acara haul KH. Munif Djazuli selalu dibanjiri banyak warga dan santri yang ingin mendoakan dan merindukannya.
“Mudah-Mudahan, bila kita kelak telah meninggal dunia masih banyak yang mengingat dan merindukan kita sebagaimana yang dilakukan oleh para kiai, ulama dan guru,” ujarnya.
Sebelum mengakhiri sambutannya, Gus Ipul menyampaikan permintaan maaf jika selama dalam kepemimpinannya sebagai wakil gubernur belum bisa merealisasikan keinginan para ulama yaitu memperjuangkan kepentingan umat. Mengenal KH. Munif Djazuli
- Munif Djazuli yang kesehariannya dipanggil Gus Munif adalah pengasuh PP. Queen Al Falah Kediri. Gus Munif meninggal dunia pada Senin, 30 Januari 2012. Merupakan putra kelima KH. Djazuli Usman, pendiri PP. Al-Falah Ploso Kediri.
Dikenal memiliki keseriusan dalam melakukan syiar agama, salah satunya membesarkan PP. Queen Al Falah. Santri dididik kesederhanaan dan keikhlasan di dalam hatinya, yang akan menumbuhkan keberanian untuk hidup, kepercayaan pada diri sendiri serta kejujuran. Sifat-sifat tersebut sangat diperlukan dan dihargai masyarakat.
Meski demikian, Gus Munif juga tidak mengesampingkan modernisasi termasuk di dunia ilmu pengetahuan. Di PP Queen Al Falah, semua santri diberi kebebasan untuk belajar ilmu umum, seperti halnya SMP, SMU dan sederajat lainnya. Santri juga dididik untuk bertanggungjawab pada diri sendiri, keluarga juga masyarakat luas. (yit).
